Kolaborasi lintas sektor kembali diperkuat untuk mendorong perlindungan kesehatan di lingkungan kerja. Kamar Dagang dan Industri Indonesia bersama PT Takeda Innovative Medicines dan PT Bio Farma, dengan dukungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, serta Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia, menghadirkan gerakan Sinergi Aksi Perusahaan (SIAP) Lawan Dengue sebagai langkah berkelanjutan dalam memperkuat pencegahan dengue di tempat kerja.
Inisiatif yang telah berjalan sejak 2024 ini menegaskan bahwa melindungi karyawan dari risiko dengue bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian penting dari kesiapsiagaan perusahaan dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Dengue kini dipandang bukan hanya sebagai isu kesehatan masyarakat, tetapi juga risiko nyata yang dapat memengaruhi produktivitas dan operasional, terutama karena banyak menyerang usia produktif.
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga 14 April 2026 terdapat 30.465 kasus dengue di Indonesia, dengan angka kematian sebanyak 79 kasus. Penyebarannya pun meluas di ratusan kabupaten/kota, menunjukkan bahwa ancaman ini masih terjadi sepanjang tahun.
Di sisi lain, studi pada pekerja kantoran di Indonesia menunjukkan masih adanya keraguan terhadap upaya perlindungan seperti vaksinasi dengue, dengan faktor biaya menjadi salah satu pertimbangan. Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih tepat sasaran untuk meningkatkan pemahaman, kepercayaan, dan akses terhadap upaya pencegahan.
Melalui SIAP Lawan Dengue, perusahaan didorong untuk mengambil langkah nyata, mulai dari membangun kesadaran internal, memperkuat pengendalian lingkungan kerja, hingga mengintegrasikan perlindungan kesehatan dalam kebijakan perusahaan. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi perusahaan untuk berperan lebih aktif dalam menciptakan tempat kerja yang sehat dan berkelanjutan.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, menyampaikan, “Dengue masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada kelompok usia produktif. Pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari edukasi, pengendalian vektor, hingga kolaborasi lintas sektor. Saat ini, Kementerian Kesehatan juga tengah menyiapkan tindak lanjut dari Strategi Nasional Penanggulangan Dengue (STRANAS) ke dalam Rencana Aksi Nasional (RAN) sebagai langkah penguatan implementasi ke depan. Pendekatan seperti SIAP Lawan Dengue mendukung upaya nasional menuju pengendalian dengue yang lebih efektif dan berkelanjutan. Keterlibatan semua pihak sangat penting untuk menurunkan beban penyakit ini.”
Dari sisi ketenagakerjaan, M. Yusuf menekankan bahwa dengue kini menjadi bagian dari isu keselamatan dan kesehatan kerja. Ia menjelaskan bahwa tempat kerja berpotensi menjadi lokasi penularan jika tidak dikelola dengan baik, sehingga diperlukan langkah sistematis seperti penerapan higiene dan sanitasi, program pemberantasan sarang nyamuk, serta edukasi pekerja.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menambahkan, “Dengue masih menjadi tantangan kesehatan yang terjadi sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, gaya hidup, maupun di mana seseorang tinggal. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan kerja. Karena itu, kesiapsiagaan perlu diwujudkan melalui langkah nyata yang konsisten, bukan hanya kesadaran. Melalui SIAP Lawan Dengue, kami melihat bahwa tempat kerja memiliki peran penting sebagai titik awal perlindungan, di mana perusahaan dapat berkontribusi dalam menjaga kesehatan karyawannya secara lebih terstruktur. Kami percaya, melalui kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, upaya pencegahan dengue dapat diperkuat dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan dunia kerja.”
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan KADIN, Shinta Widjaja Kamdani, menegaskan pentingnya peran sektor swasta dalam menjaga kesehatan tenaga kerja. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar upaya pencegahan berjalan efektif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Umum PERDOKI, dr. Agustina Puspitasari, mengingatkan bahwa langkah preventif, termasuk imunisasi pekerja, menjadi bagian penting dalam melindungi tenaga kerja dari risiko dengue yang berdampak luas, tidak hanya pada individu tetapi juga keluarga dan lingkungan kerja.
Dalam diskusi panel, Raditya Dika turut menyoroti dampak nyata dengue dalam kehidupan sehari-hari. “Dengue bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Dampaknya bisa serius, bahkan mengancam jiwa, dan bisa terjadi pada siapa saja, tidak pandang bulu. Dalam kehidupan sehari-hari, apalagi di industri kreatif, ketika satu orang sakit, efeknya bisa ke banyak hal. Pekerjaan tertunda, rencana berubah, dan orang-orang di sekitar kita juga ikut terdampak. Buat saya, melakukan upaya pencegahan itu sama dengan menjaga masa depan — bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan tim yang bergantung pada kita. Termasuk untuk dengue, penting untuk mulai mempertimbangkan langkah-langkah pencegahan inovatif yang tersedia, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing, agar kita bisa tetap produktif dan menjalani aktivitas dengan lebih tenang.”
Di sisi lain, Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue terus mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor. Ketua KOBAR, dr. H. Suir Syam, menegaskan bahwa beban dengue di Indonesia masih tinggi, dengan lebih dari satu juta kasus rawat inap pada 2024 dan pembiayaan mencapai hampir Rp3 triliun.
Pada penyelenggaraan tahun ini, SIAP Lawan Dengue juga menghadirkan penguatan melalui platform terpadu yang memudahkan perusahaan terhubung dengan fasilitas layanan kesehatan. Hingga saat ini, lebih dari 60 perusahaan telah mulai mengambil langkah perlindungan, termasuk Danone Indonesia, yang mengimplementasikan upaya pencegahan dengue secara berkelanjutan di lingkungan kerja.
Melalui langkah ini, diharapkan semakin banyak perusahaan bergerak bersama, tidak hanya melindungi karyawan, tetapi juga membangun standar baru dalam kesehatan kerja yang lebih berkelanjutan.





