Kisah Kuli Panggul di Kudus Menabung 13 Tahun: Dari Ampas Tahu ke Tanah Suci

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Suharman memanggul karung berisi barang dagangan di Pasar Kliwon, Kudus, Rabu (22/4). Keringat membasahi bajunya saat ia mondar-mandir mengangkut sandal, pakaian, hingga kain konveksi milik pedagang.

Meski begitu, dia tetap tampak bersemangat setiap mendapatkan order dari pedagang di pasar. Terkadang ia menggunakan troli untuk meletakkan barang berukuran lebih dari 100 kilogram. Sedangkan barang yang beratnya di bawah 100 kilogram ia angkat dengan cara dipanggul di bahunya.

Di balik pekerjaannya sebagai kuli panggul dengan penghasilan tak menentu, pria 52 tahun itu begitu bersyukur karena perjalanan terbesar dalam hidupnya, berangkat haji ke Tanah Suci bersama sang istri bakal segera terwujud.

Warga Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu menabung selama 13 tahun dari hasil bekerja sebagai kuli panggul di pasar demi bisa berangkat ke Makkah bersama istrinya, Emy Setiowati (46).

Keduanya tergabung di kloter 43 Embarkasi Solo. Mereka merupakan jemaah dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Annur Kudus.

Kloter 43 dijadwalkan berangkat dari Pendapa Kabupaten Kudus pada Selasa (5/6) pukul 00.15 WIB. Kloter ini berisi 354 jemaah.

Dari Ampas Tahu ke Tanah Suci

Pria dua anak itu sudah menabung sejak 2013 untuk berangkat ke Tanah Suci. Pada 2013, ia mendaftarkan diri untuk berhaji bersama istrinya. Setiap harinya ia menyisihkan Rp 20 ribu untuk niat berangkat haji.

Cara menabungnya bukan berupa uang Rp 20 ribu lalu disimpan di kaleng. Melainkan, uang Rp 20 ribu dari hasil menjadi kuli panggul itu ia gunakan untuk membeli ampas tahu.

Ampas tahu itu dibelinya untuk memberi makan 13 ekor kambing di rumahnya. Ketika kambingnya sudah besar, Suharman menjualnya. Kemudian, uang hasil penjualan kambing ia tabung untuk biaya berhaji.

Ia sudah memiliki kambing sejak 1999. Kambing yang dibelinya itu hasil keringat dari memanggul karung di pasar yang dijalaninya sejak 2010. Hasil menjual kambing inilah yang mampu mengantarkannya ke Tanah Suci.

"Uang Rp 20 ribu saya gunakan untuk membeli ampas tahu sebagai pakan kambing. Setelah kambing saya besar dan layak jual saya jual. Uang hasil jualan kambing itulah yang saya tabung di bank untuk berangkat haji," katanya, Rabu (22/4).

Ia membeli kambing yang masih anakan atau disebut cempe. Lalu, ia rawat dan diberi makan ampas tahu dan rumput sampai besar. Setelah itu dijual untuk tabungan berangkat haji.

Selama 13 tahun menabung Rp 20 ribu per hari, Suharman beserta istrinya berkomitmen untuk tidak mengambil tabungan haji tersebut. Sehingga, tabungan untuk berangkat haji tetap utuh atau tidak berkurang.

"Kalau makan sehari-hari ya seadanya apa yang ada dimakan. Kalau ada uang lebih ya makan enak. Kalau pas uang lagi sedikit ya seadanya dulu. Hal terpenting ada uang buat nabung biaya haji," terangnya.

Ia sadar penghasilannya sebagai kuli panggul tidak banyak. Apabila barang yang harus diangkut banyak, ia mampu membawa pulang Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu sejak pagi hingga siang hari.

Namun, kalau sedang sepi, ia hanya membawa pulang uang sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 80 ribu. Kondisi pasar yang mulai sepi berpengaruh pada penghasilannya. Terlebih pasar konvensional kini mulai tergerus oleh penjualan online.

Sepengetahuan Suharman, pasar mulai ramai hanya saat bulan Ramadan dan Lebaran Idul Fitri. Selebihnya tak terlalu ramai. Imbasnya, jumlah barang yang diangkutnya juga tak terlalu banyak.

Menabung Rp 20 ribu setiap hari baginya bukan persoalan mudah. Terlebih penghasilannya setiap hari tak menentu. Namun, ia selalu bersemangat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Terlebih keinginan untuk menunaikan ibadah haji sudah ada sejak lama.

"Alhamdulillah pembayaran biaya haji sudah lunas hasil jual 13 ekor kambing saya saat lebaran Idul Fitri beberapa waktu lalu," ujarnya.

Ia masih bekerja sebagai kuli panggul hari ini di Pasar Kliwon. Penghasilannya rencananya digunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari. Sedangkan sisa tabungan yang ada hendak digunakan sebagai uang saku saat berangkat berhaji.

Kendati penghasilannya terkadang tak menentu, ia tetap bersyukur. Sebenarnya, Suharman bisa saja bekerja sampai sore agar mendapatkan penghasilan yang lebih. Akan tetapi, ia memilih bekerja dari pagi sampai siang hari saja. Ia mengaku tak mau terlalu mengejar uang semata.

"Saya harus membagi waktu untuk ngarit mencari rumput untuk kambing saya. Selain itu saya juga harus membagi waktu untuk ibadah dan mengaji Al-Qur'an," jelasnya.

Suharman selalu percaya semua yang digariskan sebagai rezeki akan selalu datang di waktu yang tepat. Salah satu contohnya, pada 2025 silam, kambing milik tetangganya banyak yang mati karena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Namun, ia bersyukur dari 13 ekor kambingnya, hanya 5 ekor yang terjangkit PMK. Kelimanya berangsur sehat usai diobati tanpa ada yang mati.

"Kalau sampai 13 ekor saya mati, mungkin keberangkatan haji saya mundur karena saya tidak bisa melunasi biaya haji. Alhamdulillah kok semuanya sehat dan hasil jualan kambing bisa untuk melunasi biaya haji," ungkapnya.

Kini ia mulai bersiap untuk berangkat menunaikan ibadah haji. Persiapannya lebih kepada menjaga kesehatan dan pola makan agar diberi kelancaran hingga keberangkatan ke Tanah Suci.

"Semoga saya dan istri dilancarkan selama menunaikan ibadah haji dan bisa menjadi haji yang mabrur. Kami juga mendoakan supaya anak-anak besok bisa menyusul berhaji," imbuhnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kepala BGN: 27 Ribu SPPG Telah Dibangun dalam Waktu Satu Tahun 4 Bulan
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Cuaca Hari Ini: Jakbar, Jaktim, Jaksel Diprediksi Hujan Ringan
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Pihak Nikita Mirzani Kecewa, Sidang PMH Lawan Reza Gladys Ditunda
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Panduan Lengkap Cek SLIK OJK Online dan Cara Bijak Melunasi Utang Pinjol
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju Tinggal Menghitung Hari Lagi, Ahmad Dhani Bocorkan Tanggal Pengajian
• 4 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.