Penulis: Harry Rahmadani
TVRINews, Subang
Kenaikan harga gas elpiji non-subsidi yang terus terjadi mulai berdampak serius pada pelaku usaha kecil, khususnya di wilayah Pantura Subang, Jawa Barat. Para pengrajin ikan asin kini harus mencari cara agar tetap bertahan, salah satunya dengan kembali menggunakan kayu bakar sebagai bahan utama produksi.
Situasi ini terlihat di sentra pengolahan ikan rebus Muara Ciasem, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, pada Minggu, 26 April 2026. Di mana, tungku-tungku tradisional yang sebelumnya mulai ditinggalkan kini kembali digunakan. Asap tebal pun tampak mengepul dari area produksi, menandakan aktivitas pengolahan yang kembali ke cara lama.
Para pengusaha kecil mengaku lonjakan harga gas non-subsidi membuat biaya operasional meningkat tajam. Kondisi ini semakin sulit karena harga jual ikan asin di pasaran tidak mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga margin keuntungan semakin tergerus.
“Harga jual ikan asin di pasaran saat ini relatif stabil, tidak ikut naik. Jadi, kalau biaya produksi (gas) naik terus, sudah tidak sebanding lagi. Pilihannya hanya berhenti produksi atau cari cara lain,” ujar Imam Alfarizi, salah satu pengrajin ikan rebus setempat.
Sebagai langkah bertahan, kayu bakar dipilih menjadi alternatif utama. Meski prosesnya lebih lama dan membutuhkan tenaga ekstra, cara ini dinilai jauh lebih ekonomis.
Para pengrajin menyebut penggunaan kayu bakar mampu memangkas biaya operasional hingga sekitar 50 persen dibandingkan menggunakan gas.
Di tengah kondisi tersebut, para pelaku usaha di pesisir utara Subang berharap adanya perhatian dari pemerintah, terutama terkait kebijakan harga energi.
Mereka menilai dukungan sangat dibutuhkan agar usaha pengolahan ikan tradisional yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir tetap bisa berjalan dan tidak tergerus tekanan ekonomi.
Editor: Redaksi TVRINews





