Bos Agrinas Ungkap Alasan Harga Barang di Koperasi Merah Putih Lebih Murah

katadata.co.id
18 jam lalu
Cover Berita

PT Agrinas Pangan Nusantara menegaskan kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tidak ditujukan untuk bersaing dengan ritel modern, melainkan menciptakan harga yang lebih adil atau fair price bagi masyarakat desa.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota, mengatakan, skema Koperasi Merah Putih dirancang dengan rantai distribusi yang lebih pendek, sehingga dapat menekan biaya dan menghilangkan peran perantara.

“Dengan kehadiran koperasi akan terjadi fair price. Distribusi itu langsung dari pabrik ke koperasi, tidak lewat middleman,” ujarnya saat ditemui di kantornya di Jakarta Selatan, Rabu (22/4).

Ia menjelaskan, model tersebut juga membuka akses bagi produk desa untuk langsung masuk ke pasar tanpa melalui rantai distribusi panjang. Dengan begitu, produsen di desa berpeluang memperoleh harga jual yang lebih baik.

Keberadaan koperasi justru melengkapi ekosistem perdagangan, bukan menjadi kompetitor langsung bagi ritel modern. Menurutnya, ini karena setiap pelaku usaha, termasuk ritel besar, pada dasarnya memiliki perhitungan bisnis masing-masing sebelum melakukan ekspansi.

“Kalau ritel modern mau investasi, mereka pasti sudah punya analisa, feasibility study, sudah dihitung,” kata Joao.

Namun, ia mengakui sejumlah aspek teknis dalam implementasi program, termasuk mekanisme penggajian pengelola koperasi, masih belum dibahas secara rinci.

Pemerintah Susun Ulang Peta Ritel Desa

Di sisi lain, pemerintah tengah menyusun ulang peta perdagangan ritel di wilayah perdesaan untuk memperkuat peran koperasi.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebelumnya meminta jaringan ritel modern seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk(AMRT) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) untuk tidak menambah gerai baru di desa.

Imbauan tersebut bertujuan memberi ruang bagi koperasi desa agar dapat menjadi pusat distribusi barang kebutuhan pokok di tingkat lokal.

“Setop bikin ritel modern di desa, biarkan di desa itu koperasi desa yang jualan,” kata Ferry, dalam kanal YouTube IDN Times, dikutip Rabu (22/4).

Ia menilai terdapat perbedaan mendasar antara ritel modern dan koperasi, terutama dalam hal distribusi keuntungan. Ritel modern cenderung mengalirkan profit ke pemegang saham, sementara koperasi memungkinkan perputaran ekonomi tetap berada di desa.

Meski demikian, pemerintah tetap membuka ruang kolaborasi. Produk yang belum dapat dipenuhi oleh koperasi masih dapat dipasok oleh jaringan ritel modern.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tchouameni Masuk Radar MU, Setan Merah Ingin Perbaikan di Lini Tengah
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Listrik Padam di Sejumlah Wilayah Jakarta, PLN Ungkap Penyebabnya
• 7 jam laludetik.com
thumb
Pengisian Perdana Avtur Haji Surabaya Lancar
• 12 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Wamendagri Ribka Haluk Dampingi Wapres Gibran, Progres Pembangunan DOB Papua Kian Signifikan
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Tak Ingin “Happy Ending” Sendirian, Pak Guru Azis Minta Nasib Honorer Lain Juga Dibenahi
• 8 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.