Dari Megaproyek ke Modular, Strategi Baru Kilang RI Buka Peluang Cuan

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis kilang minyak di Tanah Air mulai menunjukkan peluang menjanjikan. Hal ini tak lepas dari langkah Indonesia untuk memperkuat produksi dalam negeri demi ketahanan energi nasional.

Selama ini, pengembangan kilang di Indonesia identik dengan proyek raksasa bernilai miliaran dolar AS yang membutuhkan waktu panjang dan kompleksitas tinggi. Contoh paling nyata adalah proyek Kilang Tuban di Jawa Timur yang sempat berjalan tersendat.

Kali ini, pendekatan yang diambil tidak lagi semata bertumpu pada mega proyek kilang berskala besar, melainkan mulai mengarah pada pembangunan kilang berkapasitas lebih kecil yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah.

Adapun skema ini mencuat seiring penjajakan kerja sama dengan Rusia yang menawarkan model kilang modular sebagai solusi lebih lincah dan adaptif. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan komitmen tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Bahlil menuturkan rencana proyek tersebut berbeda dengan pengembangan Kilang Tuban yang merupakan kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan perusahaan Rusia, Rosneft Oil Company. Skala proyek yang dijajaki saat ini disebut tidak sebesar Kilang Tuban.

Baca Juga : Rusia Minat Bangun Kilang & Storage Minyak Baru di RI, Sejumlah Investor Siap Masuk

Menurutnya, pemerintah masih mematangkan skema kerja sama yang akan dilakukan melalui mekanisme antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarpelaku usaha (business to business/B2B) dengan Rusia.

"Saya diminta untuk menindaklanjuti pertemuan dari dua pemimpin, Presiden Prabowo sama Presiden Putin dan dalam pertemuan saya dengan Menteri Energi dan Pemerintahan Rusia itu telah disepakati bahwa kita akan mendapat support dari Rusia," ujar Bahlil kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/4/2026).

Pasar Besar, Cuan Terbuka Lebar

Saat ini, konsumsi BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari atau setara 39 juta hingga 40 juta kiloliter (KL) per tahun. Adapun produksi minyak domestik baru sekitar 600.000 barel per hari, sehingga Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.

Berkaca pada data kebutuhan di atas, ceruk bisnis kilang di Indonesia masih sangat menggiurkan.

Ekonom Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak menilai kondisi ini menciptakan captive market yang sangat besar bagi investor kilang. Dengan kata lain, pasar sudah tersedia—tinggal bagaimana pelaku usaha bisa masuk dengan model bisnis yang tepat.

“Investasi kilang di Indonesia masih sangat menjanjikan karena captive market dari defisit BBM kita sekitar 1 juta barel per hari masih sangat besar,” ujarnya ketika dihubungi, Kamis (23/4/2026).

Dalam konteks ini, kilang modular dinilai memiliki keunggulan dari sisi kecepatan pembangunan dan fleksibilitas. Berbeda dengan kilang besar yang bisa memakan waktu bertahun-tahun, kilang kecil dapat dibangun lebih cepat sehingga dampak substitusi impor bisa segera dirasakan.

Ishak menuturkan kilang yang dibangun dalam jumlah yang lebih banyak di dekat lapangan produksi utama dapat menghemat biaya transportasi crude dan distribusi BBM. Selain itu, jaringan kilang yang tersebar mengurangi risiko kelumpuhan pasokan nasional ketika terjadi kerusakan akibat kebakaran kilang.

Namun, pembangunan kilang modular bukan tanpa risiko. Ishak menilai kilang yang kecil cenderung memiliki skala ekonomi yang kecil, sehingga harga produknya menjadi kurang kompetitif dengan yang berskala besar. Integrasi dengan industri petrokimia hilir juga lebih terbatas.

"Selain itu, secara politik, Rusia merupakan negara yang mendapatkan sanksi dari AS sehingga harus dipastikan mitigasinya sehingga tidak bernasib seperti Rosneft dengan Kilang Tuban yang disanksi pascainvasi Rusia ke Ukraina," kata Ishak.

Kilang Kecil Lebih Adaptif

Model kilang kecil ini dinilai lebih adaptif terhadap kebutuhan daerah. Selain itu, pembangunan kilang yang tersebar di dekat lapangan produksi atau kawasan industri dapat menekan biaya logistik.

Praktisi migas Hadi Ismoyo melihat pendekatan ini sebagai langkah rasional.

Baca Juga : 8 Daftar Negara dengan Kilang Minyak Terbesar di Dunia

"Saya mendukung pembangunan Kilang kecil, clustering di wilayah-wilayah penghasil migas atau kawasan industri yang memang membutuhkan BBM. Sehingga, efisien dan tidak boros biaya logistik karena bolak balik masalah transportasi," jelas Hadi.

Namun demikian, Mantan Sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) itu mengingatkan bahwa strategi energi nasional tidak bisa hanya bertumpu pada BBM.

Dalam jangka menengah hingga panjang, Indonesia tetap perlu mendorong konversi ke energi yang lebih bersih dan efisien, seperti gas.

Dengan subsidi energi yang telah menembus sekitar Rp200 triliun, tekanan fiskal menjadi alasan kuat untuk melakukan diversifikasi energi. Gas, yang memiliki harga lebih murah per satuan energi, dinilai bisa menjadi solusi transisi sebelum adopsi energi baru terbarukan (EBT) makin masif.

"Kami memperingatkan pemerintah, bahwa jangka menengah dan panjang, RI harus mulai menggalakkan konversi BBM ke gas dengan membangun infrastruktur gas yang masif," tutur Hadi.

Peran Pertamina dan Arah Kebijakan

Dari sisi operator, PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya yaitu Pertamina Patra Niaga menyatakan kesiapan untuk mendukung setiap kebijakan pemerintah terkait pengembangan kilang.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth Dumatubun menegaskan bahwa pihaknya akan mengikuti arahan dan kajian yang ditetapkan pemerintah, termasuk dalam menjalin kerja sama dengan mitra luar negeri.

Pengalaman Pertamina dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Kilang Petrokimia Balongan (KPB) yang melibatkan mitra global menjadi modal penting untuk mengakselerasi proyek serupa ke depan.

“Kerja sama dapat dijalin dengan negara manapun yang memenuhi kesepakatan. Contoh pembangunan kilang RDMP/KPB juga bekerja sama dengan luar negeri," kata Roberth.

Pada akhirnya, bisnis kilang di Indonesia berada di persimpangan antara peluang ekonomi dan kepentingan strategis nasional.

Di satu sisi, defisit BBM yang besar menjanjikan potensi cuan yang menggiurkan bagi investor. Di sisi lain, kompleksitas investasi dan risiko eksternal menuntut perencanaan yang matang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Prabowo Terima Menteri Investasi, Dorong Percepatan Hilirisasi di 13 Lokasi di Tanah Air
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Persib Dikejar Borneo, Hodak Kirim Pesan Penting Jelang Hadapi Arema FC di Kandang Sendiri
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Studi Psikologi: Anak Perempuan yang Blak-blakan Bantu Buka Komunikasi Keluarga
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pegadaian Championship: Samai Rekor Marcelo Braga, Gustavo Tocantins Ingin Lebih Lama Membela PSS
• 6 jam lalubola.com
thumb
Edarkan Narkoba di Lapas, Robig Zaenudin Eks Polisi Penembak Mati Siswa SMK Dipindahkan ke Nusakambangan
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.