jpnn.com, JAKARTA - Menjelang Kongres VII Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) akhir April 2026, kian ramai dengan bermunculannya nama-nama calon ketua umum.
Salah satu calon yang digadang-gadang maju oleh pengurus daerah, yaitu Michael Wattimena.
BACA JUGA: Pilkada Maluku 2024, Demokrat Usung Murad Ismail-Michael Wattimena
Michael Wattimena bersama anggota DPD RI Penrad Siagian siap maju sebagai calon Ketua Umum dan Sekjen periode 2026 - 20230.
Selain Michael Wattimena, ada nama calon Ketu Umum PIKI, di antaranya Badikenita Putri Sitepu (petahana), Audy Wuisan (Sekjend PIKI), Iwan Butarbutar.
BACA JUGA: Kabar Terbaru Kiprah dan Karier Eks Anggota DPR Michael Wattimena
Pemilihan ketua umum bertujuan untuk menentukan arah perjuangan intelektual cendekiawan Kristen dalam merespons isu-isu kebangsaan dari sebuah organisasi Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) yang berdiri sejak 19 Desember 1953.
Alasan Michael Wattimena maju dan merebut kursi nomor satu di PIKI tak lain dengan keinginannya organisasi itu menjadi lebih baik dan sebagai jembatan serta masukan pemerintah.
BACA JUGA: Ekspor 18 Ribu Ton Pisang, Michael Wattimena Puji Mentan
Menurutnya, organisasi intelektual Kristen tidak boleh lagi terjebak dalam rutinitas yang stagnan dan minim dampak.
Dia menyerukan perubahan mendasar agar PIKI bertransformasi menjadi kekuatan intelektual yang berani, progresif, dan relevan dengan kebutuhan zaman. "
"Dengan mengusung tema bertanding untuk bersanding melayani gereja, masyarakat dan negara, PIKI tidak boleh terus berjalan di tempat. Kita harus berani keluar dari zona nyaman dan menghadirkan solusi konkret bagi persoalan bangsa,” ujar politisi asal Kota Ambon.
Michael Wattimena mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demorkat dan saat ini aktif sebagai komisaris di PT Pertamina International Shipping (PIS) per Juli 2025, dan Tenaga Ahli Menteri ESDM, dan sebelumnya maju sebagai calon wakil gubernur Maluku bermimpi hanya satu periode bilamana nanti diberikan amanah duduk di kursi nomor satu PIKI.
Michael Wattimena menilai selama ini kontribusi intelektual PIKI dinilai belum maksimal terhadap pemerintah pusat. Di sisi lain belum bisa menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan kebangsaan.
Karena itu, kata Michael, PIKI harus berhenti menjadi sekadar ruang wacana, dan mulai mengambil peran sebagai motor penggerak perubahan.
“Tidak cukup hanya berkumpul dan berdiskusi. PIKI harus tampil memimpin, menawarkan solusi, dan menghadirkan dampak nyata,” ujarnya.
Dia juga menyoroti pemerintah dalam kondisi dunia saat ini adanya geopolitik yang tidak baik-baik saja. Bahkan, ada negara yang dinilai tidak bisa menghadapi geopolitik yang tidak menentu.
Namun, Michael memberikan apresiasi kepada pemerintah Prabowo Subianto yang bisa menghadapi geopolitik dunia. Begitu juga dalam menghadapi kenaikan minyak dunia.
"Hari ini pada kondisi dunia tidak baik-baik saja, terutama dengan kondisi geopolitik global. Namun, peran Presiden Prabowo dengan jajarannya dapat menghadapi semua persoalan tersebut, terutama ekonomi politik yang mengalami distorsi," paparnya.
"Selain itu, pemerintah sudah bisa swasembada beras dan di saat negara tetangga menaikkan harga BBM, pemerintah dapat mengondisikan harga BBM dengan baik-baik saja. Untuk itu, PIKI ke depan menjadi rumah para intelektual dan memberikan sumbangsih dan keilmuannya kepada pemerintah," tegas Michael Wattimena. (rhs/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Siapa Penyebar Video Hoaks Panglima Kopassus Tampar Seseorang di Istana?
Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti




