Industri Ban Nasional Terpuruk Akibat Krisis Bahan Baku, Produksi Terpangkas 40 Persen

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

MEDAN, KOMPAS – Industri ban nasional kian terpuruk karena krisis bahan baku berbasis minyak bumi akibat konflik Timur Tengah. Pabrik-pabrik ban terpaksa mengurangi produksi hingga 40 persen. Pelaku industri meminta pemerintah membantu mencari alternatif bahan baku, antara lain dari Rusia.

“Pabrik-pabrik ban dalam negeri semuanya sudah mengurangi produksi karena krisis bahan baku. Sebagian bahkan menyetop mesin produksi,” kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane, Jumat (24/4/2026).

Aziz mengatakan, industri ban menggunakan 30 persen karet alam hasil dari dalam negeri. Sementara itu, 70 persen bahan baku lainnya merupakan bahan kimia berbasis minyak bumi.

Bahan baku utama itu antara lain rubber processing oil (RPO) yang merupakan bahan pembantu pembuat kompon karet, carbon black untuk memperkuat struktur karet, dan nafta yang digunakan untuk ban dalam.

Sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada Februari 2026, bahan baku karet berbasis minyak bumi sangat langka di pasar. Pengiriman bahan baku itu terdampak penutupan Selat Hormuz.

Aziz menyebut, pabrik-pabrik ban di Indonesia biasanya menyiapkan stok bahan baku maksimal untuk tiga bulan. Saat ini, sejumlah pabrik mulai kehabisan bahan baku, termasuk pabrik-pabrik besar. Pabrik ban kini mencari bahan baku di pasar-pasar Singapura.

Beberapa pabrik beruntung dapat bahan baku, tetapi jumlahnya sedikit dan harganya melambung tinggi dengan kenaikan harga hingga 60 persen.

“Kalau kondisi ini terus berlanjut, pabrik ban bisa kolaps. Pabrik terpaksa merumahkan para pekerja hingga pemutusan hubungan kerja. Kondisi industri ban dalam negeri sekarang sangat kritis,” kata Aziz.

Baca JugaIndustri Ban Waswas Pasokan Bahan Baku Terganggu

Aziz menyebut, industri ban merupakan salah satu motor ekonomi nasional. Industri ban juga sangat berpengaruh pada penyerapan karet alam hasil perkebunan di dalam negeri. Sebanyak 85 persen produksi ban Indonesia diekspor. Sementara itu, 15 persen diserap oleh industri otomotif di dalam negeri.

Aziz menyebut, pemerintah harus segera mengambil langkah darurat untuk menyelamatkan industri ban dalam negeri. Industi ban sangat strategis bagi Indonesia. Sebab, selain menggunakan bahan baku impor, industri itu juga menyerap bahan baku karet alam dalam negeri.

Industri ban nasional pun tidak hanya menyasar pasar dalam negeri, tetapi juga pasar global. Investasi model seperti ini sangat menguntungkan karena Indonesia menjadi basis produksi untuk pasar global.

Aziz mengingatkan, industri ban juga sangat terkait dengan industri karet nasional. Indonesia merupakan negara penghasil karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand.

Sebanyak 15 persen produksi karet nasional diserap oleh industri ban di dalam negeri. Terganggunya penyerapan karet oleh industri ban akan sangat berpengaruh pada industri karet secara keseluruhan.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 17.300, Dompet Rumah Tangga dan UMKM Bisa Kempes

“Padahal, kita tahu industri karet di Indonesia menghidupi lebih dari 2,3 juta keluarga petani. Industri ini juga menggerakkan sedikitnya 152 pabrik karet remah,” ungkapnya.

Aziz menyebut, sebelum krisis bahan baku, industri ban nasional sedang menghadapi masalah akibat penyelundupan ban dari China dan India. Ban-ban selundupan itu masuk dari pelabuhan-pelabuhan tikus di Sumatera dan Kalimantan. Ban-ban itu banyak beredar di Indonesia sehingga menggerus penjualan ban di dalam negeri.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara Edy Irwansyah mengatakan, harga karet alam dunia tertekan oleh perang Iran versus Amerika Serikat-Israel. 

Harga karet jenis Technical Specified Rubber (TSR 20) sempat tertekan di bawah harga psikologis 200 dollar Amerika Serikat per kilogram. Namun, saat ini harga sudah kembali di atas 200 dollar AS.

Kalau kondisi ini terus berlanjut, pabrik ban bisa kolaps.

”Pasar karet diwarnai sentimen meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk isu penutupan Selat Hormuz,” kata Edy.

Para pelaku usaha terus memantau kondisi di Timur Tengah untuk mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi terhadap industri dalam negeri. Perang Timur Tengah yang berkecamuk menyebabkan ketidakpastian di pasar komoditas global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPBD DKI Ungkap Lima Kelurahan Rawan Kebakaran, Korsleting Listrik Jadi Penyebab Utama
• 12 jam lalupantau.com
thumb
AS Akan Tembaki Kapal Iran yang Menanam Ranjau di Selat Hormuz
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Induk Instagram Lacak Chat dan Link yang Diklik Pegawai di Google hingga Threads
• 23 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Nggak Suka Obrolan Basa-Basi
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Tersangka Kasus Korupsi Rp 242 M Nangis Saat Ditahan
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.