FAJAR, MAKASSAR — Ambisi besar tengah dibangun di Kota Makassar. Pemerintah kota tak ingin tertinggal dalam menghadirkan infrastruktur olahraga modern, terutama untuk mendukung kiprah PSM Makassar yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Proyek pembangunan Stadion Untia di Kecamatan Biringkanaya kini menjadi simbol keseriusan tersebut—sebuah langkah strategis untuk menghadirkan “rumah” baru yang representatif bagi Juku Eja.
Dengan total anggaran mencapai Rp350 miliar, proyek ini dirancang sebagai pembangunan multiyears yang ditargetkan rampung pada tahun 2027. Pemerintah Kota Makassar tampak tidak ingin setengah-setengah. Stadion ini bukan sekadar fasilitas olahraga, tetapi juga bagian dari visi jangka panjang dalam membangun identitas kota melalui sepak bola.
Kepala Bidang Prasarana dan Bangunan Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar, Suryadi, menegaskan bahwa alokasi anggaran tersebut telah dirancang secara bertahap. Untuk tahun 2026 saja, pemerintah telah menyiapkan Rp124 miliar yang difokuskan pada pekerjaan awal konstruksi. Tahap ini mencakup penimbunan lahan, pematangan tanah, hingga pembangunan struktur dasar—fondasi penting sebelum stadion benar-benar berdiri megah.
Pendekatan yang digunakan dalam proyek ini juga terbilang progresif. Pemerintah memilih metode design and build, sebuah sistem rancang bangun yang memungkinkan proses perencanaan dan konstruksi berjalan secara paralel. Dengan metode ini, waktu pengerjaan dapat dipangkas secara signifikan.
“Ketika sudah selesai tahap bawah, dia langsung bangun, bersamaan dengan itu lanjut ke tahap perencanaan berikutnya,” jelas Suryadi.
Strategi ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada hasil akhir, tetapi juga pada efisiensi proses. Dalam proyek infrastruktur berskala besar, kecepatan tanpa mengorbankan kualitas menjadi kunci utama.
Tahapan awal pembangunan akan difokuskan pada pekerjaan dasar seperti land clearing, penimbunan, dan pemancangan. Ini merupakan fase krusial yang sering kali menentukan kualitas keseluruhan bangunan. Tanah yang matang dan struktur dasar yang kuat akan menjadi fondasi bagi stadion yang diharapkan mampu bertahan dalam jangka panjang.
Proses pengadaan konstruksi sendiri dijadwalkan mulai pada awal Mei 2026. Dengan estimasi waktu tender selama satu hingga dua bulan, pemerintah berharap pemenang lelang sudah dapat ditetapkan sekitar Juli 2026. Menariknya, proses pemilihan kontraktor tidak hanya mengandalkan penawaran harga terendah.
Pemerintah akan menerapkan mekanisme beauty contest—sebuah pendekatan yang menilai kualitas desain serta kemampuan teknis peserta lelang. Artinya, proyek ini tidak sekadar mencari yang murah, tetapi yang terbaik secara keseluruhan.
“Belum tentu yang penawar terendah adalah pemenangnya, kita carilah yang optimal,” tegas Suryadi.
Pendekatan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa Pemerintah Kota Makassar ingin memastikan stadion yang dibangun memiliki standar tinggi, baik dari sisi estetika maupun fungsionalitas. Apalagi, stadion ini dirancang sebagai stadion tipe B dengan kapasitas yang cukup fleksibel.
Saat ini, kapasitas masih dalam tahap kajian, dengan rentang antara 10.000 hingga 30.000 penonton. Namun, target realistis yang dicanangkan berada di kisaran 15.000 hingga 20.000 kursi—angka yang dinilai ideal untuk kebutuhan kompetisi domestik sekaligus efisiensi anggaran.
Penyesuaian ini akan dilakukan melalui review pagu oleh konsultan manajemen konstruksi, guna memastikan desain yang diusulkan benar-benar sejalan dengan kemampuan finansial yang tersedia.
Langkah penting lainnya telah dilakukan dengan penandatanganan kontrak manajemen konstruksi bersama PT Ciriajasa Cipta Mandiri. Kontrak tersebut diteken pada 17 Maret 2026 melalui Dinas PU Kota Makassar, sekaligus menandai dimulainya fase awal pembangunan.
Surat Penunjukan Barang/Jasa (SPBJ) juga telah diterbitkan, memberikan dasar hukum bagi pelaksanaan proyek. Ini menjadi titik awal yang konkret setelah sebelumnya proyek hanya berada pada tahap perencanaan.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan optimismenya terhadap kelanjutan proyek ini. Ia menegaskan bahwa pembangunan fisik stadion dan penimbunan lahan akan segera dimulai pada pertengahan tahun 2026.
“Dengan adanya pemenang tender MK dan tanda tangan kontrak, maka pembangunan konstruksi fisik serta penimbunan lahan stadion bisa kita kerjakan secepatnya pertengahan tahun ini,” ujarnya.
Pembangunan Stadion Untia juga tidak bisa dilepaskan dari dinamika perkembangan stadion lain di Makassar, termasuk wacana Stadion Sudiang. Persaingan ini justru menjadi pemicu bagi pemerintah untuk menghadirkan fasilitas terbaik, agar tidak kalah dalam hal kualitas maupun kesiapan infrastruktur.
Bagi PSM Makassar, kehadiran stadion baru ini tentu akan menjadi angin segar. Selama ini, klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan tersebut kerap menghadapi tantangan terkait stadion kandang. Dengan adanya Stadion Untia, harapan untuk memiliki markas permanen yang modern dan layak semakin mendekati kenyataan.
Lebih dari itu, stadion ini juga berpotensi menjadi pusat kegiatan olahraga dan hiburan di Makassar. Tidak hanya untuk sepak bola, tetapi juga berbagai event lain yang dapat menggerakkan ekonomi lokal.
Pada akhirnya, proyek Stadion Untia bukan sekadar pembangunan fisik. Ini adalah investasi jangka panjang—sebuah upaya membangun masa depan olahraga di Makassar, sekaligus memperkuat identitas kota sebagai salah satu pusat sepak bola di Indonesia.
Jika semua berjalan sesuai rencana, maka pada 2027 nanti, Makassar tidak hanya memiliki stadion baru, tetapi juga simbol kebanggaan baru bagi warganya.





