Air Mata Tumpah di Depan Kabah

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Sebulan menjelang puncak musim haji, Kota Mekkah berbenah. Pelataran Masjidil Haram, masjid paling suci bagi umat Muslim, dan area-area lainnya, termasuk tempat tawaf dan sai, serta fasilitas-fasilitas pendukung lainnya, seperti berbagai titik tempat minum air zam-zam, dirapikan. Ibadah haji adalah hajatan akbar, dengan puncaknya pada 26 Mei mendatang, akan dihadiri tamu-tamu Allah dari seluruh dunia.  

Para petugas di sejumlah sudut kota, terutama mendekati kompleks Masjidil Haram, juga memperlihatkan keramahan tanpa meninggalkan kesiagaan untuk menyambut tamu-tamu Allah pada musim haji. ”Selamat datang,” ujar beberapa petugas di Masjidil Haram kepada kami, rombongan petugas haji Indonesia, Kamis (23/4/2026) siang.

Para pengunjung kota suci, Mekkah maupun Madinah, baik untuk menunaikan umrah maupun haji, biasa disebut dengan tamu-tamu Allah (dhuyuufurrahman). Entah apakah karena tahu kami berasal dari Indonesia ataukah keramahan seperti itu memang selalu ditunjukkan kepada para pengunjung kota suci ini. Khidmatul hujjaj syarafuna, melayani jemaah haji adalah sebuah kehormatan, begitu moto Pemerintah Arab Saudi.

Baca JugaArab Saudi Bersiap Menyambut Jemaah Haji Indonesia

Di salah satu pos pemeriksaan antara kota Jeddah dan Mekkah, banyak petugas setempat melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah bus yang kami naiki. Kami, rombongan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Daerah Kerja (Daker) Mekkah sebanyak 160 orang, tiba pada Kamis pagi. Di Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Kepala Daker Mekkah Ihsan Faisal menyambut kedatangan kami.

Ini rombongan ketiga PPIH Arab Saudi yang diberangkatkan Kementerian Haji dan Umrah RI untuk juga melayani jemaah haji di Tanah Suci. Sebelum kami, sebanyak 682 petugas PPIH telah tiba lebih dulu di Madinah. Mereka menyambut kedatangan jemaah haji gelombang pertama yang mengalir datang di Kota Nabi sejak Rabu (22/4/2026) lalu.

Hingga Kamis (23/4/2026), menurut keterangan Kementerian Haji dan Umrah RI, sebanyak 40 kelompok terbang (kloter) dengan total 15.349 jemaah telah diberangkatkan ke Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, 9.884 jemaah yang tergabung dalam 25 kloter telah tiba di Madinah.

Tahun ini Indonesia mengirimkan 221.000 jemaah, terdiri atas 203.320 jemaah haji reguler dan 17.680 jemaah haji khusus yang terbagi ke dalam 528 kelompok terbang (kloter). Jemaah gelombang pertama akan tinggal di kota suci itu selama delapan atau sembilan hari. Mereka baru bergeser ke Mekkah mulai 1 Mei. 

Sebagai bagian dari persiapan menyambut mereka, kami—petugas haji Daker Mekkah--melakukan orientasi mengunjungi sejumlah tempat, salah satunya Masjidil Haram. Dari kantor Daker Mekkah di kawasan Aziziyah, penginapan kami di wilayah timur Mekkah dengan jarak sekitar 10 kilometer berkendara dari Masjidil Haram, kami naik bus yang disediakan dan turun di Terminal Jabal Kabah, satu dari tiga terminal di Masjidil Haram.

Baca JugaMecca Route, Pemeriksaan Keimigrasian Jemaah Haji Tuntas di Bandara Sultan Hasanuddin

Kamis siang itu, panas terik. Sengatan teriknya terasa hingga pori-pori kulit. Akibat sengatan teriknya, wajah dan kulit kami terlihat memerah agak kehitaman. Beberapa teguk air zam-zam satu gelas di tepi pelataran Masjidil Haram melegakan tenggorokan. Kelegaan itu berlipat-lipat saat memasuki area utama Masjidil Haram.

Dari pintu gerbang King Fahd di sisi tenggara masjid, pandangan terfokus ke bangunan berbentuk kubus berselubung kain warna hitam (kiswah). Sejak Sabtu (18/4/2026) lalu, bagian bawah kiswah itu digulung ke atas, memperlihatkan kotak-kotak batu dan kain warna putih di hampir separoh bagian bawahnya, penanda fase persiapan musim haji.

Air mata keharuan

Itulah Kabah, kiblat bagi umat Islam dalam shalat lima waktu. Allahumma zid hadzal baita tasyriifan wa ta’dziiman wa takriiman wa mahaabatan, wa zid man syarrafahu wa ‘adzdzamahu wa karramahu mimman hajjaahu awi’tamarahu tasyriifan wa ta’dziiman wa takriiman wa birran,” demikian Abdul Kholiq, rekan sesama anggota PPIH Arab Saudi lulusan Universitas Ummul Qura, Mekkah, memandu doa saat kami memandang bangunan itu penuh takjub.

Jika diterjemahkan, doa itu berarti: Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada Bait (Kabah) ini. Dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kebaikan.  

Seperti terhipnotis, pada momen itu, sebagian dari kami bercucuran air mata hingga ada yang menangis penuh keharuan. Air mata pun tumpah tak terbendung.

”Saya menangis karena merasa belum layak berada di sini, ibadah saya masih bolong-bolong, tapi dipanggil Allah dan bisa mengalami semua ini,” tutur Wibi Pangestu Pratama (31), wartawan Bisnis Indonesia yang juga anggota PPIH Arab Saudi. “Ini karunia yang benar-benar tak terlukiskan. One shoot. Saya wartawan bidang ekonomi makro dan finansial, pertama kali ini mendaftar dan ikut tes petugas haji, dan langsung diterima.”

