Saat matahari hendak tenggelam, Lomi Mone bergegas turun dari rumah panggungnya, Rabu (15/4/2026). Langkahnya tegas, seakan menantang usianya yang telah melampaui 70 tahun.
Auranya terpancar semakin besar saat tahu dia bukan orang biasa di wilayah adat Liae, Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Lomi adalah Deo Rai, pemimpin tertinggi adat.
Sore itu, dari halaman rumahnya di perbukitan, Lomi berjalan menuju deretan pohon lontar. Ikat kepala, jeriken, dan sebilah pisau melekat di tubuhnya. Rutinitas ini ia lakukan setiap pagi dan sore, terutama saat musim kemarau, ketika nira mengalir lebih deras.
Tiba di satu pohon, Lomi sigap memanjat. Batang lontar yang kasar dan berduri tak menjadi hambatan.
Kurang dari dua menit, ia sudah berada di ketinggian 12 meter. Dari sana, ia menyalin nira dari enam pucuk sadapan ke dalam jeriken.
Tak lama, ia turun dan beralih ke pohon berikutnya. Nira yang dikumpulkan menjadi salah satu minuman harian warga.
“Setiap pagi dan sore, ini minuman kami,” ujarnya dalam bahasa Sabu.
Akan tetapi, tidak hanya dikonsumsi sendiri, nira juga jadi sumber penghidupan warga. Sebagian nira diolah menjadi gula lalu dijual. Di NTT, gula olahan warga Sabu sudah tersohor. Konon, khasiatnya bisa menyembuhkan sakit lambung.
Bahkan, nira juga menjadi salah satu sarana panduan hidup. Sopi, minuman olahan nira, misalnya, wajib ada dalam setiap upacara adat warga. Satu acara adat bakal kehilangan maknanya bila tanpa sopi.
Selain menyadap nira, Lomi juga memelihara ayam di sekitar rumahnya. Lingkungan tempat tinggalnya jauh dari hiruk pikuk kota. Jalan menuju rumahnya hanya berupa setapak di punggung bukit, diapit jurang di kedua sisi. Namun, di tempat itulah ia menemukan ketenangan.
“Di sini hati saya damai,” ucap Lomi.
Ketenangan itu tak lepas dari keyakinannya pada Jingitiu, kepercayaan lokal masyarakat Pulau Sabu, jauh sebelum agama-agama besar masuk. Dalam ajaran Jingitiu, sosok tertinggi adalah Deo Ama, pencipta alam semesta yang dihormati sekaligus ditakuti.
Dalam ajarannya, Jingitiu mengutamakan hubungan erat antara manusia dan alam. Penganutnya menjaga hutan, merawat pohon, serta menjalankan berbagai ritual, termasuk puasa dan pantang. Alam bukan sekadar ruang hidup, melainkan bagian dari kehidupan spiritual mereka.
Di NTT, Jingitiu bukan satu-satunya kepercayaan lokal. Di Pulau Sumba, misalnya dikenal Merapu. Sementara di Kabupaten Timor Tengah Selatan terdapat komunitas Boti. Keberadaan kepercayaan lokal ini telah diakui negara, salah satunya melalui putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97 Tahun 2016.
Namun, pengakuan itu tidak semanis nira yang mereka sadap. Penganut Jingitiu masih menghadapi berbagai tantangan. Di sekolah, anak-anak kerap harus belajar agama lain. Dalam urusan sosial, mereka juga kerap terpinggirkan.
Tantangan itu juga dirasakan Lomi. Anak dan cucunya kini memeluk agama lain. Ia khawatir, suatu saat nanti Jingitiu hanya akan menjadi kisah masa lalu.
Meski begitu, di tengah tekanan tersebut, ada sebagian orang juga yang kembali merawat kepercayaan leluhur. Salah satunya Rahul A Ratu.
Ia pernah menganut agama lain sebelum akhirnya kembali ke Jingitiu. Rahul bahkan dipercaya sebagai Ketua Jingitiu Sabu Raijua.
Saat ini, jumlah penganut Jingitiu yang terdata sedikitnya 5.000 jiwa, dari total penduduk Sabu Raijua yang mencapai 96.000 orang. Namun, Rahul meyakini jumlah sebenarnya lebih besar.
“Banyak yang di KTP tercantum agama lain, tetapi praktiknya masih menjalankan Jingitiu,” kata dia saat ditemui terpisah.
Bagi Rahul, Jingitiu bukan sekadar keyakinan, melainkan cara hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam. Komunitas Jingitiu, menurut dia, memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan.
Hal itu terlihat ketika rencana eksploitasi tambang batu mangan di Pulau Sabu mencuat beberapa waktu lalu. Penolakan datang dari berbagai pihak, termasuk komunitas Jingitiu. Mereka menilai penambangan akan merusak keseimbangan alam yang selama ini dijaga.
“Kalau alam rusak, kehidupan kami juga ikut hilang,” ujarnya.
Pemerhati budaya Sabu Raijua, Jefrison Hariyanto Fernando, menilai tekanan terhadap Jingitiu tidak lepas dari kebijakan negara yang belum sepenuhnya berpihak. Salah satu bentuknya keterbatasan ruang bagi anak-anak penganut Jingitiu untuk mendapatkan pendidikan sesuai keyakinannya.
Dia berharap, eksistensi Jingitiu terus dijaga semua pihak. Selain fasilitasi di kehidupan sehari-hari, penyusunan kalender adat dan keterlibatan penganut Jingitiu dalam kegiatan pariwisata juga harus terus dilakukan.
Kesetiaan Lomi dan warga penganut Jingitiu lainnya diuji menghadapi perkembangan zaman. Perlu peran serta banyak pihak untuk memastikan mereka tetap merasakan kedamaian dalam hidupnya.





