Mengembalikan Kepemimpinan Indonesia di ASEAN

kompas.com
13 jam lalu
Cover Berita

POSISI Indonesia sebagai pemimpin alami (natural leader) di ASEAN mulai dipertanyakan menyusul keluarnya hasil survei terbaru ISEAS – Yusof Ishak Institute, lembaga kajian yang berkedudukan di Singapura, pada awal April 2026.

Dalam survei terbaru bertajuk State of Southeast Asia 2026 yang melibatkan lebih dari 2.000 responden lintas sektor di Asia Tenggara tampak adanya pergeseran persepsi yang signifikan dari Indonesia ke Singapura.

Ketika ditanya negara mana yang paling dipercaya untuk memimpin ASEAN dalam menghadapi tantangan regional, Singapura menempati posisi teratas dengan 30,5 persen suara. Indonesia, yang sebelumnya dominan, turun ke angka 20,1 persen.

Perubahan ini kontras dengan hasil survei tahun sebelumnya. Pada 2025, Indonesia memimpin dengan 30,4 persen, sementara Singapura berada di angka 21,9 persen.

Artinya, dalam waktu satu tahun, Indonesia kehilangan lebih dari 10 poin persentase, sementara Singapura justru melonjak hampir 9 poin. Ini bukan sekadar fluktuasi statistik, melainkan sinyal perubahan persepsi yang serius.

Dalam studi hubungan internasional, persepsi memiliki bobot yang tidak kalah penting dibanding realitas objektif.

Baca juga: Waspada Erosi Kedaulatan Indonesia

Persepsi membentuk cara negara lain menilai kredibilitas, kapasitas, dan kepemimpinan suatu negara. Dalam banyak kasus, persepsi bahkan lebih menentukan tindakan daripada fakta itu sendiri.

Oleh karena itu, turunnya persepsi kepemimpinan Indonesia di ASEAN pada gilirannya memunculkan pertanyaan mengenai apa yang terjadi dengan pelaksanaan kebijakan politik luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Apakah terdapat pergeseran orientasi politik luar negeri?

Jika sebelumnya Indonesia dikenal mengedepankan pendekatan concentric circle, dengan ASEAN sebagai lingkaran prioritas utama, maka sekarang cenderung memperluas fokus ke panggung global.

Meskipun dalam beberapa kesempatan Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan mengenai pentingnya ASEAN bagi Indonesia dan kawasan, terutama dalam menjaga stabilitas dan kesatuan di tengah dinamika global, namun kurang hadirnya Indonesia dalam isu-isu kawasan, seperti dalam isu Myanmar dan konflik perbatasan Thailand-Kamboja, maka pada gilirannya hal tersebut memunculkan ruang kosong kepemimpinan di kawasan.

Ketika ruang kosong tersebut cepat diisi oleh negara lain, dalam hal ini Singapura, maka cepat atau lambat hal tersebut menggeser kepemimpinan Indonesia di ASEAN.

Bahwa Singapura dipersepsikan menggeser kepemimpinan Indonesia di ASEAN sebenarnya bukan tanpa alasan.

Singapura memiliki modalitas atau kapasitas institusional yang kuat, diplomasi ekonomi agresif, serta kemampuan membaca dinamika global secara cepat, yang dapat memperkuat persepsi kepemimpinannya di kawasan.

Meski “ukuran”-nya kecil, dengan semua modalitas tersebut, Singapura dapat memberikan solusi dalam penyelesaian konflik di kawasan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Pandangan ini sejalan dengan yang dikemukakan akademisi hubungan internasional dari Singapura, Kishore Mahbubani, yang menekankan bahwa kekuatan Singapura terletak pada “relevansi”, bukan “ukuran”.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cek Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Sabtu, 25 April 2026: Waspada Hujan Deras!
• 13 jam laludisway.id
thumb
5 Kalimat yang Sering Diucapkan oleh Orang yang Benar-benar Egois
• 22 jam lalubeautynesia.id
thumb
2 Tahanan Lapas Polewali Mandar Kabur saat Salat Jumat
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Klasemen Serie A Liga Italia Usai Napoli Hancurkan Cremonese 4-0
• 15 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Remaja di Bantul Tewas Dianiaya-Dilindas, Komisi III DPR: Proses Secara Tegas
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.