Fakta di Balik Meja Perundingan: Skenario Terburuk Jika Diplomasi AS-Iran Gagal

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Konflik di wilayah Timur-Tengah antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menjadi lebih kompleks apabila langkah-langkah diplomatik yang dilandaskan kebatinan yang bijak, kepercayaan dan komitmen pada perjanjian tidak menjadi landasan. Bagaimana perkembangan potensi diadakannya perundingan tahap dua yang dijembatani Pakistan antara Amerika Serikat dan Iran? Pun Amerika Serikat terbuka, apakah Iran tidak bersambut? Kita cek fakta yang sama-sama. 
AS perpanjang gencatan senjata dengan Iran
Kita awali dengan runtutan peristiwa ketika Amerika Serikat dan Iran bisa dipertemukan untuk melakukan negosiasi secara langsung. Pada 7 April 2026 lalu, Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata dua minggu untuk menyambut negosiasi perundingan yang berhasil dimediasi oleh Pakistan dan berlangsung selama 21 jam pada 11 hingga 12 April di Islamabad, Pakistan. Kita ingat waktu itu rombongan Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance, sedangkan Iran dipimpin Ketua Parlemen Muhammad Bagher Halibaf.

Dan poin-poin negosiasi tersebut diungkap bahwa mampu menyepakati sejumlah poin substansif, namun gagal dalam poin proliferasi nuklir. Dan perihal poin tersebut, Iran enggan untuk menyerahkan hak atas pengelolaan uraniumnya sebagai negara berdaulat. Dan setelah gagal, gencatan senjata yang diumumkan per dua minggu, per 7 April tersebut, sebenarnya dijadwalkan untuk berakhir pada 21 April.

Namun di tanggal 21 April, Presiden Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, namun sampai waktu yang tidak ditentukan. Presiden Trump juga mengungkap bahwa ini merupakan permintaan Pakistan, namun perihal Selat Hormuz menjadi pengecualian. Ketegangan akibat blokade masih akan terjadi.

Baca Juga :

Pelayaran Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Hanya Lima Kapal yang Melintas dalam 24 Jam
Ketegangan yang masih berlangsung
Untuk penantian terhadap potensi perundingan kedua di Islamabad, Pakistan, sayangnya ini tidak diiringi dengan ketenangan dan implementasi gencatan senjata yang murni pada rentan waktu sejak 13 April setelah negosiasi di Islamabad pada 11 dan 12 gagal. Dalam kesepakatan gencatan senjata, ketegangan di Selat Hormuz ini tetap berlangsung.

Dan ketidakpastian buka tutup hingga pengambil alihan kapal mewarnai ketegangan antara kedua negara di Selat Hormuz, bahkan pada kesepakatan gencatan senjata hingga saat ini. Dan dari sisi Amerika Serikat, kita bisa melihat bahwa ketegangan ini dipicu karena durasi gencatan senjata yang tidak pasti. Dan menekan negosiasi ini harus disepakati baru penghentian agresi bisa dilakukan.

Dengan secara paralel, tetap melakukan blokade militer di Hormuz, tetapi tetap terbuka untuk bernegosiasi. Kita bisa melihat ini sebagai sebuah gestur yang terbuka untuk berdiplomasi, tetapi tetap dengan kebatinan yang mengancam Iran. Sedangkan dari posisi Iran sendiri, tetap ada posisi berpegang teguh  bahwa blokade militer Amerika Serikat di Hormuz merupakan bentuk inkonsistensi terhadap gencatan senjata.

Karena dianggap sebagai inkonsistensi terhadap gencatan senjata, maka penghentian segala bentuk agresi militer baik darat, laut maupun udara oleh Amerika Serikat harus dicapai terlebih dahulu apabila ingin bernegosiasi berlangsung. Dan melalui gambaran sikap ini, dari berbagai pernyataan publik, Iran menekankan pentingnya komitmen dari Amerika Serikat apabila ingin bernegosiasi. Untuk menuju ke negosiasinya saja, ada dua posisi yang sangat berseberangan antara Amerika Serikat dengan Iran.

Baca Juga :

Trump Kirim Dua Utusan Khusus ke Pakistan, Muncul Harapan Dialog Baru dengan Iran
Keinginan kedua negara
Dan bagaimana dengan keinginan dari dua negara apabila kita melihat perkembangan setelah perundingan Islamabad 11-12 April 2026 lalu, kita melihat berbagai pernyataan publik kedua negara yang kita bisa jadikan gambaran begitu ya terhadap apa yang sebenarnya menjadi poin-poin negosiasi apabila perundingan kedua digelar. Kita lihat, kalau dari sisi Amerika Serikat, ini juga sesuai dengan apa disampaikan oleh Presiden Trump dalam unggahannya di truk sosial ya bahwa menolak proliferasi nuklir dan pengembangan rudal balistik. Sedangkan Iran langsung secara konsisten mengatakan bahwa hak mengelola uranium itu merupakan hak yang dimiliki oleh negaranya untuk peruntukan lainnya dan mengungkapkan secara konsisten tidak pernah ditujukan untuk membangun uranium.

