Petani di Garis Depan Krisis Iklim

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Frekuensi, intensitas, dan durasi peristiwa panas ekstrem meningkat tajam setengah abad terakhir, dan risiko pada sistem pangan-pertanian serta ekosistem bakal melonjak di masa depan seiring laju pemanasan global. Petani dan pekerja pertanian berada di garis depan dengan risiko kematian akibat panas 35 kali lebih tinggi dibandingkan sektor lain

Laporan baru berjudul “Extreme heat and agriculture” dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), menyoroti tentang situasi Bumi yang memanas, dan dampaknya terhadap sektor pangan dan pertanian.

“ Laporan ini menyoroti bahwa panas ekstrem merupakan pengganda risiko utama, memberikan tekanan yang meningkat pada tanaman, ternak, perikanan, dan hutan, serta pada komunitas dan perekonomian yang bergantung padanya,” kata Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu, menyertai laporan yang dikeluarkan pada Rabu (22/4/2026) ini.

Baca JugaPetani Semakin Rentan Gagal Panen, Segera Manfaatkan Data Meteorologi

Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Celeste Saulo mengatakan, panas ekstrem semakin menentukan kondisi di mana sistem pangan-pertanian beroperasi.

“Lebih dari sekadar bahaya iklim berdiri sendiri, panas ekstrem bertindak sebagai faktor risiko yang saling memperkuat, memperbesar kelemahan dalam sistem pertanian. Peringatan dini dan layanan iklim seperti prakiraan musiman amat penting untuk membantu kita beradaptasi dengan realitas baru ini,” tambahnya.

Laporan bersama FAO-WMO itu menjelaskan ilmu fisika di balik panas ekstrem, kerentanan yang ditimbulkannya, dampak yang telah diamati dan diproyeksikan terhadap pertanian, strategi adaptasi, studi kasus, serta memberikan rekomendasi kebijakan.

Lebih dari sekadar bahaya iklim berdiri sendiri, panas ekstrem bertindak sebagai faktor risiko yang saling memperkuat, memperbesar kelemahan dalam sistem pertanian.

Laporan tersebut dirilis bertepatan dengan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April, menyoroti keterkaitan antara perubahan iklim, ketahanan pangan, sistem pertanian, dan kesehatan ekosistem.

Dari tanaman, ikan, hingga ternak

Dalam laporan ini, dampak peristiwa panas ekstrem disebutkan sangat bergantung pada konteks waktu dan lokasi terjadinya. Untuk sebagian besar spesies ternak umum, stres mulai terjadi pada suhu di atas 25 derajat celcius.

Hewan yang lebih rentan seperti ayam dan babi, ambang ini bahkan lebih rendah, sekitar 24–25 derajat celcius, karena mereka tidak memiliki kelenjar keringat untuk mendinginkan tubuh.

Begitu suhu melewati ambang suhu ini, tubuh binatang ternak pada umumnya mulai kehilangan kemampuan menjaga keseimbangan panas. Ketika panas meningkat, reaksi pertama ternak biasanya terlihat dari perilaku berhenti makan.

Baca JugaPetani Kecil Paling Rentan Terdampak Perubahan Iklim

Pada titik ini, sapi, kambing, dan hewan ternak lain memasuki fase heat stress atau tekanan panas yang memaksa tubuh mengalihkan energi dari produksi menuju sekadar bertahan hidup.

Pada babi, misalnya, konsumsi pakan bisa turun 15–20 persen, dan dampaknya langsung terasa pada pertumbuhan turun hingga 21–30 persen dan efisiensi pakan memburuk drastis. Pada sapi dan ruminansia lain, efeknya lebih kompleks, memicu gangguan metabolisme, mikroba rumen melemah, dan penyerapan nutrisi menurun.

Dalam industri susu, panas ekstrem tidak hanya menurunkan volume produksi, tetapi juga kualitasnya. Kadar lemak dan protein susu ikut turun. Pada tingkat ekstrem, gelombang panas bahkan meningkatkan angka kematian ternak.

