jpnn.com, BOGOR - dr. Ratri Saumi menjelaskan masalah utama Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah melonggarnya katup esofagus, bukan karena asam lambung yang harus dimusuhi.
Bagi para pejuang GERD dan maag kronis, momen makan sering kali berubah menjadi horor yang memicu kecemasan hebat.
BACA JUGA: GERD Berpotensi Disembuhkan, Obatnya Sedang Diujicobakan di Indonesia
Dilemanya nyata: perut lapar dan butuh nutrisi, namun bayang-bayang nyeri ulu hati, sesak napas, hingga mulut yang pahit pasca-makan membuat mereka takut untuk menyentuh sepiring nasi.
"Asam lambung itu penting untuk mencerna protein. Masalahnya adalah ketika ia 'muncrat' ke tempat yang salah," jelas dr Ratri dalam Health Talk bertajuk 'Memutus Lingkaran Setan GERD dan Anxiety', yang digelar di The Mirah Hotel Bogor, Sabtu (18/4).
BACA JUGA: 8 Khasiat Buah Persik untuk Kesehatan Kulit yang Luar Biasa
Ketika lambung teriritasi, ia mengirim sinyal bahaya ke otak melalui mekanisme Gut-Brain Axis.
Untuk memutus rantai ini, dr. Ratri memperkenalkan Protokol 5R (Remove, Replace, Reinoculate, Repair, Rebalance) sebagai strategi restorasi lambung yang komprehensif, bukan sekadar menekan asam dengan obat-obatan kimia secara terus-menerus.
BACA JUGA: Prodia Ajak Perempuan Indonesia Lebih Berani Deteksi Dini Kesehatan
Hadir menjawab tantangan makanan sehat yang biasanya 'tidak enak', Ramdani Husnul Huluq selaku Nutraceutical Researcher, meracik Nutriged dengan melibatkan anaknya yang berusia 3 tahun sebagai panelis rasa perdana.
"Jika anak kecil suka, maka orang dewasa yang sedang sakit pun akan merasa bahagia saat memakannya," ujar Ramdani.
Nutriged bukan sekadar sereal biasa, melainkan perpaduan kearifan lokal dan sains modern yang berfungsi melindungi dan membangun kembali lapisan mukosa lambung.
Inovasi ini menjadi jembatan bagi pasien yang ingin kembali mendapatkan gizi optimal tanpa harus merasa tersiksa oleh rasa makanan yang hambar.(chi/jpnn)
Redaktur & Reporter : Yessy Artada




