Pantau - Program magang nasional dinilai mampu membantu meredam ketegangan sosial di kalangan generasi muda akibat sulitnya akses ke dunia kerja.
Pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Gadjah Mada Tadjudin Nur Effendi menyebut program ini sebagai bentuk investasi sosial dalam pengembangan sumber daya manusia.
"Dari sudut pandang investasi sosial, tidak ada sarjana yang terbuang. Mereka dididik, lulus, nggak nganggur karena magang, kemudian diterima (jadi pegawai), itu berarti investasi sosial di bidang sumber daya manusia," ungkapnya.
Program ini dinilai dapat menekan keresahan generasi muda yang belakangan muncul di media sosial.
Keresahan tersebut tercermin dari munculnya berbagai tagar seperti Indonesia Gelap dan KaburAjaDulu.
"Jadi, kalau ini (keresahan generasi muda) bisa ditangani dengan baik, maka kritik-kritik seperti itu, kegelisahan sosial gen Z, itu kan bisa diturunkan," jelasnya.
Program magang nasional juga menjadi solusi bagi lulusan baru untuk mendapatkan pengalaman kerja.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli telah menutup Program Magang Nasional 2025 Tahap I yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga April 2026.
Pemerintah masih menghitung jumlah peserta yang direkrut perusahaan setelah program selesai.
Program ini melibatkan 1.185 perusahaan dan 5.267 mentor.
Total peserta yang lolos seleksi mencapai 16.112 orang dengan sekitar 11.949 peserta aktif.
Peserta yang menyelesaikan program selama enam bulan akan memperoleh sertifikat magang, sementara yang kurang dari enam bulan mendapatkan surat keterangan.




