Birmingham, VIVA – Induk maskapai British Airways, yakni International Airlines Group (IAG), memberikan sinyal bahwa tarif penerbangan berpotensi naik akibat lonjakan harga bahan bakar. Peringatan ini muncul seiring dampak penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Tersendatnya lalu lintas tanker di kawasan tersebut mendorong harga minyak global melonjak, yang secara langsung berimbas pada biaya operasional maskapai.
Dalam pernyataannya, IAG mengakui bahwa pihaknya tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan krisis energi ini. Meski memiliki strategi lindung nilai bahan bakar, lonjakan harga avtur tetap berpotensi dibebankan kepada penumpang dalam bentuk kenaikan tarif tiket.
Situasi ini menjadi perhatian serius pemerintah Inggris. Otoritas setempat kini memantau ketersediaan bahan bakar secara ketat guna mengantisipasi potensi gangguan yang lebih luas pada sektor penerbangan.
- Reuters
Sebagai langkah mitigasi, regulator penerbangan di Inggris bahkan melonggarkan aturan slot di bandara. Kebijakan ini memungkinkan maskapai membatalkan penerbangan tanpa kehilangan hak slot lepas landas dan pendaratan jika terjadi kekurangan bahan bakar.
Di sisi lain, sejumlah maskapai seperti Jet2 menyatakan operasional mereka saat ini masih berjalan normal. Namun, pelaku industri memperingatkan kondisi ini bisa berubah dalam waktu dekat.
Jika krisis berlanjut, bukan hanya kenaikan harga tiket yang tak terhindarkan, tetapi juga potensi pembatalan penerbangan dalam beberapa pekan ke depan, situasi ini juga menjadi sinyal untuk bersiap menghadapi biaya perjalanan yang lebih mahal, terutama untuk rute internasional. (Ant)





