REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak institusi kesehatan menghadapi tekanan yang tidak ringan. Hal itu terjadi di tengah kompetisi yang semakin ketat, ketergantungan pada segelintir dokter anchor, regulasi yang terus berkembang, serta kebutuhan pendanaan yang tidak pernah berhenti.
Tidak sedikit rumah sakit (RS) yang tumbuh secara 'natural', berkembang dari waktu ke waktu tanpa fondasi sistem yang kuat. Operasional berjalan, tetapi tidak terstandardisasi. Kinerja terlihat stabil, tetapi sulit diukur. Ketika tekanan datang, organisasi goyah karena terlalu bergantung pada individu, bukan sistem.
Baca Juga
GoRujuk Berbasis AI Diluncurkan, UNM Dorong Revolusi Layanan Rumah Sakit
Ibu Bayi yang Hampir Tertukar di RSHS Bandung Somasi Rumah Sakit
Kemenkes Soroti Promosi Vape di Medsos yang Picu Minat Remaja
Menjawab kompleksitas tersebut, Medivara Healthcare Consulting hadir bukan sekadar sebagai konsultan, tetapi sebagai execution partner dalam industri kesehatan. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang berhenti pada strategi, Medivara terlibat langsung hingga ke level implementasi. Hal itu untuk memastikan setiap perubahan benar-benar terjadi di lapangan.
"Banyak rumah sakit ingin berubah, tetapi berhenti di tahap perencanaan. Tantangan sebenarnya adalah eksekusi. Di situlah kami berperan, memastikan transformasi benar-benar berjalan dan menghasilkan dampak," ujar kata Lead Advisor Clinical Operations & Governance Excellence Medivara,Rima Fatmasari, S.Apt., MARS dalam siaran pers di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut dia, pendekatan itu telah terbukti dalam transformasi Rumah Sakit Dharma Nugraha di Jakarta Timur. Rumah sakit tersebut memiliki sejarah panjang di bidang onkologi yang sebelumnya menghadapi tantangan serius dalam konsistensi operasional dan kepercayaan pasien.