Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak terburu-buru mencapai kesepakatan nuklir, serta menegaskan bahwa “blokade lebih efektif daripada pemboman dalam menakut-nakuti Iran.” Di tengah perpaduan langkah militer dan diplomatik, muncul pertanyaan apakah strategi AS terhadap Iran sedang mengalami perubahan mendasar. Pendekatan yang berfokus pada tekanan ekonomi ini—seberapa efektif dan berapa lama dapat bertahan—menjadi perhatian berbagai pihak.
EtIndonesia. Pada Rabu (22 April), dalam wawancara dengan Fox News, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia tidak tergesa-gesa mengakhiri konfrontasi dengan Iran, dan secara blak-blakan menyebut bahwa “blokade lebih membuat Iran takut dibandingkan pemboman.” Pernyataan ini menegaskan bahwa fokus strategi AS sedang bergeser dari serangan militer tradisional menuju tekanan ekonomi jangka panjang.
Trump juga membantah adanya “perpanjangan gencatan senjata selama 3 hingga 5 hari” dan menegaskan bahwa belum ada jadwal berakhirnya konflik.
Menanggapi anggapan bahwa ia ingin segera mengakhiri perang karena tekanan pemilu paruh waktu, Trump menolak hal tersebut dan menyatakan bahwa kebijakannya lebih menekankan ketahanan strategis daripada pertimbangan politik jangka pendek.
Dalam hal operasi militer, United States Central Command mengkonfirmasi bahwa blokade terhadap pelabuhan dan jalur pelayaran Iran telah memasuki minggu kedua, dengan total 33 kapal dipaksa berbalik arah atau kembali ke pelabuhan.
Para analis menyebut bahwa blokade dianggap lebih memiliki daya gentar karena bersifat “mematikan secara perlahan.” Berbeda dengan pemboman yang memberikan kerusakan jangka pendek, blokade secara langsung memutus jalur ekspor minyak Iran—sumber utama ekonominya.
Komentator politik Lan Shu menyatakan bahwa dengan memblokade selat, AS secara efektif dapat memutus sekitar 90% sumber pendapatan Iran. Ia juga menilai bahwa Trump memilih pendekatan ini karena melihat adanya perpecahan internal di Iran. Jika tekanan militer terlalu kuat, justru dapat mempersatukan faksi-faksi di dalam negeri. Dengan memperlambat tempo konflik, AS dapat mengamati apakah perpecahan internal tersebut akan semakin dalam.
Menurut laporan The Wall Street Journal, penelitian menunjukkan bahwa dalam waktu sekitar 10 hari saja, Iran bisa menghadapi krisis penyimpanan minyak mentah, sehingga terpaksa menutup sumur minyak. Jika sumur tersebut berhenti beroperasi, sebagian mungkin sulit untuk diaktifkan kembali, yang akan menyebabkan kerugian struktural jangka panjang.
Di sisi lain, blokade ini juga menargetkan ekspor minyak Iran ke luar negeri, terutama ke pasar Tiongkok. United Against Nuclear Iran menyebutkan bahwa sejumlah kapal telah mengubah rute atau membatalkan singgah di pelabuhan, yang menunjukkan bahwa blokade mulai memberikan efek gentar awal dan menekan pemerintah Iran untuk mempertimbangkan kembali negosiasi.
Pengamat menilai langkah Trump ini sebagai bentuk “tekanan maksimum 2.0”, yaitu menggunakan biaya militer yang lebih rendah untuk menghasilkan tekanan ekonomi yang lebih besar serta meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi, dengan memanfaatkan waktu untuk mengakumulasi keunggulan dan memaksa lawan berkompromi.
Namun, apakah strategi ini benar-benar efektif masih bergantung pada dua faktor kunci: pertama, kemampuan Iran dalam menahan tekanan ekonomi; kedua, tingkat kerja sama komunitas internasional—terutama pasar energi dan para pembeli utama minyak. (Hui)
Laporan oleh Yi Xin dan Qiu Yue, New Tang Dynasty Television.





