Panas terik begitu menyengat di Kampung Pasir Putih, Selasa (21/4/2026). Siang itu sinar matahari menunjukkan keperkasaannya, sinarnya silau dan begitu panas terasa di kulit membuat warga memilih berteduh di dalam rumah. Jalanan kampung sepi.
Kampung Pasir Putih terletak di Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kawasan pesisir ini berjarak 42 kilometer dari pusat Kota Karawang atau bisa ditempuh dengan jalur darat selama satu jam perjalanan.
Suasana terasa berbeda saat bergeser ke arah anak Sungai Citarum yang membelah kampung tersebut. Suasana terasa lebih hidup. Ratusan kapal motor bersandar di sepanjang sungai. Banyak nelayan sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Ada yang sedang antre mengisi solar, memperbaiki jaring, hingga mereparasi kapal. Sebagian besar mereka adalah penduduk kampung setempat, bukan nelayan pendatang.
Salah satu nelayan yang sibuk tersebut Wanto (55). Bersama rekannya Ia tengah memperbaiki Kapal Motor (KM) Baru Indah. Suara mesin pemotong kayu dan gerinda penghalus kayu meraung-raung. Papan dipotong dan diperhalus dengan gerinda. Wanto memang spesialis membuat dan memperbaiki kapal. Kemampuannya diperoleh turun-temurun dari bapaknya.
Wanto mengatakan bahwa biaya perbaikan kapal itu tidak murah. Apalagi kalau harus ganti papan kayu. “Perbaikan kapal ini menghabiskan 2,5 kubik kayu. Harga satu kubik kayu sekitar Rp 5 juta. Belum lagi waktunya, minimal dua minggu baru selesai,” kata lelaki asli Brebes, Jawa Tengah yang beristri warga Kampung Pasir Putih tersebut.
Wanto menambahkan, biaya perbaikan kapal dengan daya 30 PK menghabiskan biaya antara Rp 50 juta - Rp 200 juta, tergantung kerusakan dan waktu pengerjaannya. Sedangkan untuk pembuatan kapal motor baru dengan daya 30 PK menghabiskan biaya sekitar Rp 400 juta, termasuk mesinnya.
Selain masalah sehari-hari seperti harga bahan bakar minyak (BBM), mahalnya biaya perbaikan kapal, hingga hasil melaut yang kadang tidak sebanding dengan pengeluaran, nelayan di kampung ini juga menghadapi ancaman alam, yaitu abrasi. Antara tahun 2000 hingga 2014, abrasi mengikis daratan hingga jarak antara permukiman dan bibir pantai tersisa beberapa meter.
Melihat kondisi ini, nelayan mulai sadar akan acaman abrasi yang bisa menggerus permukiman mereka. Berbagai cara dilakukan untuk mencegah abrasi semakin meluas. Salah satunya dengan menanam mangrove atau pohon bakau.
Pelan tapi pasti, mangrove yang mereka tanam sekitar 10 tahun lalu tersebut membuahkan hasil. Mangrove tumbuh subur dan kokoh. Keberadaannya menjadi benteng kokoh yang melindungi kampung mereka dari terjangan gelombang air laut.
Usaha warga untuk melindungi kampung mendapat sambutan dan bantuan dari perusahaan melalui aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Di antaranya program CSR dari Pertamina dan PLN. Selain membantu menyediakan mangrove, perusahaan ini juga memberi pendampingan dan pembinaan warga setempat.
Awal mula perjuangan warga dalam menanam mangrove diceritakan salah seorang warga yang biasa disapa dengan nama Ibu Nur. Salah satu orang yang memulai penanaman mangrove adalah suaminya, Nur Husain.
Sejak 2017, Nur Husain mulai menanam bakau hingga luasnya kini dua hektar. Penanam bakau dilakukan di sela-sela melakoni pekerjaannya sebagai nelayan dan kadang menjadi montir mesin kapal. ”Waktu senggang dimanfaatkan Pak Husain untuk mengambil sampah di laut sembari menanam dan merawat bakau. Alhamdulillah sekarang hasilnya bisa dirasakan,” jelas Ibu Nur.
“Alhamdulillah sekarang tidak pernah rob lagi, saya mulai mendirikan warung ini bersamaan dengan saat pertama menanam bakau. Kadang dulu Bapak nyari benih bakau sampai ke Tanjung Baru. Untuk satu karung benih (isi 100-150) dibeli Rp 50.000. Sudah saya bilangin kenapa kerja capek-capek. Terus dia cuma bilang gini, kalau capek dikasih makan juga akan hilang. Ini tadinya lautan (menunjuk titik berdirinya warung), pas ditanami tanaman mangrove, alhamdulilah pinggir laut kini jadi daratan, adem dan warung saya juga bisa berdiri” tambah Ibu Nur antusias.
Selain Nur Husain, banyak warga kampung yang berjasa dalam penanganan masalah abrasi di kampung ini. Salah satunya Suhaeri. Siang itu Suhaeri tengah mengumpulkan pasir putih yang telah terjebak di antara appostraps (alat peredam ombak dan pemecah gelombang dari ban bekas).
Tidak lebih dari satu jam sebanyak 10 karung plastik berisi pasir putih sudah terkumpul. Sejak 10 tahun yang lalu, Suhaeri bersama 16 tetangganya yang tergabung dalam Mina Jaladri mulai fokus menanam bakau, api-api, hingga cemara laut.
Hutan Bakau
“Ketika tanaman mulai tumbuh, kita bikin tanggul dari pasir yang terkumpul tadi, terus ditanami lagi, begitu seterusnya sampai menjorok ke laut. Kelompok Mina Jaladri harus berkembang, tidak ada ketergantungan ke pemerintah. Kepedulian kami ya menjaga lingkungan agar tidak abrasi. Ya syukur misalnya ada pendanaan dari luar”, kata Suhaeri.
Dahulu, kata Suhaeri, ada pantai gosong (gundukan pasir/sedimen di pesisir) berpasir putih tak jauh dari kampung. Terus lama kelamaan habis karena diambil warga dan berlanjut abrasi. Kelompok Mina Jaladri tergerak untuk mengembalikan pantai pasir putih ini seperti semula dan kini perlahan mulai terwujud. Luas hutan bakau yang melindungi kampung tersebut panjangnya 600 meter dan lebar 200 meter.
Masalah nelayan Pasir Putih yang tak kunjung selesai adalah pendangkalan akibat sedimentasi lumpur di anak Sungai Citarum. Nelayan kesulitan untuk keluar masuk di muara. Ada 300 kapal motor yang bersandar di sepanjang anak Sungai Citarum. Pemerintah setempat, terutama dari dinas perikanan juga kurang memberikan perhatian, tempat pelelangan ikan juga tidak berjalan.
Terik berganti sejuk di bawah hutan bakau. Angin laut menyibakkan daun-daun pohon api-api yang berdiri tegak. Satu keluarga berjalan melewati jembatan kayu yang membelah hutan mangrove menuju Pantai Pasir Putih. Anak-anak berlarian di pantai. Sebagian bermain ayunan sembari bersenda gurau. Beberapa remaja memancing ikan di pinggir laut.
Kampung yang dahulu tergerus abrasi tersebut kini menuai hasilnya, hutan mangrove yang ditanam 10 tahun lalu kini tumbuh subur, asri dan menjadi benteng alami dari kerusakan lingkungan lainnya.