Bahkan, ikan dapat mengalami gagal jantung saat mempertahankan laju pernapasan tinggi di perairan, terutama ketika panas ekstrem menurunkan kadar oksigen terlarut. Pada tahun 2025, lebih dari 90 persen lautan global mengalami setidaknya satu gelombang panas laut, menurut laporan State of the Global Climate 2025 dari WMO.

Sementara itu, untuk sebagian besar tanaman pangan utama, penurunan hasil mulai terjadi pada suhu di atas 30 derajat celcius, bahkan lebih rendah untuk tanaman seperti kentang dan jelai.

Panas mulai merusak kehidupan tanaman pangan pada ambang di atas 35 derajat celcius. Di atas batas ini, tanaman, hewan, dan organisme air mulai mengalami stres fisiologis. Produksi jagung, gandum, hingga padi turun hingga 4 - 10 persen di setiap kenaikan 1 derajat celsius.

Dampak panas ekstrem di pertanian tidak berdiri sendiri. Ia menghantam tanaman, melemahkan ternak, menguras perikanan, hingga memicu kebakaran hutan. Namun hal paling berbahaya, panas ekstrem memperparah krisis lain yakni kekeringan, krisis air, hingga ledakan hama sehingga bisa menciptakan efek domino yang sulit dikendalikan.

Tekanan terhadap petani

Jika selama ini dampak panas ekstrem terhadap pertanian umumnya menyoroti pada penurunan produksi, dalam laporan terbaru FAO-WMO ini, mereka menggarisbawahi ancaman risiko yang meningkat bagi petani. Pekerja pertanian, menurut laporan ini, tidak punya “ruang aman”.

Baca JugaPemahaman Iklim Dongkrak Produktivitas Pertanian

Sawah, ladang, tambak, dan hutan adalah ruang kerja terbuka dan tanpa pendingin, tanpa perlindungan memadai. Ketika suhu melampaui batas fisiologis tubuh, pilihan mereka sederhana: berhenti bekerja dan kehilangan penghasilan, atau bekerja dengan risiko kesehatan serius, bahkan kematian. Risiko kematian akibat panas pada pekerja pertanian 35 kali lebih tinggi dibandingkan sektor lain. Ini bukan sekadar statistik.

Menurut laporan, jumlah hari dalam setahun ketika suhu terlalu panas untuk bekerja diperkirakan dapat meningkat hingga 250 hari per tahun di sebagian besar Asia Selatan, Afrika Sub-Sahara tropis, serta beberapa wilayah Amerika Tengah dan Selatan.

Laporan Kompas.id selama El Nino pada 2023 - 2024 juga menemukan tentang paparan suhu panas yang dikeluhkan petani di lumbung-lumbung padi di pantai utara Jawa.

Para petani padi, yang rata-rata berumur paruh baya, bahkan lanjut usia, karena gagalnya regenerasi petani muda, lalu meresponsnya dengan mengubah jam bekerja, datang ke sawah lebih pagi dan kembali saat sore. Mereka juga harus beristirahat dan minum air lebih banyak.

Beberapa petani, terutama para buruh tani, mengaku menjadi semakin sering berendam di saluran air, bahkan ada yang memasukkan es batu ke dalam baju karena tak tahan dengan panas yang memanggang.

Sejumlah petani di Klaten, Jawa Tengah dan Indramayu, Jawa Barat, juga menginformasikan rekan mereka yang meninggal mendadak saat bekerja di bawah terik matahari.

Sementara di Bojonegoro, petani melaporkan adanya kasus kanker kulit. Sekalipun meninggalnya petani saat bekerja ini tak bisa dikonfirmasi penyebab utamanya, hal ini seharusnya menjadi sinyal perlunya perhatian lebih terhadap keamanan petani.

Serial Artikel

Bumi Terlalu Panas untuk Petani

Perubahan iklim akan mengurangi hasil panen dan membuat tantangan ketahanan pangan menjadi lebih buruk.

