Pantau - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan melakukan perundingan di bawah tekanan, ancaman, atau blokade di tengah upaya mediasi konflik dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam percakapan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Pezeshkian menilai dialog yang efektif harus dibangun dalam kondisi kondusif dan dilandasi rasa saling percaya.
Ia menyebut pengalaman negosiasi sebelumnya justru meningkatkan ketidakpercayaan publik Iran karena berlangsung di tengah tekanan dan sanksi.
Pezeshkian menegaskan penghentian sikap bermusuhan menjadi syarat utama dalam penyelesaian konflik.
Ia juga menuntut adanya jaminan bahwa tekanan serupa tidak akan kembali terjadi di masa depan.
Menurutnya, peningkatan kehadiran militer hanya akan memperumit situasi dan melemahkan peluang dialog.
Pernyataan ini muncul di tengah upaya Pakistan untuk kembali memediasi perundingan antara Iran dan Amerika Serikat.
Sebelumnya, perundingan yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Konflik kedua negara bermula dari eskalasi pada 28 Februari yang memicu ketegangan di kawasan.
Kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan mediasi Pakistan.
Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Donald Trump.
Upaya diplomasi internasional masih terus dilakukan untuk membuka kembali jalur perundingan antara kedua negara.




