Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mentransformasi dan mengubah lanskap industri kreatif di Indonesia. Teknologi ini mampu menciptakan peluang baru, tetapi juga tantangan yang kompleks. Lantas, bagaimana AI bisa memengaruhi bisnis industri kreatif? Sejauh mana dampaknya terhadap industri kreatif di Indonesia?
Sejak pertama kali dikembangkan oleh ahli teori logika Herbert Simon tahun 1955, AI terus berkembang dan menjadi harapan ekonomi masa depan, termasuk di industri kreatif. Sebab, kehadiran AI di industri kreatif secara signifikan telah mengubah lanskap seni, desain, musik, dan pembuatan konten.
Dalam perkembangannya, teknologi AI kini mampu menulis lagu, mendesain kampanye, menghasilkan gambar tiga dimensi (3D), hingga mengedit video. Apa yang dulu membutuhkan tim seniman, editor, dan ahli strategi, kini dapat dipercepat dan bahkan dimulai oleh sebuah algoritma.
Berbagai sektor, mulai dari perfilman, musik, desain grafis, hingga pemasaran digital, kini memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk mempercepat proses kreatif dan menghasilkan karya yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Selain menghemat waktu, AI juga dapat membantu bisnis dan memangkas biaya operasional yang sebelumnya memerlukan sumber daya besar.
Beragam industri kreatif telah memanfaatkan adopsi teknologi AI untuk mengoptimalkan proses produksi, meningkatkan efisiensi, dan mendorong kreativitas melalui otomatisasi, personalisasi, analisis data mendalam, dan prediksi tren.
Di bidang periklanan dan pemasaran, misalnya, tidak sedikit agensi yang kini menggunakan AI untuk menghasilkan ide, mengoptimalkan kampanye, hingga mendesain iklan secara personal. Sementara di bidang film dan animasi, AI membantu dalam pembuatan papan cerita atau storyboard, efek visual, dan penyuntingan sehingga secara drastis mengurangi waktu produksi.
Selanjutnya, di bidang musik, perangkat lunak bertenaga AI, seperti Suno, AIVA, dan Soundful, mengubah musik latar dan jingle dalam hitungan menit. Di bidang desain dan mode, AI generatif bisa memprediksi tren desain, membuat maket produk, hingga membantu visualisasi konsep. Sementara di industri gim, AI bisa membantu menciptakan dunia yang merespons pemain secara dinamis serta memadukan narasi dan kecerdasan dengan mulus.
Beragam transformasi tersebut didorong oleh kemampuan AI untuk meningkatkan kreativitas, menyederhanakan proses, dan menyediakan alat-alat yang belum pernah ada sebelumnya bagi para seniman dan kreator. Perkembangan AI tersebut tidak hanya membuat industri kreatif bisa lebih efisien, tetapi juga menjadi lebih inklusif.
Di Indonesia, adopsi teknologi AI juga mulai terlihat di industri kreatif, mulai dari musik, animasi, desain grafis, pengembangan gim, industri konten digital, hingga pemasaran visual. Dengan populasi digital terbesar di Asia Tenggara, peluang pemanfaatan AI dalam memperkuat ekonomi kreatif Indonesia bisa semakin lebar.
Pasalnya, ekonomi kreatif di Indonesia kian menunjukkan perannya sebagai penggerak sektor industri nasional. Di Asia, Indonesia termasuk salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi kreatif tercepat.
Angkatan kerja ekonomi kreatif Indonesia pada tahun 2025 menembus 27,4 juta orang, naik dari 26,48 juta jiwa pada tahun 2024. Tenaga kerja di sektor ini memberikan sumbangsih sebesar 18,70 persen dari total tenaga kerja nasional.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 50 persen tenaga kerja kreatif berusia di bawah 40 tahun. Berdasarkan kelompok umur, generasi milenial masih menempat proporsi terbesar dengan 37,55 persen, disusul gen Z sebesar 24,03 persen, dan gen X sebesar 28,64 persen. Hal ini menggambarkan, industri kreatif menjadi sumber lapangan kerja baru yang relevan bagi generasi muda.
Adapun tiga provinsi dengan penyerapan tenaga kerja ekonomi kreatif tertinggi adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang mencapai 57,81 persen dari total tenaga kerja ekonomi kreatif di Indonesia.
Menurut laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), ekonomi kreatif Indonesia tahun 2024 mencapai Rp 1.611,2 triliun. Kontribusi ekonomi kreatif itu setara 7,8 persen terhadap produk domestik bruto, dengan pertumbuhan 6,57 persen. Capaian ekonomi kreatif ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,03 persen pada tahun yang sama.
Seiring meningkatnya kontribusi tersebut, teknologi AI bisa memainkan peran strategis dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif nasional. Sebab, berbagai bisnis kini mulai mengintegrasikan AI untuk meningkatkan kualitas layanan, efisiensi produksi, serta kemampuan memahami kebutuhan pasar dengan lebih tepat.
Penggunaan kecerdasan buatan akan membuka ruang pertumbuhan yang lebih besar bagi Indonesia. Sebab, AI akan membantu mempercepat proses produksi yang sebelumnya memakan waktu panjang.
Di bidang desain grafis, misalnya, alat bantu seperti Adobe Firefly, Midjourney, atau Canva AI mampu menghasilkan desain awal dalam hitungan detik. Kreator kemudian dapat mengubah desain tersebut sesuai identitas brand atau kebutuhan proyek.