Baca Artikel

Banyak studi menunjukkan, paparan panas memiliki efek langsung pada tubuh, seperti dehidrasi, heat stroke, ancaman kanker kulit non-melanoma, hingga masalah kesehatan mental.

Penelitian Nicholas H Wolff dari The Nature Conservancy dan tim di jurnal Lancet Planetary Health (2021) menunjukkan, kenaikan suhu di Berau, Kalimantan Timur hingga 0,95 derajat celsius dalam kurun 2022 hingga 2018, telah meningkatkan risiko kematian.

Menurut kajian ini, peningkatan suhu harian di Berau ini meningkatkan 7,3–8,5 persen kematian dari semua penyebab atau 101–118 tambahan kematian per tahun pada tahun 2018.

Selain itu peningkatan suhu ini menyebabkan peningkatan waktu kerja yang tidak aman sebesar 0,31 jam per hari di daerah yang terdeforestasi dibandingkan dengan 0,03 jam per hari di daerah yang mempertahankan tutupan hutan.

Paparan panas jelas mengancam produktivitas kerja petani. Laporan di jurnal Global Change Biology pada Jumat (19/1/2024) menyebutkan, kapasitas fisik petani untuk bekerja di laur ruangan dinilai akan terus menurun seiring kenaikan suhu.

Menurut laporan ini, separuh dari petani di lahan pertanian di dunia bekerja di bawah kapasitas 86 persen dalam kondisi iklim ”baru-baru ini” atau dalam periode 1991–2010.

Para peneliti memproyeksikan, pada akhir abad ini, produktivitas tenaga kerja di wilayah penghasil tanaman pangan di Asia Tenggara hingga Amerika Selatan diperkirakan mengalami penurunan kapasitas kerja fisik hingga 70 persen.

Menurut laporan terbaru FAO-WMO, bahaya penuh dari panas ekstrem tidak hanya terletak pada dampak langsungnya bagi petani, tetapi juga perannya sebagai pengganda risiko terhadap tekanan air, kekeringan mendadak, dan kebakaran hutan, serta dalam mempercepat penyebaran hama dan penyakit.

Laporan tersebut memberikan gambaran komprehensif tentang dampak gabungan tersebut, termasuk risiko yang masih kurang dipahami seperti kekeringan mendadak yang terutama dipicu kenaikan suhu yang cepat.

Dengan kondisi ini, laporan itu menekankan perlunya inovasi dan penerapan langkah-langkah adaptasi, seperti pemuliaan selektif dan pemilihan tanaman disesuaikan dengan kondisi iklim baru, penyesuaian waktu tanam, serta perubahan praktik pengelolaan yang bisa melindungi tanaman dan aktivitas pertanian dari dampak panas ekstrem.

Sistem peringatan dini, menurut Celeste Saulo, menjadi alat amat penting untuk membantu petani merespons panas ekstrem. Berikutnya, akses terhadap layanan keuangan seperti bantuan tunai, asuransi, skema pembayaran, dan bentuk lainnya, menjadi dasar bagi seluruh opsi adaptasi.

Melindungi masa depan pertanian dan menjamin ketahanan pangan global tak hanya butuh penguatan ketahanan di tingkat usaha tani, tapi juga kemauan politik kolektif untuk berbagi risiko, serta transisi tegas menjauh dari masa depan dengan emisi tinggi.

Tanpa dukungan untuk menurunkan risiko kesehatan petani, produksi pertanian dan pangan ke depan bakal terancam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramalan Keberuntungan 5 Weton pada 25 April 2026, Sabtu Kliwon Mulailah Fokus pada Investasi Jangka Panjang
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Armand Hermawan Diangkat Jadi Presdir & CEO Lintasarta
• 9 jam laluidxchannel.com
thumb
Generasi Melek Digital, Diya Andalkan Mobile JKN Akses Layanan Kesehatan
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Binding Offer Tuntas, Emiten Prajogo (PTRO) Siap Genggam Saham Tambang Emas Papua Nugini
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Survival Mode Diaktifkan, Menkeu Purbaya: Pajak Tak Boleh Main-main, Bisa Hancur Kita
• 2 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.