TABLOIDBINTANG.COM - Serangan jantung bukan terjadi secara acak. Tubuh manusia bekerja mengikuti ritme tertentu yang dikenal sebagai ritme sirkadian, yakni sistem jam biologis yang mengatur berbagai fungsi penting seperti tidur, hormon, tekanan darah, hingga aliran darah. Menariknya, waktu dalam sehari ternyata berpengaruh besar terhadap risiko serangan jantung.
Jam Tubuh dan Kondisi Arteri
Tubuh manusia beroperasi dalam siklus 24 jam yang dikendalikan oleh otak. Siklus ini menentukan kapan tubuh beristirahat dan kapan harus aktif.
Pada pagi hari, tubuh beralih dari mode istirahat ke mode aktif. Hormon meningkat, detak jantung menjadi lebih cepat, dan pembuluh darah sedikit menyempit. Perubahan ini sebenarnya normal, karena tubuh sedang bersiap untuk beraktivitas.
Namun, kondisi ini juga bisa memberi tekanan tambahan pada arteri—terutama jika sudah terjadi penyempitan sebelumnya. Inilah alasan mengapa waktu sangat berpengaruh dalam risiko serangan jantung.
Mengapa Risiko Lebih Tinggi di Pagi Hari?
Antara pukul 06.00 hingga 12.00, tubuh memasuki fase yang disebut “fase aktivasi”. Pada fase ini, hormon stres seperti kortisol dan adrenalin meningkat, tekanan darah naik, dan detak jantung bertambah cepat.
Menurut para ahli, kondisi ini membuat darah menjadi lebih kental dan mudah membeku. Jika seseorang memiliki penyempitan pembuluh darah akibat plak, tekanan mendadak ini bisa memicu pecahnya plak tersebut.
Ketika plak pecah, tubuh akan membentuk gumpalan darah yang dapat menyumbat aliran darah ke jantung dalam waktu singkat—yang akhirnya memicu serangan jantung. Penelitian dalam European Heart Journal juga menyebutkan bahwa risiko kardiovaskular memang mencapai puncaknya pada pagi hari.
Malam Hari Lebih Tenang untuk Jantung
Seiring berjalannya hari, tubuh mulai melambat. Kadar hormon menurun, tekanan darah menjadi lebih stabil, bahkan cenderung turun.
Pada malam hari, risiko penyumbatan mendadak relatif lebih rendah karena darah tidak terlalu mudah membeku dan kondisi tubuh lebih rileks. Meski begitu, risiko tetap ada—terutama jika dipicu faktor eksternal seperti makan berlebihan, konsumsi alkohol, stres emosional, atau aktivitas fisik berlebihan di malam hari.
Apa yang Terjadi di Dalam Arteri?
Proses di dalam arteri berlangsung perlahan dan sering tanpa gejala. Penumpukan lemak atau plak yang dikenal sebagai Atherosclerosis dapat mempersempit pembuluh darah.
Saat terjadi lonjakan tekanan di pagi hari, plak ini bisa retak. Tubuh kemudian merespons dengan membentuk gumpalan darah, yang dapat menyumbat aliran darah hanya dalam hitungan menit.
Inilah alasan mengapa arteri yang tampak stabil di malam hari bisa menjadi sangat rentan di pagi hari.
Gaya Hidup Juga Berpengaruh
Meski ritme sirkadian berperan besar, gaya hidup juga menentukan. Pola tidur yang tidak teratur, makan larut malam, dan stres kronis dapat mengganggu keseimbangan jam biologis.
Penelitian dari National Institutes of Health menunjukkan bahwa gangguan ritme sirkadian berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung.
Beberapa langkah sederhana yang bisa membantu antara lain:
- Bangun di waktu yang sama setiap hari
- Hindari makan berat di malam hari
- Kelola stres di pagi hari
- Tetap aktif, namun hindari aktivitas fisik berat secara tiba-tiba setelah bangun tidur
Apa Artinya bagi Kehidupan Sehari-hari?
Pagi hari bukan untuk ditakuti, tetapi perlu disikapi dengan bijak. Jantung sedang beradaptasi dengan cepat pada jam-jam awal setelah bangun. Memulai hari dengan tenang, melakukan aktivitas ringan, dan menghindari stres mendadak bisa membantu mengurangi risiko—terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Memahami cara kerja jam biologis tubuh dapat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.




