jpnn.com, MAGELANG - Pabrik rokok HS terus berupaya merangkul kaum difabel untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Hal itu dibuktikan dengan adanya puluhan karyawan difabel yang bekerja di pabrik yang berlokasi di Muntilan, Magelang.
Salah satunya Shinta (34) warga Magelang. Penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara ini menjadi salah satu dari 70 karyawan difabel rokok HS yang bekerja sebagai pelinting dan pengepak rokok di perusahaan yang ada di bawah naungan Surya Group Holding Company itu.
BACA JUGA: Dukung Industri Hasil Tembakau, Bea Cukai Berikan Asistensi ke Pabrik Rokok di Malang
Shinta terlihat semringah. Namun di balik wajah bahagianya itu, ada cerita pedih yang dia lalui sebelum bisa bekerja di pabrik rokok HS. Cerita tentang sulitnya mencari kerja dan stigma negatif masyarakat pada mereka.
"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tetapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda. Menganggap kami tidak mampu tanpa pernah diberi kesempatan," ujar dia.
BACA JUGA: Konser Hey Slank di Malang: Gebrakan Social Movements Pabrikan Rokok HS
Masih ingat betul bagi perempuan satu anak ini ketika terjadi penolakan-penolakan itu. Sakit hati dan kecewa selalu menghantui ketika dia pulang dari tes wawancara.
"Tetapi di pabrik rokok HS ini, saya seperti menemukan kehidupan baru. Tidak hanya diterima kerja tanpa syarat dan pengalaman, tapi kami juga dihormati dan dihargai tanpa dibedakan," jelasnya.
BACA JUGA: Pengusaha Rokok Mangkir, KPK Ancam Jemput Paksa
Sebelum bekerja di HS, Shinta sempat membuka usaha batik tulis kecil-kecilan di rumahnya. Tapi usaha itu tak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi, dia adalah tulang punggung keluarga dan anaknya masih kecil butuh biaya sekolah.
"Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan, saya hutang ke bank," katanya.
Namun kini kehidupannya berangsur membaik. Setelah bekerja di pabrik rokok HS, Shinta mengaku mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Utang-utangnya dilunasi bahkan kini mampu menabung.
Selain lebih sejahtera, Shinta juga mendapat lingkungan pekerjaan yang nyaman. Meski tanpa pengalaman, dia dan 70 karyawan disabilitas lainnya di pabrik rokok HS selalu dilatih dengan sabar, tidak dibedakan dan mendapat fasilitas sama seperti karyawan lainnya. Mereka mendapatkan gaji utuh karena mendapat jatah makan dari pabrik secara gratis.
"Bahkan, HS akan membuatkan mess khusus karyawan disabilitas, itu yang membuat kami nyaman bekerja di sini," ujar dia.
Kenyamanan dalam bekerja ini penting bagi penyandang disabilitas. Sebab, selama ini, mereka kerap mendapat perlakuan kurang menyenangkan di dunia kerja.
Sebagaimana diceritakan Fian (26) penyandang disabilitas lain asal Yogyakarta. Dia menceritakan sempat bekerja di beberapa perusahaan namun tak betah karena sering mendapat perlakuan tidak nyaman.
"Kami sering dibully dan setiap ada kesalahan, karyawan disabilitas yang selalu disalahkan," ucap Fian.
Namun di HS, semua karyawan diperlakukan sama. Mereka dihormati dan tidak diperlakukan semena-mena. Bahkan mereka mendapat perhatian lebih berupa fasilitas mess gratis.
"Kami harap perusahaan lain bisa mencontoh bagaimana HS mempekerjakan karyawan disabilitas seperti kami. Inklusivitas dunia kerja bukan sekadar narasi, tapi dibuktikan dengan hal yang kongkret," ucapnya.
Sementara itu, perwakilan HRD Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi mengatakan 70 karyawan disabilitas yang bekerja di pabrik rokok HS memiliki kinerja yang bagus. Mereka tidak kalah saing dengan pekerja lain.
"Mereka justru lebih semangat, dan kinerjanya juga sangat baik. Kami selalu diingatkan oleh pak Suryo untuk terus memberikan perhatian khusus bagi kawan-kawan difabel di sini," ucapnya.
Pabrik rokok HS terus berkomitmen menjadi perusahaan inklusif. Bos Rokok HS, Muhammad Suryo menegaskan bahwa pihaknya akan menampung sebanyak-banyaknya karyawan penyandang disabilitas. Saat ini, sudah ada 70 karyawan disabilitas yang bekerja di tempat itu. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Perangi Rokok Ilegal, Bea Cukai Edukasi Ketentuan Cukai ke Masyarakat
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan




