Pantau - Kementerian Pertanian menegaskan industri kelapa sawit di Indonesia telah menerapkan prinsip keberlanjutan sesuai standar global dan regulasi nasional.
Sertifikasi dan Kontribusi Sawit NasionalDirektur Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjen Perkebunan Kementan Kuntoro Boga Andri menyatakan bahwa pengelolaan sawit dilakukan secara legal dan wajib memenuhi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
"Standar yang kita berikan bisa diakui oleh negara lain. Sebagai produsen sawit terbesar dunia, pada dasarnya kita memiliki nilai keberlanjutan yang sama secara universal. Sawit ramah terhadap lingkungan yang kita pijaki dan memberikan dampak positif pada lingkungan dan keberlanjutan," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa lahan sawit tidak termasuk deforestasi karena telah diatur melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33 Tahun 2025 yang mengatur aspek lingkungan dan tata kelola.
Selain itu, sawit disebut memiliki kontribusi besar terhadap sektor energi dan pangan, termasuk rencana implementasi B50 pada Juli 2025.
Data Global dan Tantangan PersepsiBerdasarkan data Kementan, luas areal kelapa sawit Indonesia mencapai 16,83 juta hektare pada 2025–2026 dan menyumbang devisa nonmigas sekitar Rp440 triliun pada 2024.
Industri ini juga menyerap sekitar 16 juta tenaga kerja serta berperan dalam pertumbuhan ekonomi daerah berbasis perkebunan.
"Jadi sawit merupakan komoditas strategis nasional yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian Indonesia,tak hanya pangan tetapi juga energi," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) Musdhalifah Machmud menilai kritik terhadap sawit seringkali tidak berbasis data.
“Saat ini untuk penggunaan lahan sawit di dunia itu hanya 28,85 juta hektar tapi mampu memproduksi 80 juta ton minyak nabati. Kontribusi kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan pangan dunia adalah sekitar 34 persen hanya dengan menggunakan 7 persen lahan dunia,” ujarnya.
Ia menambahkan produktivitas sawit lebih efisien dibandingkan komoditas lain seperti kedelai yang membutuhkan lahan jauh lebih luas.
“Padahal, penggunaan lahan untuk vegetable oil misalnya soybean sebanyak 100-200 juta hektar tetapi kontribusinya hanya sekitar 15-20 persen," katanya.
Ke depan, industri sawit diharapkan terus memperkuat aspek keberlanjutan, meningkatkan produktivitas, serta memperbaiki komunikasi global terkait pengelolaannya.




