Puluhan pasang mata perempuan musisi Yogyakarta Royal Orchestra atau YRO memperhatikan tangan dirigen Nyi Mas Lurah Dwijashintawati yang bersiap memberi aba-aba penanda awal lagu. Ketika ujung tangan abdi dalem pemimpin orkestra milik Keraton Yogyakarta dengan anggota khusus perempuan itu turun, para musisi dengan seragam berwarna kuning dan bertopi merah tersebut pun mulai memainkan alat musik masing-masing untuk memainkan tembang ”Langgam Putri Mataram”.
Beberapa saat setelah tembang itu mengalun, sejumlah Abdi Dalem Estri (perempuan) berjalan perlahan dari sisi barat panggung dan menyusuri landas peraga di Gedung Sasana Hinggil Dwi Abad di kompleks Keraton Yogyakarta, Yogyakarta, Selasa (21/4/2026) malam. Mereka berbusana kebaya warna hitam dengan jarik dan gelungan rambut yang tertata rapi sehingga membuat para perempuan yang bertugas menjalankan bermacam urusan rumah tangga di Keraton Yogyakarta itu tampil elegan.
Pada rombongan terdepan terdapat Abdi Dalem Keparak. Sesampainya di ujung landas peraga, mereka memberi salam hormat kepada Raja Keraton Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas, permaisurinya, yang malam itu hadir untuk menyaksikan acara yang digelar untuk memperingati Hari Kartini tersebut.
Abdi Dalem Keparak memiliki peran vital di lingkup rumah tangga Keraton Yogyakarta. Mereka bekerja dalam lingkup yang paling dekat dengan Sang Raja dan bertugas antara lain menjaga ruang pusaka, menyiapkan perlengkapan upacara, serta menyiapkan keperluan raja, permaisuri, dan putri-putri mereka.
Mereka memiliki beberapa jenis busana yang digunakan sesuai tugas yang sedang mereka jalani. Busana Kampuhan Janggan, misalnya, digunakan oleh Abdi Dalem Keparak dengan pangkat kalenggahan Riya, Kliwon, dan Lurah. Janggan berwujud busana berlengan panjang yang memiliki potongan seperti surjan dan kerap digunakan saat mendampingi pementasan Bedhaya atau tarian sakral Keraton Yogyakarta.
Peraga berikutnya adalah Abdi Dalem Emban, Inya, dan Suster. Mereka bertugas mengasuh dan merawat para putra dan cucu raja. Abdi Dalem Suster, misalnya, mengenakan busana sejenis baju kurung berwarna putih sehingga tampil mencolok.
Abdi Dalem Palawija tampil pada urutan berikutnya. Mereka merupakan abdi dalem khusus yang terdiri dari kaum difabel yang memiliki sejumlah keistimewaan fisik, seperti bertubuh mini, albino, dan bongkok.
Malam itu mereka menggunakan busana yang bernama Pinjung dengan dominasi warna kuning. Abdi Dalem Palawija mendapat sebutan sebagai kesayangan raja dan menjadi simbol bahwa Sang Raja mengayomi seluruh rakyatnya.
”Rasanya tampil di depan Ngarso Dalem (Sultan Hamengku Buwono X) sungguh enggak biasa, deg-degan rasanya. Tapi sangat senang bisa menjadi bagian acara ini dan ternyata beliau tidak lupa sama kami,” ujar Nanik Indarti dari Komunitas Tubuh Mini yang malam itu turut tampil dalam barisan Abdi Dalem Palawija. Baginya, pengaktifan kembali Abdi Dalem Palawija sejak beberapa waktu terakhir menjadi salah satu bentuk apresiasi tersendiri bagi kaum difabel.
Sejumlah kelompok abdi dalem, seperti Abdi Dalem Langenkusumo, Manggung, dan Pengampil, turut tampil di hadapan raja dan ratu mereka. Abdi Dalem Kanca Sewidak tampil di urutan terakhir. Mereka bertugas melayani penyajian makanan dan minuman saat acara resmi Keraton Yogyakarta berlangsung.
Malam itu sejumlah kelompok Abdi Dalem Estri tampil bergiliran dengan busana dan keunikan masing-masing. Peragaan busana tersebut semakin membuka wawasan masyarakat tentang ragam peran kaum perempuan di lingkungan Keraton Yogyakarta.
Seusai acara, penonton acara tersebut antusias mengajak para abdi dalem berfoto bersama. Keberadaan para abdi dalem perempuan yang tidak setiap hari dijumpai oleh masyarakat di luar pagar Keraton Yogyakarta itu menjadi kekayaan budaya tersendiri yang penting untuk terus dilestarikan.





