Filipina sebagai Ketua ASEAN 2026 mendesak Myanmar melepaskan Aung San Suu Kyi, Jumat (24/4). Desakan itu merupakan upaya ASEAN untuk menekan Myanmar agar lebih banyak membebaskan tahanan politik.
“Kami menegaskan komitmen kami membantu Myanmar, sebagai bagian integral ASEAN, untuk mencapai solusi jangka panjang serta damai atas krisis politik di negaranya,” kata Filipina mewakili 11 negara anggota, seperti dikutip dari Reuters.
Suu Kyi merupakan penerima Nobel Perdamaian serta mantan kepala pemerintahan Myanmar. Ia terguling melalui kudeta pada 2021 lalu.
Kondisi Suu Kyi menjadi perhatian berbagai negara serta organisasi HAM sejak pertama kali ditahan militer pada 2021.
Bahkan, Menlu Thailand Sihasak Phuangketkeow membahas kondisi Suu Kyi saat bertemu Presiden Myanmar Min Aung Hlaing. Presiden tersebut merupakan tokoh di balik kudeta Myanmar beberapa tahun lalu.
Sihasak menyebut, pemerintahan Min Aung Hlaing mengeklaim mereka memperhatikan kondisi kesehatan dan kebutuhan Suu Kyi.
Suu Kyi Dipenjara 27 TahunAdapun Suu Kyi saat ini menjalani hukuman penjara 27 tahun. Ia divonis atas berbagai pelanggaran seperti korupsi, kecurangan pemilu, hingga membocorkan rahasia negara.
Sekutu Suu Kyi, kelompok oposisi Myanmar, hingga lembaga HAM meyakini hukuman terhadap perempuan berusia 80 tahun itu sarat motif politik.
Sementara itu, saat dilantik, Min Aung Hlaing menegaskan prioritas utamanya adalah perdamaian dan rekonsiliasi di Myanmar. Ia juga menargetkan normalisasi hubungan dengan ASEAN.
Keinginan normalisasi hubungan tersebut mendapat dukungan dari Thailand.





