JAKARTA, KOMPAS - Lebih dari seperempat orang dewasa di Indonesia menderita prediabetes, suatu kondisi yang ditandai dengan kadar gula darah lebih tinggi dari normal yang seringkali mengarah pada diabetes tipe 2. Studi baru menemukan bahwa vitamin D dapat membantu menunda atau mencegah perkembangan tersebut, tetapi hanya pada orang dengan variasi genetik tertentu.
Studi yang diterbitkan di JAMA Network Open pada Kamis (23/4/2026) ini menemukan bahwa orang dewasa prediabetes dengan variasi tertentu pada gen reseptor vitamin D memiliki risiko 19 persen lebih rendah terkena diabetes ketika mengonsumsi vitamin D dosis tinggi setiap hari.
Temuan ini diharapkan dapat membantu membentuk perawatan medis yang lebih personal, berpotensi menunda atau mencegah timbulnya diabetes bagi sebagian besar dari 115 juta orang Amerika yang hidup dengan prediabetes.
Para peneliti menganalisis data dari studi D2d, sebuah uji klinis multisitus besar yang menguji efek 4.000 unit vitamin D per hari dibandingkan plasebo pada lebih dari 2.000 orang dewasa di Amerika Serikat (ASI) dengan prediabetes. Uji ini untuk melihat apakah dosis tinggi vitamin D setiap hari akan menurunkan kemungkinan individu berisiko tinggi terkena diabetes.
Uji coba awal tidak menemukan pengurangan risiko diabetes yang signifikan di antara semua peserta. "Namun, hasil D2d memunculkan pertanyaan penting: Bisakah vitamin D masih bermanfaat bagi sebagian orang?" kata Bess Dawson-Hughes, penulis utama studi ini dan ilmuwan senior di Jean Mayer USDA Human Nutrition Research Center on Aging di Tufts University.
Diabetes memiliki begitu banyak komplikasi serius yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Jika periode waktu yang akan dihabiskan seseorang untuk hidup dengan diabetes tersebut dapat ditunda, efek samping berbahaya tau keparahannya akan dapat dikurangi atau bahkan dihentikan.
Melalui analisis sebelumnya, tim peneliti D2d menemukan bahwa kadar 25-hidroksi vitamin D dalam darah sebesar 40 hingga 50 nanogram per mililiter (ng/mL atau lebih tinggi dikaitkan dengan pengurangan risiko diabetes yang substansial dan semakin besar pada peserta.
Vitamin D yang beredar dalam darah diubah menjadi bentuk aktifnya di dalam tubuh sebelum berikatan dengan reseptor vitamin D, protein yang membantu sel merespons vitamin tersebut.
Para peneliti bertanya-tanya apakah perbedaan genetik pada reseptor ini dapat menjelaskan mengapa beberapa orang mendapat manfaat dari vitamin D sementara yang lain tidak. Sel-sel penghasil insulin di pankreas memiliki reseptor vitamin D, yang menunjukkan bahwa vitamin tersebut dapat membantu memengaruhi pelepasan insulin dan pengendalian gula darah.
Pada studi ini, Dawson-Hughes dan rekan-rekannya menganalisis data genetik dari 2.098 peserta uji coba yang telah menyetujui pengujian DNA menurut dua kelompok: peserta yang tampaknya mendapat manfaat dari suplementasi vitamin D dan mereka yang tidak. Kemudian mereka membandingkan tingkat respons berdasarkan subkelompok pasien yang diurutkan menurut tiga variasi umum dalam gen reseptor vitamin D.
Analisis ini mengungkapkan bahwa orang dewasa dengan variasi AA dari gen reseptor vitamin D ApaI, sekitar 30 persen dari populasi studi, tidak merespons pengobatan harian dengan dosis tinggi vitamin D, dibandingkan dengan plasebo.
Diperlukan pemeriksaan genetik untuk melihat kesesuaiannya dengan manfaat konsumsi vitamin D.
Sebaliknya, analisis menemukan bahwa pengobatan yang sama pada orang dewasa dengan variasi AC atau CC dari gen reseptor vitamin D menunjukkan penurunan risiko yang signifikan untuk mengembangkan diabetes dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi plasebo.
“Temuan ini mungkin merupakan langkah penting menuju pengembangan pendekatan personal untuk menurunkan risiko terkena diabetes tipe 2 di antara orang dewasa berisiko tinggi,” kata Anastassios Pittas, penulis senior studi ini, seorang profesor kedokteran di Tufts University School of Medicine, dan kepala endokrinologi, diabetes, dan metabolisme di Tufts Medical Center.
Pittas menambahkan, salah satu hal yang membuat vitamin D menarik sebagai alat pencegahan potensial adalah karena harganya murah, mudah didapatkan, dan mudah dikonsumsi.
Diabetes saat ini menjadi salah satu penyakit kronis yang tumbuh besat secara global, dengan kasus prediabetes yang juga sangat besar. Indonesia dinobatkan sebagai negara ketiga terbanyak kasus prediabetes di dunia pada tahun 2019 dengan jumlah penderita sebesar 29,1 juta kasus.
Prediabetes memiliki risiko tinggi berkembang menjadi penyakit diabetes mellitus tipe 2 dan berdampak pada peningkatan kasus penyakit tidak menular yang dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi prediabetes di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari seperempat populasi dewasa.
Sekalipun ada bukti tentang manfaat vitamin D terhadap penderita prediabetes, para penulis memperingatkan bahwa temuan ini tidak berarti orang harus mulai mengonsumsi vitamin D dosis tinggi sendiri untuk mencegah diabetes. Diperlukan pemeriksaan genetik untuk melihat kesesuaiannya dengan manfaat konsumsi vitamin D, selain juga rekomendasi mengenai dosis.
Pedoman saat ini merekomendasikan 600 IU per hari untuk orang berusia 1 hingga 70 tahun dan 800 IU per hari untuk mereka yang berusia lebih dari 70 tahun. Mengonsumsi terlalu banyak vitamin D dapat berbahaya dan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko jatuh dan patah tulang pada orang dewasa yang lebih tua. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk lebih memahami individu mana yang mungkin mendapat manfaat dari dosis harian yang lebih tinggi.
"Temuan kami menunjukkan bahwa pada akhirnya kita mungkin dapat mengidentifikasi pasien pradiabetes mana yang paling mungkin mendapat manfaat dari suplementasi vitamin D tambahan. Pada prinsipnya, ini dapat melibatkan satu tes genetik yang relatif murah,” kata Dawson-Hughes.