Lalu di sisi lain juga pembukaan Selat Hormuz untuk jalur perdagangan. Iran juga mengatakan bahwa perlu jaminan dari sisi Iran bahwa mengelola Selat Hormuz dan mengakhiri blokade militer Amerika Serikat dan juga yang ketiga adalah mengakhiri dukungan kepada proksi yang seperti kita tahu Amerika Serikat kerap dalam kaitannya kepada konflik antara Israel dengan Lebanon itu menyangkut dengan kelompok Hezbollah. Dan juga di sisi lain dari pihak Iran juga berharap menghapus sanksi ekonomi dan kompensasi ekonomi dampak dari perang dan mundurnya pasukan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan dari Presiden Trump ini sangat menegaskan posisi Amerika Serikat dalam penantian negosiasi lanjutannya tetap menghadepankan hal-hal yang sifatnya agresi militer atau ancaman militer. Dikatakan bahwa kami telah mengerahkan militer kita untuk melanjutkan blokade dan dalam segala hal lainnya tetap siap dan mampu serta akan memperpanjang gencatan sejata sampai proposal mereka diajukan dan diskusi diselesaikan dengan satu dan lain cara.  Penegasannya diskusi dulu, sepakat dulu, baru mereka menarik pasukan mereka.

Lalu bagaimana dengan respon dari pihak Iran? Sedangkan dari sisi Iran, Ketua Parlemen Iran Muhammad Bagher Halibaf menegaskan tidak akan bernegosiasi di bawah tekanan. Dengan secara tegas disampaikan kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman dengan konteks bahwa Muhammad Bagher Halibaf ini merupakan pemimpin rombongan daripada Iran saat bernegosiasi di Islamabad 11-12 April lalu. Sehingga apa yang disampaikan oleh Muhammad Bagher Halibaf ini tentu juga berdasarkan kepada kebatinan, ketegangan dan juga poin-poin deadlock dalam negosiasi yang berlangsung pada 11 hingga 12 April lalu.

Yang patut diapresiasi adalah negara Pakistan yang senantiasa berupaya sebagai mediator kedua negara. Perdana Menteri Shebaz Sharif menegaskan Pakistan terus mengupayakan komunikasi diplomatik kedua negara dan senantiasa membuka Islamabad sebagai meja perundingan. Lebih tepatnya dikatakan sangat berharap kedua pihak ini terus mematuhi gencatan senjata dan dapat menyimpulkan bahwa kesepakatan damai dan komprehensif selama putaran kedua pembicaraan yang dijadwalkan di Islamabad untuk mengakhiri konflik secara permanen.

Dan memang meski pertemuan ini belum berlangsung tetapi penting untuk diketahui bahwa Pakistan tidak pernah berhenti untuk melakukan komunikasi bilateral baik itu antara Pakistan Amerika Serikat dan Pakistan Iran. Karena seperti yang diketahui juga bahwa pemirsa Pakistan lah yang meminta Amerika Serikat untuk memperpanjang gencatan senjata sehingga pada momen-momen akan terjadinya potensi perundingan kedua di Islamabad masih dalam kondisi gencatan senjata sehingga para pihak terkait ini bisa berpikir bisa merumuskan ulang poin-poin mereka untuk nantinya bergabung dalam meja perundingan di Islamabad Pakistan. Itulah tadi pemirsa fakta-fakta jelang kemungkinan Amerika Serikat kembali berunding.

Kita tentu berharap dan mendorong resolusi perdamaian dapat diupayakan melalui jalur diplomatik tidak dengan rudal balistik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Perkuat Program Magang dan Pelatihan Vokasi
• 21 menit lalutvrinews.com
thumb
Laba Bersih Phapros (PEHA) Melejit 112,86% di Kuartal I/2026
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Selain Pendidikan, Menko AHY Sebut Pembangunan Sekolah Rakyat Gerakkan Ekonomi Lokal Kulon Progo
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Simak! Ini Bukti Pusri Konsisten Terapkan Praktik Keberlanjutan
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dihujani Kebahagiaan Usai Menikah dengan Haldy Sabri, Irish Bella: Ini Buah dari Kesabaran
• 1 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.