Bisnis.com, SEMARANG - Pabrik Rokok HS, entitas bisnis di bawah naungan Surya Group Holding Company, secara resmi mempekerjakan 70 penyandang disabilitas ke dalam lini produksi perusahaan.
Keputusan manajemen untuk membuka pintu rekrutmen seluas-luasnya didasarkan pada visi strategis Surya Group, yang menekankan pada kesetaraan hak ekonomi. Perusahaan memproyeksikan bahwa keberagaman latar belakang tenaga kerja akan menciptakan ekosistem industri yang lebih dinamis dan produktif.
"Kami akan terus menerima karyawan disabilitas sesuai arahan pak Muhammad Suryo. Silahkan kawan-kawan disabilitas di seluruh Indonesia untuk bergabung bersama kami," tegas Perwakilan HRD Pabrik Rokok HS, Muhammad Hanafi, pada Jumat (24/04/2026).
Untuk menjamin efektivitas kerja, manajemen HS menerapkan kurikulum pelatihan internal bagi karyawan baru tanpa menuntut pengalaman kerja formal.
Pendekatan ini bertujuan untuk mengasah kompetensi teknis di bidang pelintingan dan pengepakan rokok, sehingga standar kualitas produk tetap terjaga.
Hingga April 2026, efisiensi kerja karyawan disabilitas setara dengan pekerja reguler lainnya, bahkan menunjukkan tingkat kedisiplinan yang lebih tinggi.
Baca Juga
- Mengintip Bisnis Muhammad Suryo, Bos Rokok HS yang Kecelakaan di Kulon Progo
- Pemko Pekanbaru Olah Limbah Rokok Ilegal Jadi Kompos
- Tren Produksi Rokok Mulai Naik, Sinyal Pemulihan Setoran Bea Cukai?
Hanafi menambahkan bahwa integrasi ini didukung oleh fasilitas penunjang yang memadai.
"Kami selalu diingatkan oleh pak Suryo untuk terus memberikan perhatian khusus bagi kawan-kawan difabel di sini. Mereka justru lebih semangat, dan kinerjanya juga sangat baik," lanjutnya.
Perusahaan memberikan hak yang setara, mencakup struktur gaji sesuai standar industri, jatah makan siang gratis, hingga penyediaan fasilitas mess untuk memudahkan mobilitas pekerja dari luar kota.
Ke depan, Surya Group Holding Company berencana memperluas jangkauan rekrutmen ini seiring dengan pembangunan fasilitas produksi baru di Yogyakarta dan Lampung.
Shinta, seorang pekerja Tuli asal Magelang, menceritakan perubahan signifikan pada kondisi finansial rumah tangganya sejak bergabung dengan HS. Sebagai tulang punggung keluarga, Shinta sempat kesulitan saat melamar pekerjaan di berbagai perusahaan.
"Dulu sulit sekali mencari kerja. Berkali-kali melamar, tapi selalu ditolak. Kebanyakan mereka meragukan kemampuan kami hanya karena kami berbeda," jelas Shinta. Setelah bekerja di pabrikan rokok tersebut, stabilitas pendapatan memungkinkan Shinta melunasi pinjaman perbankan dan mulai meningkatkan tabungannya.
Testimoni serupa datang dari Fian, pekerja asal Yogyakarta yang menyoroti perlunya budaya kerja yang sehat.
"Kami sering di-bully di tempat kerja lama, dan setiap ada kesalahan, karyawan disabilitas yang selalu disalahkan. Namun di HS, semua diperlakukan sama," tuturnya.
Fian berharap model manajerial yang diterapkan HS dapat menjadi acuan bagi perusahaan lain dalam mewujudkan lingkungan kerja yang humanis dan profesional.





