Ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda dan Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang paling diawasi dunia. Bagi Indonesia, dampak dari situasi tersebut bisa langsung terasa pada harga energi, tekanan fiskal, dan stabilitas ekonomi.
Selama ini, respons kebijakan energi kita cenderung berulang. Pemerintah berupaya menjaga pasokan, menahan harga, dan mempercepat transisi energi. Semua itu penting. Namun, ada satu hal yang sering terlewat: cara kita menggunakan energi sehari-hari.
Selama ini, efisiensi energi lebih sering dimaknai sebagai urusan teknologi. Kita bicara tentang kendaraan listrik, lampu hemat energi, atau pembangkit baru. Pendekatan ini tidak salah, tetapi belum menyentuh inti persoalan. Tanpa perubahan cara konsumsi, teknologi hanya menggeser pola penggunaan, bukan benar-benar menguranginya.
Efisiensi Semu dalam Praktik Sehari-hariDalam praktiknya, banyak contoh yang menunjukkan bahwa efisiensi berbasis teknologi tidak selalu berujung pada penghematan. Ketika masyarakat menggunakan peralatan yang lebih hemat listrik, sering kali mereka justru menggunakannya lebih lama. AC yang lebih efisien dinyalakan sepanjang hari karena dianggap tidak boros. Kendaraan yang lebih irit mendorong orang bepergian lebih sering.
Fenomena ini menunjukkan bahwa efisiensi bukan hanya soal alat, melainkan juga soal kebiasaan. Tanpa perubahan perilaku, penghematan yang diharapkan bisa tidak tercapai. Bahkan dalam beberapa kasus, konsumsi energi justru meningkat.
Krisis Global sebagai Pengingat KerasKondisi di Selat Hormuz menjadi pengingat bahwa sistem energi global sangat rapuh. Gangguan kecil saja bisa berdampak besar pada harga dan pasokan. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi berada dalam posisi yang cukup rentan. Ketika harga minyak naik, beban subsidi meningkat dan ruang fiskal menyempit.
Selama ini, kebijakan kita lebih banyak berfokus pada bagaimana memastikan pasokan tetap tersedia. Namun dalam situasi krisis, pendekatan ini memiliki keterbatasan. Ada batas kemampuan negara untuk terus menahan harga atau menambah pasokan dalam waktu singkat.
Menggeser Fokus ke Sisi PermintaanDi tengah keterbatasan tersebut, ada satu pendekatan yang belum dimanfaatkan secara maksimal, yaitu mengelola permintaan energi. Mengurangi kebutuhan energi bisa menjadi langkah yang lebih cepat dan murah dibandingkan menambah pasokan.
Pendekatan ini bukan berarti membatasi aktivitas masyarakat. Justru sebaliknya, hal tersebut dilakukan agar bagaimana aktivitas tetap berjalan dengan penggunaan energi yang lebih bijak. Di sinilah peran kebijakan menjadi penting, terutama dalam membentuk kebiasaan baru.
Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah memanfaatkan pendekatan perilaku. Informasi sederhana bisa berdampak besar. Misalnya, ketika masyarakat mengetahui bahwa konsumsi listriknya lebih tinggi dibanding rumah tangga lain dengan kondisi serupa, mereka cenderung melakukan penyesuaian. Hal seperti ini sudah diterapkan di beberapa negara, tetapi belum menjadi praktik umum di Indonesia.
Kebijakan yang Belum Menyentuh Akar MasalahJika melihat kebijakan yang ada, pemerintah sebenarnya sudah memiliki kerangka regulasi terkait efisiensi energi. Namun implementasinya masih bersifat administratif. Fokusnya lebih pada pemenuhan standar teknis, bukan perubahan perilaku.
Di sisi lain, subsidi energi masih menjadi instrumen utama untuk menjaga stabilitas. Kebijakan ini memang penting untuk melindungi masyarakat. Namun dalam jangka panjang, subsidi juga bisa mengurangi dorongan untuk berhemat. Energi yang terasa murah cenderung digunakan tanpa pertimbangan efisiensi.
Selain itu, efisiensi energi belum ditempatkan sebagai prioritas utama dalam perencanaan pembangunan. Efisiensi energi sering disebut sebagai bagian dari strategi, tetapi belum didukung oleh target yang jelas dan mekanisme pengawasan yang kuat.
Ruang Baru untuk Kebijakan yang Lebih BeraniDalam menghadapi potensi krisis energi global, pemerintah perlu membuka ruang bagi pendekatan yang lebih inovatif. Salah satunya adalah menjadikan efisiensi sebagai langkah pertama sebelum mencari sumber energi tambahan.
Perubahan ini juga perlu didukung oleh kebijakan lintas sektor. Pola kerja, misalnya, memiliki dampak besar terhadap konsumsi energi. Jika sebagian pekerjaan dapat dilakukan secara fleksibel, kebutuhan perjalanan harian bisa berkurang. Dampaknya tidak hanya pada konsumsi BBM, tetapi juga pada kemacetan dan kualitas udara.
Di sektor publik, pemerintah bisa mulai menetapkan ukuran kinerja baru. Tidak hanya berbasis anggaran, tetapi juga efisiensi penggunaan energi. Instansi yang mampu menurunkan konsumsi energi tanpa mengurangi kualitas layanan perlu mendapatkan penghargaan.
Teknologi digital juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran. Dengan sistem pemantauan yang lebih transparan, masyarakat dapat melihat pola konsumsi mereka secara langsung. Informasi ini bisa menjadi dasar untuk mengambil keputusan yang lebih rasional.
Membangun Kesadaran sebagai Fondasi UtamaEfisiensi energi tidak bisa hanya mengandalkan regulasi atau teknologi; ia juga membutuhkan perubahan cara pandang. Energi bukan sekadar komoditas yang harus selalu tersedia dan murah, melainkan juga perlu terus dianggap sebagai sumber daya yang terbatas dan harus digunakan secara bijak.
Perubahan ini memang tidak mudah. Namun, krisis global bisa menjadi momentum untuk memulainya. Ketika masyarakat memahami bahwa setiap penghematan memiliki dampak nyata—baik bagi ekonomi maupun lingkungan—perubahan perilaku akan lebih mudah terjadi.
Indonesia memiliki peluang untuk membangun sistem energi yang lebih tangguh. Namun hal itu tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak energi yang kita miliki, tetapi juga oleh bagaimana kita menggunakannya. Dalam konteks inilah efisiensi yang selama ini terlewat justru bisa menjadi kunci utama.





