Perang AS-Iran Bikin Dunia Pusing, Warga Ramai Nyolong Bensin

cnbcindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita
Foto: Krisis bahan bakar minyak (BBM) di Inggris. (AP/Jon Super)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang kejahatan yang meliputi bahan bakar mintak kini tengah menyapu stasiun pengisian bahan bakar di seluruh Inggris dan Amerika Serikat (AS). Fenomena ini terjadi seiring meledaknya perang antara AS-Israel melawan Iran yang memicu lonjakan tajam harga minyak dan gas di seluruh dunia pada Rabu, (22/04/2026).

Krisis ini sebagian besar dipicu oleh penutupan de-facto Selat Hormuz, sebuah titik jalur pelayaran kritis yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia. Situasi semakin diperburuk oleh serangan balasan Iran terhadap infrastruktur energi di Teluk, meskipun serangan tersebut saat ini telah dihentikan sebagai bagian dari gencatan senjata sementara antara AS dan Iran, mengutip laporan media dan lembaga pengawas industri melalui Russia Today.

Harga bensin di Inggris telah melonjak rata-rata menjadi lebih dari 1,58 pound (Rp31.815) per liter, naik dari sebelumnya 1,33 pound sebelum perang pecah, menurut laporan Royal Automobile Club. Kenaikan harga tersebut mendorong peningkatan kasus pencurian dengan modus langsung tancap gas sebesar 27%, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga pencegahan kejahatan Forecourt Eye.


Sebuah studi oleh lembaga tersebut, yang didasarkan pada data dari sekitar 500 stasiun pengisian bahan bakar di Inggris, Skotlandia, dan Wales, menemukan lebih dari 6.500 liter bahan bakar dicuri setiap hari pada bulan Maret, atau naik 15,7% dari bulan Februari. Lembaga tersebut menghitung bahwa jika data ini diekstrapolasi secara nasional, stasiun pengisian bahan bakar bisa merugi sekitar 1,25 juta pound (Rp25,1 miliar) setiap minggunya.

"Pada tingkat biaya bahan bakar saat ini, pengendara yang sengaja menghindari pembayaran bahan bakar merugikan sektor ini lebih dari 100 juta pound setahun," kata Claire Nichol, Direktur Eksekutif British Oil Security Syndicate, kepada The Sun. Nichol menambahkan bahwa para operator harus ekstra waspada selama periode puncak.

Baca: Ke Mana Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei, Kenapa Hilang Misterius?

Kondisi serupa juga terjadi di seberang samudra Atlantik, di mana pada hari Senin American Automobile Association (AAA) menetapkan rata-rata nasional AS berada di atas US$4 (Rp64.800) per galon dan mencapai US$6 (Rp97.200) di California. Sebelum perang, rata-rata harga dari AAA berada di bawah level US$3 (Rp48.600).

Pada hari Minggu, Menteri Energi Chris Wright mengakui bahwa harga gas di bawah US$3 mungkin tidak akan terjadi hingga tahun depan. Komentar tersebut memicu kecaman keras dari Presiden AS Donald Trump.

"Itu benar-benar salah, harga akan turun segera setelah perang ini berakhir," kata Donald Trump menanggapi pernyataan Wright tersebut.

Meskipun otoritas AS belum merilis data konsolidasi mengenai pencurian gas, Washington Post melaporkan insiden semacam itu dengan mencatat bahwa pencuri sekarang menggunakan bor untuk melubangi tangki bahan bakar kendaraan dan menguras isinya, terkadang hanya menggunakan wadah sederhana seperti jerigen susu. Seorang warga Arizona mengeluh kepada surat kabar tersebut bahwa ia tidak hanya ditinggal dengan tangki kosong, tetapi juga tagihan perbaikan sebesar US$3.000 (Rp48,6 juta).

Eropa juga menyaksikan harga-harga melambung tinggi, dengan media melaporkan lonjakan harga diesel hingga 40% di Jerman sejak awal perang. Di Prancis, harga energi secara keseluruhan naik hampir 9% pada Maret, di mana krisis ini juga menyebabkan kenaikan penjualan mobil listrik sebesar 51% di seluruh daratan Eropa.

Di Australia, Rowan Lee, Chief Executive dari lembaga pengawas industri bahan bakar ACAPMA, mengatakan bahwa pencurian bahan bakar dari stasiun layanan telah meningkat antara 8% hingga 30% secara nasional sejak akhir Februari. Selain itu, studi oleh Biro Statistik dan Penelitian Kejahatan New South Wales memperkirakan bahwa untuk setiap kenaikan 10 sen harga bensin, terdapat hingga 120 insiden tambahan penipuan stasiun layanan yang dilaporkan setiap bulan di negara bagian tersebut saja.

Secara kontras, Rusia yang tidak memiliki defisit bahan bakar struktural, sebagian besar terhindar dari lonjakan harga gas. Per akhir April, satu liter bensin kelas menengah di sana berharga 68 rubel (Rp11.830), naik tipis dari 67 rubel pada akhir Februari.

Bersamaan dengan itu, Wakil Perdana Menteri Aleksandr Novak memerintahkan undang-undang yang melarang ekspor bensin untuk melindungi pasokan domestik. Novak menyebut kebijakan ini diambil karena adanya turbulensi di pasar global untuk minyak mentah.

Baca: Tetangga RI Sebut Perang Iran 'Simulasi', Perang AS-China Lebih Ngeri

(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Bikin Harga BBM Naik, Begini Kondisi Krisis Selat Hormuz

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Karakter Anime Pria yang Jadi Favorit Banyak Orang
• 12 menit lalubeautynesia.id
thumb
Kartini Ride Srikandi PLN, Kampanye Hijau dan Aksi Sosial
• 20 jam laluharianfajar
thumb
Pandangan Gibran soal Jusuf Kalla: Teladan untuk Kita Semua
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Pengumpulan Koper Jemaah Calon Haji Kota Malang
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Ammar Zoni Cukur Rambut Jelang Sidang Putusan, Kuasa Hukum: Wajahnya Cerah dan Siap Terima Vonis!
• 1 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.