JAKARTA, DISWAY.ID-- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menanggapi tragedi Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang lompat dari lantai 4 di Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.
Arifah Fauzi menegaskan bahwa praktik-praktik eksploitatif terhadap pekerja domestik harus segera diakhiri. Menurutnya, para PRT bukan sebagai objek yang diperlakukan semena-mena.
BACA JUGA:Mahasiswa Jatim Serukan Kewaspadaan Nasional, Ingatkan Bahaya Pengaruh Asing yang Menyusup
"Kami sangat prihatin dan berduka. Kejadian ini harus menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa pekerja rumah tangga bukanlah objek yang bisa diperlakukan semena-mena. Mereka punya hak yang sama untuk hidup aman dan bekerja secara layak," ujar Arifah Fauzi dalam pernyataan resminya di Jakarta, Jumat 24 April 2026.
Menteri Arifah menyoroti bahwa sektor domestik, yang mayoritas diisi oleh perempuan, masih menjadi wilayah yang sangat rentan terhadap kekerasan.
Sifat pekerjaannya yang tertutup di dalam ruang privat rumah seringkali membuat praktik perlakuan tidak manusiawi luput dari pengawasan publik.
BACA JUGA:Gaya Koboy Purbaya Hadapi Pelemahan Rupiah, Bandingkan Thailand dan Malaysia
Ia menegaskan bahwa martabat seorang PRT tidak boleh diabaikan hanya karena status pekerjaannya.
"Menghormati pekerja rumah tangga adalah bagian dari penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Stop perlakukan mereka seperti budak," tegasnya.
Saat ini, pihak kepolisian telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk majikan kedua korban.
BACA JUGA:IHSG Merah 4 Hari Berturut-turut, 1094 Saham Turun Harga
Meskipun penyebab pasti jatuhnya korban masih dalam tahap penyelidikan, Kemen PPPA mendorong Aparat Penegak Hukum (APH) untuk bekerja secara transparan dan profesional.
"Kami mendukung penuh kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini dengan perspektif korban. Keadilan harus ditegakkan agar ada kepastian hukum bagi korban dan keluarga yang ditinggalkan," tutur Arifah.





