Iran menyita dua kapal yang berlayar di Selat Hormuz, Rabu (22/4). Pada saat yang sama, belum ada tanda-tanda negosiasi damai Iran dan Amerika Serikat (AS) akan dilanjutkan.
Pekan ini, gencatan senjata antara AS dan Iran akan berakhir. Meski belum ada kesepakatan antara kedua negara, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata secara sepihak.
Iran menegaskan belum ada kesepakatan terkait perpanjangan gencatan senjata. Mereka menilai keputusan Trump hanya akal-akalan untuk melanjutkan blokade kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyatakan, gencatan senjata hanya dapat terwujud jika AS mencabut blokade di Selat Hormuz.
“Mustahil membuka kembali Selat Hormuz dengan pelanggaran berat terhadap gencatan senjata,” kata Qalibaf seperti dikutip dari Reuters.
“Kalian tak bisa mencapai tujuan lewat agresi militer dan kalian tak akan bisa mencapainya lewat intimidasi. Satu-satunya cara adalah mengakui hak rakyat Iran,” sambungnya.
Adapun laporan dari kantor berita Tasnim di Iran menyebutkan, pasukan Garda Revolusi telah menyita dua kapal dan membawanya ke pesisir.
Garda Revolusi Iran mengumumkan kedua kapal itu berbendera Panama dan Liberia. Kapal tersebut melintasi Selat Hormuz tanpa izin.
Terdapat satu kapal yang sempat ditembaki saat melewati Selat Hormuz. Namun, kapal yang juga berbendera Liberia itu diizinkan kembali berlayar.





