Atalia Praratya Desak Pemerintah Jemput Bola Jaring Anak Jalanan Masuk Sekolah Rakyat

jpnn.com
23 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, meminta pemerintah untuk melakukan langkah proaktif atau jemput bola dalam menjaring anak jalanan sebagai calon peserta didik di Sekolah Rakyat.

Ia menegaskan bahwa program ini tidak boleh hanya bersifat parsial, melainkan harus dilakukan secara berkesinambungan.

BACA JUGA: Lampaui Target di Proyek Sekolah Rakyat, PT PP Berperan Nyata demi SDM & Ekonomi Lokal

Atalia menilai, mendatangi langsung titik-titik keberadaan anak jalanan merupakan wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin hak pendidikan setiap warga negara. Namun, ia mengingatkan agar fokus pemerintah tidak hanya berhenti pada tahap administratif.

"Langkah jemput bola ke titik-titik anak jalanan adalah bentuk kehadiran negara yang nyata. Tetapi, yang lebih penting adalah memastikan bahwa proses ini tidak berhenti pada pendataan dan rekrutmen awal, melainkan berlanjut pada pendampingan yang berkelanjutan," ujar Atalia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (26/10).

BACA JUGA: Momen Calon Siswa Sekolah Rakyat Menahan Tangis di Depan Teddy, Ini yang Terjadi

Atalia mengapresiasi upaya Kementerian Sosial dalam menjaring calon peserta didik Sekolah Rakyat dari wilayah jalanan dan pasar di Pejompongan, Jakarta, Pusat.

Menurut dia, upaya tersebut sebagai langkah progresif dalam memperluas akses pendidikan bagi kelompok rentan.

BACA JUGA: Brantas Abipraya Kebut Pembangunan Proyek Sekolah Rakyat

Berdasarkan data yang disampaikan, terdapat 77 anak yang teridentifikasi sebagai calon peserta didik tahun ajaran 2026/2027, dengan 29 di antaranya merupakan anak jalanan yang tidak bersekolah dan bekerja di sektor informal.

Dia menilai, pendekatan proaktif melalui penjangkauan langsung ke lapangan merupakan terobosan penting yang melengkapi mekanisme berbasis data seperti Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Secara nasional, data menunjukkan bahwa angka anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, jumlah ATS masih mencapai ratusan ribu anak usia sekolah, dengan konsentrasi tinggi di wilayah perkotaan padat dan kantong-kantong kemiskinan.

Anak jalanan menjadi kelompok paling rentan karena menghadapi hambatan multidimensi: ekonomi, sosial, hingga perlindungan.

Terkait hal itu, Atalia memberikan catatan kritis dan rekomendasi. Pertama, integrasi data dan validasi lapangan harus diperkuat.

Menurut dia, pendekatan kombinasi antara DTSEN dan verifikasi lapangan sudah tepat, namun perlu ada standar operasional yang jelas agar tidak terjadi bias atau eksklusi data.

"Validasi harus melibatkan pemerintah daerah, RT/RW, serta pekerja sosial yang memahami kondisi riil anak," ujarnya.

Kedua, pendekatan berbasis keluarga menjadi kunci. Dia mengatakan, banyak anak jalanan bekerja bukan semata pilihan, tetapi karena tekanan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, intervensi tidak cukup hanya pada anak, tetapi juga harus menyasar keluarga melalui bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi pengasuhan.

Ketiga, jaminan keberlanjutan pendidikan dan adaptasi sosial.

Dia menyebut, masuk ke Sekolah Rakyat bukan akhir dari proses, melainkan awal dari perjalanan panjang. Anak-anak dengan latar belakang jalanan membutuhkan pendampingan psikososial, penguatan karakter, serta kurikulum yang adaptif agar tidak mengalami dropout kembali.

Keempat, kolaborasi lintas sektor harus diperluas. Penanganan anak jalanan tidak bisa dilakukan oleh satu kementerian saja. Perlu sinergi antara Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat sipil yang memiliki pengalaman dalam pemberdayaan anak.

"Atas nama Komisi VIII DPR RI, kami akan terus mendorong agar program Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi program afirmatif jangka pendek, tetapi menjadi model kebijakan inklusif yang berkelanjutan dan terukur dampaknya," kata Atalia menegaskan.

Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan program ini harus diukur tidak hanya dari jumlah anak yang terjaring, tetapi dari berapa banyak yang mampu bertahan, berkembang, dan keluar dari siklus kerentanan.

Atalia mengingatkan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama atas pendidikan yang layak sebagaimana diamanatkan dalam konstitusi.

"Negara harus hadir tidak hanya untuk menemukan mereka yang tertinggal, tetapi juga memastikan mereka dapat melangkah maju dengan martabat dan masa depan yang lebih baik," kata Atalia.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PBB sampaikan duka cita mendalam atas gugurnya prajurit RI di Lebanon
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
100 Titik Sekolah Rakyat Dikebut, Mensos Targetkan Bangunan Permanen Rampung Juli 2026
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Viro Perluas Bisnis ke Properti Prefab, Bidik Ceruk Properti Premium
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Hadiri Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju, di Sela Pesta Santap Kari Laksa
• 26 menit laluokezone.com
thumb
Percepat Pembangunan Daerah, Gubernur Herman Deru Dorong Sinergi Perantau Sumbagsel
• 4 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.