Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah menghabiskan sejumlah besar stok rudal penting selama perang melawan Iran, yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu. AS terancam menghadapi kekurangan rudal jika terlibat dalam konflik lainnya di masa mendatang.
Hal tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (22/4/2026), dilaporkan oleh media terkemuka CNN pada Selasa (21/4), dengan mengutip laporan analisis terbaru oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS).
Laporan CSIS itu menyebut militer AS telah "secara signifikan menghabiskan" pasokan rudal-rudal penting selama perang melawan Iran.
Selama tujuh minggu perang berkecamuk, menurut laporan CSIS, militer AS telah menggunakan sekitar 45 persen pasokan Rudal Serangan Presisi, setidaknya separuh dari pasokan rudal pencegat THAAD, dan hampir 50 persen pasokan rudal pertahanan udara Patriot.
Angka-angka tersebut, menurut CSIS dalam laporannya, sangat sesuai dengan perkiraan Pentagon atau Departemen Pertahanan AS yang dirahasiakan.
Disebutkan dalam analisis CSIS bahwa militer AS juga telah menggunakan sekitar 30 persen rudal Tomahawk, lebih dari 20 persen rudal jarak jauh jenis Joint Air-to-Surface Standoff Missiles, dan sekitar 20 persen rudal jenis SM-3 serta SM-6.
Meskipun Pentagon telah menandatangani kontrak awal tahun ini untuk meningkatkan produksi rudal, proses pengisian kembali sistem ini masih akan memakan waktu tiga tahun hingga lima tahun, bahkan dengan peningkatan kapasitas.
(nvc/ita)





