Jakarta, tvOnenews.com - Penyaluran kredit perbankan pada awal 2026 masih menunjukkan pertumbuhan, namun laju ekspansinya mulai melambat.
Bank Indonesia mengungkap adanya perubahan sikap industri perbankan yang kini cenderung lebih berhati-hati di tengah dinamika ekonomi global.
Direktur Departemen Komunikasi BI Anton Pitono menyampaikan, bahwa hasil Survei Perbankan menunjukkan kredit baru tetap tumbuh pada triwulan I 2026, meski tidak sekuat periode sebelumnya.
“Survei Perbankan yang dilakukan Bank Indonesia mengindikasikan penyaluran kredit baru pada triwulan I 2026 tetap tumbuh, meski lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sesuai dengan pola historisnya,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (25/4/2026).
Perlambatan tersebut tercermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) yang turun tajam menjadi 38,74 persen dari sebelumnya 88,92 persen pada triwulan IV 2025.
Dari sisi penggunaan, pertumbuhan kredit masih ditopang oleh sektor konsumsi yang mencatat kinerja paling kuat. Sementara kredit investasi dan modal kerja tetap tumbuh, namun dengan laju yang lebih terbatas.
“Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan penyaluran kredit baru pada triwulan I 2026 terindikasi bersumber dari peningkatan Kredit Konsumsi (SBT 51,97 persen),” jelas Anton.
Dorongan utama kredit konsumsi berasal dari meningkatnya permintaan Kredit Multiguna, Kredit Tanpa Agunan (KTA), serta kredit kendaraan bermotor. Di sisi lain, produk seperti kartu kredit serta kredit pemilikan rumah dan apartemen justru mengalami perlambatan.
Secara sektoral, pertumbuhan kredit terlihat menguat di sektor real estate serta jasa perusahaan, diikuti sektor pendidikan. Namun, beberapa sektor utama seperti industri pengolahan dan perdagangan menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan.
Perubahan paling mencolok justru terjadi pada kebijakan penyaluran kredit. Perbankan kini mulai mengencangkan standar pemberian pinjaman, terutama untuk kredit investasi.
“Kebijakan penyaluran kredit pada triwulan I 2026 diprakirakan lebih berhati-hati dibandingkan triwulan sebelumnya,” ungkap Anton.
Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang berbalik positif menjadi 0,15, setelah sebelumnya berada di level negatif 2,59. Artinya, bank mulai memperketat sejumlah aspek, seperti jangka waktu pinjaman dan persyaratan administrasi.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa meski likuiditas masih tersedia dan permintaan tetap ada, sektor perbankan memilih pendekatan konservatif untuk menjaga kualitas kredit di tengah ketidakpastian ekonomi global. (agr/iwh)




