EDGE Bidik Data Center 1 GW di Tengah Rencana Delisting dari BEI

katadata.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

PT Indointernet Tbk (EDGE) mengungkap arah ekspansi bisnis sampai membidik kapasitas data center hingga satu gigawatt (GW). Chief Executive Officer (CEO) Indonet, Donauly Situmorang, mengatakan EDGE tengah mengembangkan hyperscale data center campus di kawasan industri GIIC, dengan kapasitas awal 500 megawatt (MW) dan kenaikan hingga 1 gigawatt (GW). 

Donauly menyebut aksi ini demi menangkap permintaan jangka panjang dari kebutuhan hyperscale dan beban kerja berbasis AI. Secara operasional, EDGE terus menjalankan strategi ekspansi dengan memperluas jaringan fiber, termasuk pengembangan infrastruktur bawah tanah yang menghubungkan pusat kota Jakarta dengan klaster data center di kawasan industri Bekasi, Cibitung, dan Karawang.

Secara paralel, Indonet juga mengembangkan infrastruktur fiber untuk memperkuat konektivitas antar data center di wilayah Jakarta. Pada sisi data center melalui Digital Edge Indonesia, EDGE1 telah terkontrak penuh, sementara EDGE2 mencapai sekitar 70% kapasitas terkontrak hingga akhir FY2025.

“2025 menjadi tahun yang kuat bagi Indonet, di mana kami berhasil menerjemahkan pertumbuhan kebutuhan digital menjadi kinerja yang nyata di bisnis jaringan dan data center,” kata Donauly dalam keterangannya, Rabu (22/4). 

Di samping itu Sales & Marketing Director Indonet, Yudie Haryanto, mengatakan ekspansi tersebut akan fokus pada pembangunan jaringan backbone yang padat dan andal. Hal itu sekaligus memastikan platform data center yang akan mendukung kebutuhan hyperscale dan teknologi generasi berikutnya.

"Ke depannya, EDGE berfokus memperkuat diri sebagai penggerak utama dalam ekosistem digital Indonesia melalui investasi berkelanjutan, yaitu pada konektivitas berkapasitas tinggi dan infrastruktur data center berstandar internasional,” ucapnya. 

Rencana Delisting EDGE

EDGE juga mengumumkan rencana untuk melakukan delisting secara sukarela dari Bursa Efek Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mendorong integrasi yang lebih lancar antar-entitas dalam grup. 

Rencana itu juga demi menyederhanakan proses pengambilan keputusan, mendukung pelaksanaan rencana investasi jangka panjang dan realignment strategis yang lebih optimal dibandingkan dengan kerangka regulasi sebagai perusahaan terbuka.

Manajemen EDGE menetapkan harga penawaran tender sukarela sebesar Rp 11.500 per saham. Harga tersebut premium  141,2% dibandingkan rata-rata harga tertinggi harian dalam 90 hari terakhir sebelum pengumuman RUPSLB, yakni Rp 4.768 per saham.

Penawaran tender tersebut akan dilakukan oleh Digital Edge (Hong Kong) Ltd (DE) dengan jumlah maksimal 159,59 juta saham atau setara 7,90% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Manajemen menyatakan dana untuk aksi korporasi ini berasal dari kas internal dan atau sumber pendanaan lain yang sesuai ketentuan. 

“Sehubungan dengan hal ini, dana yang digunakan oleh DE untuk melaksanakan kewajiban pembayaran dalam penawaran tender sukarela akan berasal dari sumber dana internal dan/atau sumber pendanaan lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,”  tulis manajemen EDGE dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip (20/4).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kerawanan Selat Malaka dan Kontingensi Konflik Asimetris di Kawasan
• 18 jam laludetik.com
thumb
Swasembada Pangan Dipertanyakan, Pemerintah Paparkan Data Produksi hingga Stok Beras
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Kisah Inspiratif Pedagang Kangkung Sejak 1963 yang Akhirnya Berangkat Haji Tahun Ini
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Kasus Suap Bupati Rejang Lebong Nonaktif, Wakil Ketua DPD PAN Ikut Dipanggil KPK
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
5 Terdakwa Kasus Korupsi Minyak Mentah Dituntut 6-12 Tahun Penjara
• 17 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.