Selat Hormuz Masih Panas, Industri Asuransi Mulai Kena Efek Domino Klaim & Premi Naik

medcom.id
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Konflik di Selat Hormuz yang belum menunjukkan tanda mereda mulai memunculkan kekhawatiran baru terhadap industri asuransi. 
  Baca juga:   Selat Hormuz Dibuka, Puluhan Kapal Komersial Langsung Bergerak
Bukan hanya karena risiko perang yang meningkat, tetapi juga akibat efek berantai dari gangguan logistik, kenaikan harga energi, dan potensi inflasi klaim (claim inflation) yang dapat menekan profitabilitas industri.
 
Sebagai jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, stabilitas Selat Hormuz memiliki pengaruh besar terhadap rantai pasok global. 
 
Jika ketegangan di Selat Hormuz memicu pembatasan atau gangguan pelayaran berkepanjangan, dampaknya bisa merambat ke biaya logistik, harga bahan baku, hingga peningkatan eksposur risiko yang harus ditanggung perusahaan asuransi.

Bagi Indonesia, dampak konflik Selat Hormuz tidak hanya terkait pasokan energi. Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap kawasan Teluk, baik untuk minyak, gas, maupun impor bahan baku seperti petrokimia, pupuk, logam, dan bahan kimia untuk industri manufaktur. 
 
Gangguan pasokan dari kawasan ini berpotensi meningkatkan biaya operasional berbagai sektor yang pada akhirnya memengaruhi profil risiko asuransi.
 
Kepala Departemen Marine & Aviation Indonesia Re, Renny Rahmadi P., mengatakan tekanan terbesar terhadap industri asuransi dari konflik Selat Hormuz justru berasal dari dampak tidak langsung.
 
“Yang perlu diwaspadai adalah efek berantai dari gangguan logistik dan kenaikan bahan bakar minyak. Ini akan mendorong kenaikan nilai klaim, atau yang dikenal sebagai claim inflation,” ujarnya dalam podcast Indonesia Re dikutip. 
 
Konflik Selat Hormuz juga meningkatkan risiko pada berbagai lini bisnis asuransi. Durasi pengiriman yang lebih panjang dapat meningkatkan potensi klaim atas kerusakan muatan, khususnya barang mudah rusak seperti makanan, obat-obatan, dan produk agrikultur.
 
Selain itu, hambatan logistik akibat tensi di Selat Hormuz berpotensi memicu klaim business interruption (BI), delay start-up (DSU), dan berbagai contingency loss lainnya, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada pasokan impor atau distribusi lintas negara.
 
Tekanan juga muncul pada trade credit insurance, mengingat risiko gagal bayar dari buyer di kawasan terdampak konflik dapat meningkat. Pembatasan jalur penerbangan di Timur Tengah, termasuk melalui hub utama seperti Qatar dan Uni Emirat Arab, juga berpotensi menekan lini bisnis travel insurance.
 
Di sisi lain, konflik Selat Hormuz turut mendorong kenaikan biaya impor bahan baku manufaktur, yang dapat meningkatkan biaya perbaikan atas aset yang dipertanggungkan pada lini property, engineering, marine hull, maupun aviation.
 
Tantangan lain datang dari pasar reasuransi global. Menurut Renny, ketegangan di Selat Hormuz membuat reasuradur lebih selektif memberikan kapasitas untuk risiko perang, disertai kenaikan premi yang signifikan.
 
“Kondisi ini mendorong kenaikan premi secara signifikan, bahkan dalam beberapa kasus mencapai lebih dari 200 persen, serta pengetatan syarat dan ketentuan polis,” ujarnya.
 
Dalam situasi ini, perusahaan asuransi dituntut lebih adaptif, terutama dalam menyesuaikan underwriting, mengevaluasi kecukupan premi, dan mengantisipasi kenaikan liability akibat claim inflation maupun peningkatan probabilitas kerugian.
 
Konflik Selat Hormuz juga mempertegas bahwa industri asuransi tidak lagi cukup hanya mengandalkan prinsip pooling of risk. Peran sebagai mitra mitigasi risiko bagi nasabah dinilai semakin penting.
 
Ke depan, dinamika geopolitik seperti konflik Selat Hormuz diperkirakan akan tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas industri asuransi. Karena itu, penguatan kapasitas domestik, disiplin pengelolaan eksposur, dan peningkatan kapabilitas underwriting menjadi kunci menjaga ketahanan industri menghadapi ketidakpastian global.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KKP Fokus Kembangkan Kawasan Konservasi Laut Skala Besar di Barat Sumatera untuk Jaga Ekosistem dan Stok Ikan
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Dukung Ketersediaan Stok Darah di Ibu Kota, Bank Jakarta Gelar Aksi Donor Darah
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Sidang Kasus Chromebook, Nadiem Hadirkan 7 Guru dari Aceh-Papua Jadi Saksi
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Harapan dan Ironi Dibalik Menu MBG, Ketika Solusi Gizi Berubah Menjadi Ancaman Kesehatan di Jeneponto
• 37 menit laluterkini.id
thumb
Pemindahan Ratusan Narapidana Risiko Tinggi dari Riau ke Nusakambangan Dikawal Ketat
• 4 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.