Kemasan Kertas Jadi Strategi Baru Kemenperin Dorong Daya Saing Industri Makanan dan Minuman

pantau.com
12 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Kementerian Perindustrian mendorong penggunaan kemasan nonplastik sebagai solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat daya saing industri makanan dan minuman di tengah berbagai tantangan global.

Fokus pada Kemasan Berbasis Kertas

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa fokus kebijakan diarahkan pada penggunaan kemasan berbasis kertas atau paperboard yang dinilai semakin kompetitif.

Ia mengungkapkan, "Kemasan kertas saat ini sudah banyak digunakan untuk produk seperti susu dan minuman. Kami berkomitmen untuk terus memacu pengembangan alternatif bahan baku kemasan melalui skema business matching antara produsen dan pengguna."

Kemasan berbasis kertas saat ini telah mencapai sekitar 28 persen dari total penggunaan kemasan di industri makanan dan minuman.

Kemenperin juga mendorong penggunaan kemasan aseptik berbasis kertas sebagai alternatif pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa langkah ini sejalan dengan kebijakan pengembangan industri yang berorientasi ramah lingkungan.

Dukungan tersebut diwujudkan melalui workshop dan kunjungan industri yang melibatkan pelaku usaha makanan dan minuman serta perusahaan seperti PT Lami Packaging Indonesia dan anggota Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia.

Industri Cari Alternatif dan Tingkatkan Efisiensi

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Adhi S. Lukman menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan mencari solusi alternatif agar industri tetap berkembang di tengah tekanan.

Ia mengatakan, "Dalam mengantisipasi berbagai tantangan industri, ada dua aspek penting, yaitu procurement dan divisi manufacturing. Divisi manufacturing perlu meningkatkan efisiensi agar tetap kompetitif, sedang porocurement memperluas sourcing. Kunjungan ini jadi bagian upaya mencari alternatif sumber kemasan."

Praktisi industri Merrijantij Punguan Pintaria menilai bahwa penggunaan kemasan aseptik berbasis kertas membutuhkan pendekatan perhitungan menyeluruh.

Ia menjelaskan, "Perlu dipertimbangkan, harga kemasan aseptik dari kertas tidak apple to apple dengan kemasan bahan plastik, tetapi saat dikonversi menyeluruh, hasilnya mungkin sama karena kemasan aseptik dari kertas tidak butuh rantai pendingin dan kulkas untuk penyimpanan, dan bahan baku kertasnya cukup stabil."

Keunggulan kemasan aseptik berbasis kertas antara lain tidak memerlukan rantai pendingin serta memiliki stabilitas bahan baku yang baik.

Kebutuhan nasional kemasan aseptik diperkirakan mencapai sekitar 8,3 miliar kemasan per tahun dengan 4,8 miliar di antaranya berasal dari segmen susu dan produk dairy.

Sisanya berasal dari produk minuman berbasis teh, kopi, serta minuman berbasis tumbuhan seperti santan, oat milk, dan kacang hijau.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jadi Distributor Tunggal, Suri Nusantara Jaya Bawa Daging Miyazaki Wagyu ke Indonesia
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, PBB Desak Israel Hentikan Serangan
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Masuk Majalah TIME, Petinggi ParagonCorp Bawa Kisah Perempuan RI Mendunia
• 3 jam laludetik.com
thumb
Bangkalan Gempar! Ibu Muda Tewas Dibacok Anak Tiri gegara Dituduh Selingkuh
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Lima Pria Penjual Daging Ikan Sapu-sapu di Jakpus Diamankan
• 20 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.