MAKASSAR, FAJAR – Penurunan kurs alias nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) berlanjut. Bahkan menyentuh angka terendah dalam sejarah.
Pada perdagangan Kamis, 23 April 2026, rupiah sempat menembus level Rp17.300 per USD sebelum akhirnya ditutup pada kurs Rp17.286. Pelemahan rupiah sejalan dengan mata uang regional. Secara year to date (Ytd), rupiah tercatat melemah 3,54 persen.
“Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional,” ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dilansir Jawa Pos (grup FAJAR).
BI merespons kondisi tersebut dengan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan. Langkah dilakukan melalui pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot, domestic NDF (DNDF), serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter agar tetap menarik bagi investor. “Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur,” tutur Destry Damayanti.
Dari sisi fundamental, cadangan devisa Indonesia masih kuat. Hingga akhir Maret 2026, posisinya mencapai USD 148,2 miliar.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari eksternal, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih membayangi pasar.
Risiko gangguan distribusi minyak di jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Oman meningkatkan kekhawatiran investor. “Potensi gangguan pasokan minyak dunia menjadi sentimen negatif bagi rupiah,” ujarnya.
Selain itu, pasar juga menanti arah kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve) yang dinilai belum jelas. Kondisi tersebut mendorong aliran dana ke aset aman berbasis dolar AS.
Dari domestik, kenaikan harga minyak dunia turut menekan rupiah. Harga Brent tercatat sekitar USD103 per barel dan WTI di kisaran USD98 per barel. Sebagai negara pengimpor minyak, kebutuhan dolar AS untuk impor energi meningkat, sehingga memberi tekanan tambahan pada rupiah.
Meskipun demikian, intervensi BI dinilai cukup efektif meredam pelemahan. “Intervensi BI cukup mumpuni untuk menahan tekanan lebih lanjut,” kata Ibrahim. (mim-dio-jpg/zuk)





