FAJAR, MAKASSAR — Tekanan kini benar-benar mencapai puncaknya bagi PSM Makassar. Jelang laga kontra Persik Kediri pada pekan ke-29 Super League 2025/2026, situasinya sederhana namun brutal: imbang terasa seperti kalah, dan kemenangan menjadi satu-satunya jalan untuk bertahan.
PSM saat ini berada di posisi yang sangat rawan. Dengan koleksi 28 poin, mereka terjebak di papan bawah, hanya unggul tipis dari Persis Solo dan juga dalam tekanan dari Madura United yang mengintai di zona degradasi. Selisih poin yang sangat tipis membuat setiap pertandingan menjadi penentu nasib.
Dalam konteks ini, duel melawan Persik bukan sekadar laga biasa. Ini adalah pertaruhan eksistensi. Jika menang, PSM bisa naik ke posisi lebih aman dengan 31 poin dan memperkecil jarak dari Persik yang kini mengoleksi 33 poin. Namun jika gagal menang, tekanan akan berlipat ganda—baik secara matematis maupun psikologis.
Penyerang sayap PSM, Sheriddin Boboev, menyadari betul pentingnya laga ini. Ia menegaskan bahwa tim sudah melakukan persiapan maksimal dan siap memberikan segalanya di lapangan.
“Kita bekerja memaksimalkan. Saya pikir laga besok cukup penting, kita akan berusaha memberikan segalanya, tiga poin,” katanya.
Pernyataan itu bukan sekadar formalitas. Dalam situasi seperti sekarang, setiap kata mencerminkan urgensi. Boboev bahkan menegaskan komitmennya untuk membantu tim keluar dari tekanan, dengan keyakinan yang dibalut pengalaman.
“Saya tahu tugas saya membantu klub. InsyaAllah kita bisa keluar dari situasi sulit ini. Saya sudah punya pengalaman sebelumnya di situasi seperti ini,” ucapnya.
Yang menarik, Boboev justru melihat tekanan sebagai bahan bakar, bukan beban. Dalam sepak bola, tidak semua pemain mampu mengubah tekanan menjadi motivasi. Namun bagi dirinya, kondisi ini adalah kesempatan untuk menunjukkan karakter.
“Ini hanya membuat kita jauh lebih kuat secara emosi dan bagaimana lebih baik handle pressure, ambil tanggungjawab dari tugas-tugas kita,” sebutnya.
Optimisme itu tentu penting, tetapi realitas di lapangan tetap keras. Persik Kediri datang bukan sebagai tim yang mudah dikalahkan. Mereka sedang dalam tren positif setelah meraih kemenangan atas Persita Tangerang, dan saat ini berada di posisi ke-12 klasemen. Artinya, mereka juga punya motivasi untuk menjauh dari zona berbahaya.
Lebih dari itu, catatan pertemuan kedua tim menunjukkan bahwa duel ini hampir selalu berlangsung ketat. Dalam lima pertemuan terakhir, empat laga berakhir imbang dan satu dimenangkan Persik. Statistik ini menjadi sinyal bahwa laga nanti kemungkinan besar kembali berjalan alot.
Asisten pelatih PSM, Ahmad Amiruddin, bahkan secara tegas menyebut bahwa faktor mental akan menjadi pembeda utama dalam pertandingan ini.
“Saya sudah ingatkan pemain bahwa di laga besok jadi pembeda adalah mentalitas kalian,” sebutnya.
Ia menekankan bahwa di tengah situasi sulit seperti sekarang, kualitas teknis saja tidak cukup. Yang menentukan adalah bagaimana pemain merespons tekanan, menjaga fokus, dan tetap disiplin sepanjang pertandingan.
“Di masa sulit seperti ini, mental menentukan seberapa jauh kita melangkah, seberapa bagus kita capai, itu tergantung mentalitas kita sebagai individu maupun sebagai satu tim.”
Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi internal tim yang sedang diuji. PSM tidak hanya bertarung melawan lawan di lapangan, tetapi juga melawan rasa takut, keraguan, dan tekanan dari situasi klasemen.
Dukungan suporter pun diharapkan kembali menjadi energi tambahan. Pada laga sebelumnya, ribuan pendukung memadati Stadion BJ Habibie, menciptakan atmosfer yang luar biasa. Boboev berharap hal serupa kembali terjadi.
“Laga sebelumnya, dukugan diberikan suporter luar biasa. Untuk laga besok akan tetap sama. Ayo (suporter) bantu kita, berada di samping kita, laga besok memenangkan pertandingan,” ucapnya.
Pada akhirnya, laga ini akan menjadi cerminan dari karakter PSM Makassar. Apakah mereka mampu bangkit dan menunjukkan mentalitas bertahan hidup, atau justru semakin tertekan dan terperosok ke zona degradasi.
Dalam situasi seperti ini, tidak ada ruang untuk kompromi. Sepak bola sering kali kejam, dan bagi PSM, satu hasil imbang saja bisa terasa seperti kekalahan. Karena itu, satu hal menjadi jelas: menang bukan lagi target—melainkan keharusan.





