Gaya hidup sehat kini mulai bergeser lho, Beauty. Di tengah maraknya program diet dan metode penurunan berat badan seperti GLP-1, muncul kesadaran baru bahwa tubuh kurus belum tentu mencerminkan kondisi kesehatan yang sebenarnya. Pendekatan ini menekankan pentingnya memahami body composition, bukan sekadar angka di timbangan.
Perubahan cara pandang ini mendorong hadirnya pendekatan berbasis medis, salah satunya melalui program Z-Weight Loss Program (ZWL) dari ZAP Clinic. Program ini tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan, tetapi juga mengevaluasi kondisi tubuh secara menyeluruh, mulai dari komposisi tubuh hingga faktor metabolik.
Beauty, selama ini banyak orang menjadikan angka di timbangan sebagai tolok ukur utama kesehatan. Semakin rendah angka tersebut, semakin dianggap ideal. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa kondisi tubuh tidak sesederhana itu.
Pengalaman ini dialami oleh Tissa Biani. Secara tampilan, ia terlihat fit dengan berat badan normal. Namun, hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan kondisi sarcopenic obesity di mana tubuh terlihat ideal tetapi komposisinya tidak sehat.
“Selama ini aku pikir selama badan sudah kurus, berarti semuanya aman. Ternyata nggak sesederhana itu. Dari situ aku sadar, sehat itu bukan soal angka,” ungkap Tissa.
Kesadaran serupa juga dirasakan Edric Tjandra. Di usia kepala empat, ia tetap aktif tanpa keluhan berarti, hingga akhirnya hasil pemeriksaan menunjukkan fatty liver dan peningkatan kolesterol.
“Dari luar kelihatannya masih oke, tapi ternyata tubuh aku sudah mulai kasih tanda. Di situ aku langsung ngerasa ini waktunya berubah,” ujarnya.
Sementara itu, Eriska Rein menghadapi perubahan tubuh setelah menjadi ibu. Ia menyoroti bahwa perubahan tersebut tidak hanya soal fisik, tetapi juga faktor hormon dan biologis.
“Ini bukan soal kurang usaha. Ini soal perubahan hormon dan biologis yang nyata. Dan itu valid,” jelasnya.
Beauty, fenomena ini juga berkaitan dengan meningkatnya penggunaan metode GLP-1 yang kerap dianggap sebagai solusi cepat. Padahal, menurut dr. Cindiawaty Josito Pudjiadi, penggunaan metode ini harus melalui pendekatan medis.
“GLP-1 bekerja dengan membantu mengontrol nafsu makan dan metabolisme tubuh. Namun penggunaannya harus melalui evaluasi medis yang tepat dan dalam pengawasan dokter. Yang sering menjadi masalah adalah ketika metode ini digunakan tanpa indikasi yang jelas dan tanpa pendampingan,” jelasnya.
Hal senada disampaikan dr. Cipuk Muhaswitri, Sp.GK, yang menekankan pentingnya memahami kondisi tubuh secara menyeluruh sebelum menjalani program penurunan berat badan.
“Sebelum memulai program weight loss, penting untuk memahami kondisi tubuh secara menyeluruh—mulai dari komposisi tubuh, hasil lab, hingga faktor hormonal. Terapi seperti GLP-1 bukan untuk semua orang, dan harus diberikan berdasarkan indikasi medis yang jelas serta dipantau secara berkala,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Tujuan utama bukan sekadar turun berat badan, tapi bagaimana tubuh menjadi lebih sehat, metabolisme lebih baik, dan hasilnya bisa dipertahankan dalam jangka panjang.”
Melalui pendekatan terintegrasi, program ini juga melibatkan pemeriksaan kesehatan, aktivitas fisik, hingga pengaturan pola makan. Hal ini menunjukkan bahwa tren kesehatan saat ini tidak lagi berfokus pada penampilan luar, tetapi pada kondisi tubuh secara menyeluruh sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih sadar dan berkelanjutan.