Ia tak punya kata-kata yang bisa dengan tepat melukiskan keharuan dan kebahagiaan itu.

Di depan Kabah, Wibi menangis sesenggukan. Air matanya seperti tak berhenti meleleh di wajahnya. Ia tak punya kata-kata yang bisa dengan tepat melukiskan keharuan dan kebahagiaan itu. Baru sehari berselang, ia menuturkan pengalaman spiritual tersebut. Di rumah Allah (Baitullah) ia panjatkan segala doa dan harapan, termasuk harapan untuk segera mendapat momongan setelah enam tahun menikah.

Baca JugaDari Bandara Kertajati, Jemaah Haji Kloter Pertama asal Jabar Berangkat ke Tanah Suci

Pengalaman serupa dirasakan Azizah Hanum, wartawan SCTV yang tak menyangka bisa terpilih sebagai petugas haji dan baru pertama kali ini menapakkan kaki di Tanah Suci. “Saya pernah mendengar, ada orang yang sudah tiba di Masjidil Haram, tapi tidak bisa melihat Kabah. Saya sempat takut mengalami hal itu.” ujar Hanum, panggilan akrabnya.

Seperti Wibi, Hanum juga merasa belum pantas masuk di rumah Allah paling suci, Masjidil Haram. Ia menuturkan, mamanya sering bercerita tentang kenikmatan berziarah ke Mekkah dan mendorong dirinya untuk menabung agar bisa pergi ke Tanah Suci. Namun, saat itu pergi ke Tanah Suci belum jadi prioritas Hanum.

Hanum mengaku, kalau tidak pelesir ke Jepang atau negara-negara lain, tabungannya biasanya untuk belanja koleksi parfum. Untuk merasakan kenikmatan ziarah ke Tanah Suci, demikian Hanum ingat pesan mamanya: “Kamu harus mengalaminya sendiri”.

Pengalaman itu terkabul setelah Hanum terpilih sebagai petugas haji. Di depan Kabah, ia berurai air mata, tenggelam dalam tangisan haru. “Ingat diri saya yang belum pantas, tetapi diterima di rumah Allah dan bisa menyaksikan Kabah, benar-benar pengalaman batin yang tak terlukiskan,” ujarnya. Ia mengaku merasa seperti mendapatkan arah baru dalam hidup.

Baca JugaTak Lewat Asrama Haji, Jemaah Embarkasi Yogyakarta Mulai Bertolak ke Tanah Suci

Abdul Kholiq, yang ditunjuk memimpin kunjungan ke Masjidil Haram siang itu, mengajak semua untuk sujud syukur. “Bisa sampai di Masjidil Haram dan bisa menyaksikan Kabah adalah panggilan Allah. Tidak semua orang yang sehat, masih muda, atau kaya bisa mengalami kenikmatan seperti ini,” ujar pria yang pernah 10 tahun tinggal di Mekkah ini.

Menurut Erti Herlina, Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daker Mekkah, menjelaskan, rasa haru hingga menangis berurai air mata saat melihat Kabah merupakan pengalaman spiritual seorang Muslim yang merasakan kenikmatan mendapat panggilan Allah untuk hadir di rumah suci-Nya. Selain itu, momen tersebut juga bisa sebagai ekspresi rasa syukur, sekaligus penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan selama hidup.

Dari pengalaman jemaah yang pernah dibimbingnya, Erti mengungkapkan, sedemikian haru dan bahagianya, banyak jemaah tidak bisa berkata-kata saat memandang Kabah. Ada yang sudah tak ingat lagi akan meminta apa dalam doanya karena meyakini, tanpa kata-kata pun, Allah sudah tahu dan akan mengabulkan semua keinginan dan harapan.

“Air mata itu sudah berbicara tanpa banyak kata-kata,” ujar Erti.

Baca JugaJemaah Haji Embarkasi Surabaya Rampungkan Persiapan Akhir

Semakin sore, semakin banyak jemaah berdatangan ke Masjidil Haram. Kami berpapasan dengan jemaah yang terus mengalir dari berbagai penjuru Kota Mekkah untuk memasuki masjid itu dan, tentu saja, memandang Kabah. Ada pemeriksaan kartu identitas oleh petugas sebelum masuk ke pelataran Masjidil Haram.

Namun, karena nikmatnya pengalaman spiritual memandang Kabah, prosedur tersebut bukanlah ganjalan. Baru saja kami tiba di penginapan di Kantor Daker Mekkah, sebagian dari kami mengaku sudah rindu untuk kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat tahajud di sana. Kerinduan itu akan selalu tumbuh di hati yang pernah merasakan pengalaman spiritual tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenbud terus genjot revitalisasi keraton untuk pemajuan budaya
• 33 menit laluantaranews.com
thumb
Dua Pemainnya Diborong Pink Spiders, Red Sparks akan Sulit Juara V-League Musim Depan Sekalipun Megawati Hangestri Comeback?
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadwal dan Lokasi Pemadaman Lampu di Jakarta Hari Bumi 2026, Akhir Pekan Hemat Energi
• 9 jam laludisway.id
thumb
Mulai 25 April, Ada Perubahan Alur Penumpang di Stasiun Velodrome LRT Jakarta
• 16 jam laludetik.com
thumb
Bali United Paksa Persita Telan Kekalahan Keempat Beruntun di BRI Super League, Mike Hauptmeijer Rasakan Peningkatan Performa
• 22 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.