Taman Budaya Yogyakarta (TBY) memulai rangkaian Pentas Rebon tahun 2026 pada bulan April ini dengan mencatatkan antusiasme penonton yang tinggi. Seluruh kuota reservasi daring untuk kursi di dalam gedung dilaporkan habis dipesan hanya dalam waktu dua jam.
Kepala UPT TBY, Purwiati, menjelaskan bahwa sistem reservasi daring yang baru diterapkan tahun ini mendapatkan respon cepat dari masyarakat, terutama kalangan muda. Kapasitas utama di dalam Concert Hall telah terisi penuh tak lama setelah pendaftaran dibuka.
"Begitu kita share untuk reservasi secara online dan itu orangnya sudah sold out penuh begitu. War tiketnya itu 2 jam. 2 jam sudah selesai," ujar Purwiati saat ditemui Pandangan Jogja di Kompleks TBY, Rabu (22/4).
Pentas Rebon sendiri merupakan pertunjukan rutin tahunan milik TBY yang memiliki kekhasan pada waktu penyelenggaraannya, yakni setiap hari Rabu Wage. Event yang sudah konsisten berjalan selama kurang lebih satu dekade ini menjadi panggung bagi tiga pilar seni pertunjukan: teater, ketoprak, dan komedi (dagelan).
Kebijakan Inklusif bagi Penonton Lansia
Meskipun menerapkan sistem digital, TBY tetap memberikan akses bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan teknologi, khususnya kelompok lansia. Pihak pengelola menyediakan kuota khusus sekitar 50 kursi yang dapat diakses secara manual.
"Kita juga memberikan ruang untuk orang-orang tua gitu sing gagal paham nek nganggo reservasi dan sebagainya untuk tidak bisa ditolak gitu. Kemarin kita enggak boleh saklek-saklek begitu karena kegiatan sudah di apresiasi ini kan kita sudah sangat bersyukur ya," jelas Purwiati.
Penonton dalam kategori ini cukup menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk mendapatkan akses masuk.
Strategi Relevansi Materi dan Gen Z
Mengenai tren penonton yang kini didominasi oleh Generasi Z, Purwiati menilai hal tersebut berkaitan dengan eksplorasi materi yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini agar tetap menarik bagi penikmat baru tanpa merusak fondasi tradisi.
"Jadi materi-materi yang dibawakan itu kan kekinian, apa yang ada di masyarakat, apa yang menjadi boomingnya masyarakat itu yang diangkat gitu. Walaupun secara akarnya, secara akar kuatnya itu masih tetap, tapi secara pengemasan nah ini harus mengikuti tren yang ada di sekarang," ungkapnya.
Momen Temu Karya Nasional
Penyelenggaraan Pentas Rebon edisi April ini terasa spesial karena bertepatan dengan agenda TBY menjadi tuan rumah Pekan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia yang dihadiri perwakilan dari 15 provinsi.
“Dilalah (kebetulan) momennya ada pentas Rebon, kemudian ini juga ada temu karya Taman Budaya, maka sekalian. Jadi ini menjadi satu edisi yang spesial menurut kami. Kami pengin sharing pengelolaan begitu," kata Purwiati.
Pementasan yang melibatkan sedikitnya 120 seniman ini diharapkan terus memberikan ruang kreasi terkait pengembangan seni budaya di Yogyakarta.
Meskipun terdapat penyesuaian jumlah pementasan dibandingkan tahun sebelumnya. Ia merinci jadwal untuk tahun 2026 ini jatuh pada bulan April, Juni, dan edisi terakhir di bulan September atau Oktober.
"Kalau untuk penyelenggaraan tahun ini tiga kali, kalau tahun kemarin masih lima kali," kata Purwiati.