Proses yang dulu membutuhkan brainstorming panjang kini menjadi lebih cepat dan efisien. Foto produk yang awalnya sederhana bisa dibuat lebih profesional melalui fitur otomatis yang disediakan oleh AI. Begitu pula dengan pembuatan poster, desain media sosial, ataupun video pendek yang kini dapat dibuat melalui contoh pola (template).
Teknologi AI juga bisa membawa perubahan besar terhadap perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kreatif di Indonesia. Di tengah persaingan bisnis yang kian ketat, AI dapat menjadi alat bantu yang berguna untuk kemajuan UMKM karena dapat meningkatkan efisiensi dan kreativitas serta memperluas jangkauan pemasaran.
UMKM kreatif dapat memanfaatkan AI untuk ide desain produk dan video promosi guna menghasilkan konten visual yang menarik. Teknologi ini juga dapat mempersingkat waktu dan mempermudah pengerjaan sehingga pelaku usaha cepat beradaptasi dengan tren yang terus berkembang dan menghasilkan produk yang lebih inovatif agar pelanggan lebih tertarik.
Dengan perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, Indonesia berpeluang besar untuk memperkuat daya saing globalnya di era digital dan membuka ruang baru bagi inovasi, kolaborasi, serta penciptaan lapangan kerja kreatif yang lebih luas.
Meskipun perkembangan AI terlihat menjanjikan, ada sejumlah tantangan yang masih harus dihadapi. Salah satunya berkaitan dengan masih adanya kesenjangan literasi digital. Tidak sedikit pelaku UMKM kreatif yang belum memahami pemanfaatan AI secara optimal. Jika tidak diantisipasi, AI justru memperbesar ketimpangan antara kreator yang melek teknologi dan yang tidak.
Tantangan berikutnya adalah ketergantungan pada AI berpotensi menurunkan kualitas inovasi untuk jangka panjang. Pasalnya, kreator hanya mengandalkan hasil otomatis, tanpa berusaha melakukan eksplorasi kreatif. Padahal, kreativitas manusia tetap menjadi inti, sementara AI hanya berfungsi sebagai pendukung.
Selain itu, keamanan data dan etika penggunaan teknologi juga memerlukan perhatian serius. Di tengah maraknya platform berbasis AI, tidak semua pelaku kreatif memahami cara menjaga kerahasiaan karya ataupun informasi pribadi. Tanpa pedoman yang jelas, potensi penyalahgunaan data, pelanggaran hak cipta, hingga praktik plagiarisme berbasis AI bisa semakin meningkat dan menghambat perkembangan industri.
Sementara itu, dari sisi pekerja, kehadiran AI masih dipandang dengan hati-hati. Bagi sebagian pekerja, kehadiran AI bisa menjadi inspirasi karena akan mempercepat penciptaan hingga produksi secara cepat. Namun, sebagian pekerja lainnya masih mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan etika. Hak cipta, orisinalitas karya, dan kualitas kreatif manusia menjadi topik yang semakin sering dibahas.
Terlebih, adopsi teknologi AI juga berpotensi menghilangkan pekerjaan akibat otomatisasi. Meski teknologi AI dapat menangani banyak tugas yang secara tradisional dilakukan manusia, ada risiko hal itu menyebabkan hilangnya pekerjaan.
Secara umum, kekhawatiran tersebut salah satunya terungkap dalam laporan bertajuk ”Navigating Economic and Security Challenges in 2025” oleh Populix. Dalam laporannya, lembaga survei ini menemukan, kekhawatiran terhadap keamanan pekerjaan menjadi satu dari empat isu utama yang dikhawatirkan masyarakat pada tahun lalu.
Masih menurut laporan tersebut, 62 persen responden sepakat mereka merasa terancam akan kehilangan pekerjaan karena digantikan teknologi AI. Ada lima alasan utama yang mendasari kekhawatiran ini, antara lain mulai dari ketakutan digantikan dengan mesin yang lebih baik, akurat, dan terjangkau (72 persen) serta kesulitan bersaing dengan mesin yang mampu bekerja 24 jam dan tujuh hari tanpa lelah (62 persen). Kemudian, 60 persen responden merasa perkembangan AI yang terlalu canggih bisa menjadi ancaman bagi manusia.
Kehadiran AI juga dinilai akan meningkatkan kemiskinan, ketidaksetaraan, dan ketidakstabilan sosial (52 persen). Faktor kemiskinan didasari oleh ketakutan kehilangan pekerjaan, sedangkan ketidaksetaraan disebabkan hadirnya biaya langganan untuk akses ke versi AI yang lebih mutakhir, yang tentu tidak dimiliki oleh semua orang. Hal ini ditegaskan oleh alasan terakhir, yaitu ketidakmampuan untuk bersaing ataupun bekerja berdampingan dengan AI karena kurangnya keterampilan. Hal ini diungkapkan oleh 46 persen responden.
Meski demikian, peluang penerapan AI tetap terbuka lebar. Pasalnya, infrastruktur digital yang terus membaik, peningkatan jumlah talenta muda yang akrab dengan teknologi, serta pasar konten kreatif yang kian berkembang menjadi modal besar bagi Indonesia sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis teknologi di kawasan Asia.
Dengan kebijakan yang tepat dan pemahaman mendalam akan potensi AI, Indonesia dapat terus mengembangkan industri kreatifnya agar lebih inovatif dan berdaya saing global. Untuk mencapai hal ini, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri harus diperkuat agar ekosistem mampu beradaptasi dengan dinamika inovasi digital. (LITBANG KOMPAS)





