BOGOR,KOMPAS-Seni silat tradisi membutuhkan jurus ampuh untuk menghadapi masifnya pengaruh media sosial hingga masalah regenerasi. Sejauh ini, beragam ikhtiar diupayakan untuk mempertahankan tradisi ini terus hidup.
Masalah ini menjadi salah satu keresahan pelaku seni silat tradisi yang hadir dalam acara bertajuk Lebaran Jawara yang digelar di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (25/4/2026).
Keresahan itu, misalnya, diutarakan Ketua Umum Kampung Silat Jampang Daswara Sulanjana. Dia mengatakan, minat anak muda menekuni silat tradisi sangat kurang. "Mereka (anak muda) lebih tertarik untuk ikut seni bela diri dari luar negeri," ucap Daswara.
Minimnya minat itu tidak lepas dari masifnya informasi media sosial yang kerap mempertontonkan budaya luar negeri. Sebaliknya, budaya dari dalam negeri sendiri, termasuk silat, jarang terlihat.
Kondisi ini diperparah dengan kurang guyubnya antar sejumlah perguruan silat. "Mereka lebih mementingkan kelompoknya sendiri. Jika ada festival atau kejuaraan yang didahulukan dari perguruan mereka sendiri," ujarnya.
Oleh karena itu, sejak 12 tahun lalu, bersama Dompet Dhuafa, praktisi silat tradisi membentuk Komunitas Kampung Silat Jampang. Komunitas ini mewadahi 64 perguruan silat tradisional dari lima aliran. Empat aliran berasal dari Sunda dan satu lagi dari Betawi.
Untuk pencak silat tradisional Sunda (Maenpo) ada aliran Serak, Cimande, Cikalong dan Sabandar. Keempat aliran ini memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang terfokus pada pertahanan dan keindahan gerakan, ada pula yang menekankan pada penyerangan.
"Semua aliran memiliki ciri khas masing-masing," katanya.
Hanya saja, lanjut Daswara, kekayaan ini belum tersiarkan dengan baik. "Butuh regulasi yang melindungi kekayaan kebudayaan ini agar tidak tergerus budaya asing. Selain itu, pemerintah juga perlu memfasilitasi seni tradisional ini agar tidak mati suri," katanya.
Daswara mengakui jika selama ini, perguruan pencak silat tradisional di Jabar dan Jakarta bergerak swadaya. "Kami berkarya dengan dasar ikhlas. Dana dari kantong dan usaha sendiri," ucapnya.
Semua ini dilakukan agar pencak silat terutama di wilayah Jabar dan Jakarta tidak mati. "Semua kami lakukan demi melestarikan pencak silat," ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor Yudi Santosa mengakui kontribusi pemerintah daerah belum begitu terasa bagi komunitas pencak silat di wilayah Bogor. Karena itu, dia meminta semua perguruan di Bogor berkolaborasi ikut membangunnya.
Menurutnya, pencak silat bukan sekadar olahraga melainkan olah rasa yang secara langsung akan membentuk karakter positif para atletnya. "Kelebihan inilah yang tidak dimiliki oleh mereka yang bukan pesilat," ujarnya.
Untuk melestarikan pencak silat, ujar Yudi, pihaknya akan mulai berkoordinasi dengan seluruh sekolah di Kabupaten Bogor, baik negeri maupun swasta, untuk menggalakan muatan lokal tentang kebudayaan dan sejarah Bogor, termasuk memperkenalkan pencak silat.
Pemerintah juga akan mewajibkan sekolah untuk menggelar ekstrakulikuler unggulan terkait kebudayaan termasuk pencak silat.
"Kami telah membuka alun-alun Kabupaten Bogor di Cibinong untuk digunakan para pegiat budaya, termasuk pesilat, untuk mempertunjukan kreativitasnya," ungkap Yudi.
Dengan cara ini, Yudi berharap, banyak warga terutama generasi muda yang mengenal pencak silat dan tertarik untuk menggelutinya.
Pengurus GREAT Edunesia dari Dompet Dhuafa, Mulyadi Saputra berpendapat, agar perguruan pencak silat dapat berdiri kuat dan mandiri perlu ada pemberdayaan para pelestari budaya. "Program ini direalisasikan dalam bentuk pendampingan," ungkap Mulyadi.
Pendampingan itu seperti cara cara berorganisasi dan juga mengelola keuangan. "Masih ada perguruan yang belum mapan terutama dari sisi finansial. Ini yang harus dibenahi agar mereka dapat terus berkarya," ujar Mulyadi.
Di sisi lain, para pegiat harus dipastikan masa depannya. Karena itu, beasiswa pendidikan juga harus diberikan. Mulyadi pun menjamin anak dan anak didik pelatih dan pendekar bisa berkuliah gratis melalui beasiswa di kampus Budi Bakti milik Dompet Dhuafa dan kampus lain.
"Kami berikhtiar menjadikan silat sebagai ekstrakulikuler di setiap sekolah dengan pendekar atau pengajar di perguruan sebagai gurunya. Cara ini diharapkan dapat membuat silat naik level," ujar Mulyadi.
Staf Ahli Kementerian Kebudayaan Ismunandar menuturkan, tujuan pemerintah meloloskan pencak silat sebagai warisan budaya tak benda UNESCO, agar tidak punah sekaligus tetap digandrungi generasi muda.
"Kalau kita lihat masih ada generasi muda yang menampilkan seni bela diri pada acara ini. Saya berharap budaya pencak silat itu akan tetap lestari," ucapnya.
Menurut Ismunandar, cara lain mempopulerkannya bisa melalui film atau mengupayakan pencak silat masuk sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di olimpiade.
"Dengan diplomasi budaya dan pembudayaan yang dimulai dari hulu, harapannya pencak silat bisa lebih dicintai oleh anak bangsanya sendiri," ujar Ismunandar.





