Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) optimistis bahwa pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Pulau Jawa mampu mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8 persen.
Di tengah upaya pemerataan pembangunan melalui penguatan kawasan di luar Pulau Jawa, HKI memandang bahwa Pulau Jawa tetap memiliki keunggulan komparatif yang sulit tergantikan, mulai dari kesiapan infrastruktur, kedekatan dengan pasar, hingga ekosistem industri yang telah terbentuk secara matang. Hal ini menjadikan Pulau Jawa sebagai katalis utama dalam mempercepat realisasi investasi dan pertumbuhan industri nasional.
Di sisi lain, dinamika geopolitik global yang mendorong terjadinya relokasi industri serta terbukanya peluang investasi baru, khususnya dari kawasan Timur Tengah, turut meningkatkan minat investor terhadap KEK di Indonesia.
"Investor saat ini semakin menekankan pentingnya ketersediaan insentif yang kompetitif, kepastian regulasi, serta fleksibilitas dalam pemilihan lokasi investasi sebagai bagian dari strategi diversifikasi risiko dan rantai pasok," ujar Ketua Umum HKI, Akmad Ma’ruf Maulana dalam keterangannya, Jumat (24/3).
Dia menjelaskan, kebijakan pengembangan KEK perlu tetap adaptif dan terbuka, termasuk dengan tidak membatasi pengembangan kawasan hanya di luar Pulau Jawa. Diversifikasi pengembangan KEK, baik di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa, akan memperkuat daya tarik Indonesia sebagai destinasi investasi global yang kompetitif, sekaligus memberikan opsi yang lebih luas bagi investor sesuai dengan kebutuhan bisnis dan rantai pasok mereka.
Ma'ruf menyampaikan bahwa pendekatan pembangunan ekonomi ke depan perlu mengedepankan keseimbangan antara pemerataan dan optimalisasi potensi wilayah yang telah siap.
“Pulau Jawa masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto. Dalam konteks pencapaian target pertumbuhan 8 persen, kita membutuhkan langkah yang terukur dan berdampak cepat. KEK di Pulau Jawa dapat menjadi instrumen strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ma'ruf menekankan bahwa pengembangan KEK di Pulau Jawa tidak hanya berfokus pada ekspansi industri konvensional, tetapi juga diarahkan pada transformasi menuju industri bernilai tambah tinggi.
“Kami melihat KEK di Pulau Jawa ke depan dapat difokuskan pada pengembangan industri berbasis teknologi tinggi serta industri spesifik yang memiliki keunggulan kompetitif, seperti industri halal. Dengan pendekatan ini, KEK tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga pusat inovasi dan pertumbuhan ekonomi baru,” tambahnya.
HKI menilai bahwa keberadaan KEK yang terintegrasi dengan infrastruktur modern akan memperkuat daya tarik investasi, sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional. Dalam konteks tersebut, HKI mendorong pemerintah untuk terus membuka ruang pengembangan KEK di Pulau Jawa secara selektif dan strategis, tanpa mengesampingkan agenda pemerataan pembangunan antarwilayah.
“Sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan pengelola kawasan menjadi kunci utama agar KEK dapat memberikan kontribusi optimal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan,” tambahnya.





