Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga pemeringkat Fitch Ratings Indonesia mengungkapkan perang antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung lebih lama dapat memicu sejumlah risiko yang berdampak langsung terhadap kinerja keuangan korporasi.
Direktur Corporate Ratings APAC Fitch Ratings Indonesia Felita menyebutkan setidaknya terdapat dua risiko utama yang perlu diantisipasi oleh korporasi di Indonesia, yakni gejolak nilai tukar dan tekanan inflasi lanjutan.
“Jadi, semakin besar porsi biaya atau utang dalam dolar, semakin besar risikonya,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya risiko pertama datang dari volatilitas nilai tukar rupiah yang berpotensi bergerak fluktuatif seiring meningkatnya ketidakpastian global. Kondisi ini dinilai paling berdampak pada perusahaan yang memiliki ketidaksesuaian mata uang atau currency mismatch.
Perusahaan dengan pendapatan dalam rupiah, tetapi memiliki utang dalam dolar AS atau ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, menjadi kelompok yang paling rentan. Semakin besar eksposur terhadap mata uang asing dalam struktur biaya maupun utang, semakin tinggi pula risiko yang harus ditanggung.
Selain faktor nilai tukar, risiko kedua yang tak kalah penting adalah meningkatnya inflasi lanjutan. Kenaikan harga energi global diperkirakan akan mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara lebih luas di dalam negeri.
Dampak inflasi ini diperkirakan akan lebih terasa pada sektor-sektor yang bergantung pada permintaan non prioritas, seperti produk gaya hidup, hiburan, hingga barang konsumsi sekunder.
Dalam kondisi harga yang meningkat, konsumen cenderung menahan belanja dan memprioritaskan kebutuhan pokok. Hal ini membuat permintaan terhadap produk non esensial menjadi lebih elastis dan rentan mengalami penurunan.
Dengan demikian, perusahaan di sektor tersebut berisiko menghadapi tekanan ganda, yakni kenaikan biaya operasional di satu sisi dan pelemahan permintaan di sisi lain.
Kombinasi kedua risiko ini perlu diantisipasi sejak dini oleh korporasi, terutama melalui pengelolaan risiko nilai tukar serta strategi efisiensi biaya dan penyesuaian bisnis agar tetap mampu bertahan di tengah ketidakpastian global yang berkepanjangan.
Sisi lain memanasnya tensi geopolitik antara AS dan Iran membuka peluang bagi sejumlah sektor saham untuk mencetak cuan.
Sektor energi, khususnya minyak dan gas (migas) hingga batu bara, menjadi yang paling diuntungkan seiring lonjakan harga komoditas global dan potensi gangguan pasokan energi.
Felita, mengungkapkan bahwa sektor minyak dan gas, khususnya di sisi hulu atau upstream, menjadi salah satu yang paling diuntungkan dari situasi ini. Kenaikan harga minyak mentah dinilai mampu menutupi peningkatan biaya operasional, seperti energi dan logistik.
“Selain itu, sektor batu bara termal juga berpotensi diuntungkan,” ujarnya.
Menurutnya sektor batu bara termal juga ikut terdongkrak dengan potensi peralihan sumber energi dari gas ke batu bara di sejumlah negara Asia, seperti Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, akibat mahalnya harga gas.





