Di Balik Tren GLP-1, Pengalaman 3 Artis Ini Ubah Definisi Sehat

tabloidbintang.com
4 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Tidak semua yang tampak sehat benar-benar mencerminkan kondisi tubuh sesungguhnya. Di tengah tren diet modern dan popularitas metode weight loss seperti GLP-1, definisi “sehat” kini mulai bergeser, tak lagi sekadar angka di timbangan.

Hal ini juga disadari oleh Tissa Biani. Meski memiliki tubuh yang terlihat ideal, ia justru didiagnosis mengalami sarcopenic obesity - kondisi ketika massa otot rendah namun lemak tubuh tinggi.

“Selama ini aku pikir selama badan sudah kurus, berarti semuanya aman. Ternyata enggak sesederhana itu. Dari situ aku sadar, sehat itu bukan soal angka,” ungkap Tissa.

Cerita serupa datang dari Edric Tjandra. Tanpa gejala berarti, ia mendapati dirinya mengalami fatty liver dan kolesterol tinggi.

“Dari luar kelihatannya masih oke, tapi ternyata tubuh aku sudah mulai kasih tanda. Di situ aku langsung ngerasa—ini waktunya berubah,” ujarnya.

Kini, ia lebih fokus pada kebugaran tubuh ketimbang sekadar angka berat badan.  

Sementara itu, Eriska Rein menghadapi tantangan berbeda pasca menjadi ibu. Perubahan hormon dan metabolisme membuatnya kesulitan mengontrol berat badan.

“Ini bukan soal kurang usaha. Ini soal perubahan hormon dan biologis yang nyata. Dan itu valid,” jelasnya.

Ia pun tidak lagi memaksakan diri kembali ke versi lamanya. Fokusnya kini pada kebutuhan tubuhnya sendiri.

Edric Tjandra kini lebih fokus pada kebugaran tubuh ketimbang sekadar angka berat badan. (Dok. Istimewa)

Perbaikan Kondisi Kesehatan Menyeluruh

Fenomena ini mempertegas bahwa tubuh manusia jauh lebih kompleks dibanding standar “kurus = sehat”. 

Di sinilah metode GLP-1 mulai banyak dibicarakan. Dalam dunia medis, terapi ini digunakan untuk membantu mengontrol nafsu makan dan metabolisme, bukan sekadar solusi instan.

Menurut dr. Cindiawaty Josito Pudjiadi, penggunaan GLP-1 harus melalui pengawasan medis.

“GLP-1 bekerja dengan membantu mengontrol nafsu makan dan metabolisme tubuh. Namun penggunaannya harus melalui evaluasi medis yang tepat dan dalam pengawasan dokter,” jelas dr. Cindiawaty. 

Hal senada disampaikan dr. Cipuk Muhaswitri, Spesialis Gizi Klinik di ZAP Premiere. Ia menekankan pentingnya pendekatan personal.

“Sebelum memulai program weight loss, penting untuk memahami kondisi tubuh secara menyeluruh—mulai dari komposisi tubuh, hasil lab, hingga faktor hormonal," beri tahu dia. 

Melalui pendekatan terintegrasi seperti program Z-Weight Loss (ZWL), penurunan berat badan kini diarahkan pada tujuan yang lebih besar: kesehatan jangka panjang. 

Bukan hanya turun angka di timbangan, tetapi juga memperbaiki metabolisme dan kualitas hidup.

Z-Weight Loss Program (ZWL) di ZAP sendiri dirancang sebagai program yang terintegrasi—tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan, tetapi juga perbaikan kondisi kesehatan secara menyeluruh. 

Program ini terdiri dari beberapa pilihan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dari first timer, basic hingga intermediate. Setiap peserta tidak hanya mendapatkan treatment, tetapi juga pendampingan medis yang berkelanjutan.

Sebagai bagian dari ekosistem ini, ZAP juga berkolaborasi dengan berbagai partner untuk mendukung proses weight loss secara holistik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PELETAKAN DAFTAR HASIL PENJUALAN ASET BOEDEL PAILIT PT. KHING STICKER JAYA ABADI dan MULYADI KURNIAWAN SOEGONDO (dalam pailit)
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kriminalisasi Kebijakan PI 10 Persen Blok Masela, Fahri Bachmid Sebut Tuntutan Jaksa Cacat Hukum
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Pelindungan dan Perlindungan, Apa Bedanya?-Jadi Lebih Paham
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPK Periksa 10 Saksi Kasus Korupsi Pengadaan Pekalongan, Nama Eks Wakil Bupati hingga Pejabat RSUD Disorot
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Naoya Inoue berlatih keras jelang lawan Nakatani
• 23 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.