Kota Padang (ANTARA) - Latifa Syafvina Putri Zuhrizal, remaja berusia 15 tahun asal Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), tidak pernah menyangka dirinya berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji di usia yang terbilang begitu muda.
Di saat ribuan, bahkan jutaan orang di Indonesia harus menunggu antrean haji, hingga puluhan tahun, ia malah mendapatkan sebuah "keistimewaan". Latifa bukanlah anak pejabat ataupun konglomerat, melainkan lahir dari keluarga sederhana di salah satu sudut Kota Padang. Sehari-hari, ibunya berjualan kerupuk cabai. Sementara ayah Latifa telah meninggal dunia pada 2021.
Tak disangka, kepergian orang tua laki-lakinya menghadap Sang Pencipta, lima tahun silam, ternyata menjadi permulaan dari perjalanan spiritual Latifa.
Kematian sang ayah tercinta yang bernama Zuhrizal sejatinya menjadi pukulan telak bagi Latifa yang masih berusia belia. Padahal, sebelum berpulang, ayahnya tercatat sebagai calon jamaah haji yang dijadwalkan berangkat bersama sang istri pada 2023.
Dua tahun usai kepergian ayahnya, pihak keluarga bermufakat serta memutuskan agar kuota haji atas nama almarhum dialihkan kepada Latifa. Namun, rencana itu buyar, setelah mengetahui salah satu syarat untuk menunaikan ibadah haji, saat itu ialah minimal berusia 18 tahun, sementara Latifa tidak memenuhi persyaratan tersebut.
"Dulu, pada 2023 memang sempat ingin naik haji, tapi waktu itu umur saya belum cukup," kata Lala, sapaan akrabnya.
Panggilan spiritual itu akhirnya tiba pada musim haji 1447 Hijriah, seiring dengan adanya perubahan usia minimum bagi jamaah calon haji dalam aturan yang dikeluarkan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Lala resmi tercatat sebagai calon haji asal Kota Padang yang tergabung pada kelompok terbang (kloter) pertama. Ia sekaligus menjadi calon jamaah haji termuda dari Sumbar yang diberangkatkan pada musim haji 2026 berdasarkan catatan dari Kantor Wilayah Kemenhaj provinsi setempat.
Sebelum bertolak ke Tanah suci, Lala bercerita bahwa ia tidak pernah menyangka akan menunaikan rukun islam kelima itu bersama ibundanya. Ia bahkan telah mengikhlaskan kuota almarhum sang ayah agar diisi oleh saudaranya yang lain, usai gagal berangkat pada 2023.
Menurut dia, terdapat beberapa pertimbangan, sebelum memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji tahun ini. Mulanya, ia mendorong agar kakak keduanya yang berangkat haji. Hal ini dikarenakan saudaranya lebih mengerti tentang sikap dan kepribadian sang ibu.
Akan tetapi, ketiga saudaranya kembali bersepakat bahwa si bungsulah yang lebih tepat untuk berangkat haji bersama orang tuanya. Meskipun ada rasa haru yang tak bisa disembunyikan, Lala tetap menyimpan kesedihan, sebelum bertolak ke tanah suci.
Di lubuk hatinya, Lala masih kerap membayangkan bahwa seharusnya ayahnyalah yang berangkat haji bersama sang ibu. Namun, takdir telah ditetapkan, di mana Tuhan memilihnya untuk mendampingi ibunda menatap Ka'bah.
"Aku bersyukur diberikan kesempatan sebesar ini sama Allah," ucapnya.
Meskipun masih tergolong sangat muda, ia mengaku sudah melakukan sejumlah persiapan, sebelum menunaikan ibadah haji. Selain rutin berolahraga, seperti joging bersama ibunya, ia juga melihat serta mempelajari rangkaian ibadah haji melalui berbagai platform digital.
Tak hanya itu, ia juga mendapatkan pemahaman dari ibunda terkait kondisi Makkah dan Madinah, sebab, sebelumnya sang ibu pernah menunaikan ibadah umrah.
"Aku juga banyak mencari informasi tentang ibadah haji melalui sosial media. Jadi, lumayan mendapatkan pemahaman sebelum berangkat," ujar dia.
Di sisi lain, terkait kondisi di kawasan Timur Tengah yang kini belum stabil imbas konflik antara Amerika-Israel yang berperang melawan Iran, Lala mengakui terdapat kecemasan tersendiri. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat dan tekadnya untuk memenuhi panggilan Allah.
"Ya, aku sempat khawatir. Tapi menurut aku haji ini kan panggilan dari Allah, jadi aku yakin Allah sudah mengatur semuanya," kata dia.
Ia menganalogikan bahwa setiap orang yang menunaikan ibadah haji ibarat tamu yang diundang untuk datang ke sebuah rumah oleh pemiliknya. Ia meyakini tamu yang diharapkan kehadirannya tentu akan memperoleh perlindungan dalam perjalanannya.
Kendati demikian, apabila dalam menjalankan ibadah haji terjadi perang, ia mempercayai bahwa Tuhan memiliki skenario terbaik terhadap umatnya yang berserah diri. Bagi Lala, situasi yang tengah terjadi di Timur Tengah menjadi ujian bagi manusia untuk terus menyiapkan diri agar menjadi lebih baik.
"Terus terang aku takut, tapi aku serahkan ke Allah karena itu sesuatu yang tidak bisa aku kontrol," ujarnya.
Sebagai calon haji termuda asal Ranah Minang, ia berpesan ibadah haji tidak selalu harus menunggu di usia senja. Adakalanya takdir memilih seseorang untuk berangkat lebih cepat, bahkan di usia yang sangat belia sekalipun.
"Kalau misalnya ada kesempatan untuk berangkat haji selagi muda, manfaatkanlah sebaik mungkin," saran dia.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kemenhaj Sumbar M Rifki mengatakan Latifa Syafvina Putri Zuhrizal merupakan calon haji termuda asal Kota Padang yang bertolak ke tanah suci pada Jumat (24/4) pukul 01.05 WIB.
Rifki menjelaskan Latifa merupakan calon haji yang berangkat karena menggantikan orang tua laki-lakinya yang wafat pada 2021. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Ibadah Haji dan Umrah, membolehkan penggantian keberangkatan calon haji, minimal berusia 13 tahun.
Artinya, ketika seorang calon haji wafat, maka bisa digantikan anggota keluarga dengan syarat berusia minimal 13 tahun. Oleh karena itu, ia menegaskan yang bersangkutan sudah memenuhi ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Terpisah, anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Harry Alexander menjelaskan pentingnya mendaftarkan diri sebagai calon haji sejak muda.
Berdasarkan data BPKH 2024, sekitar 75 persen pendaftar haji Indonesia sudah berada di usia 40 tahun. Artinya, dengan daftar tunggu hingga 26 tahun, saat ini, maka mereka baru bisa menunaikan ibadah haji di usia mendekati 70 tahun. Padahal, ibadah haji tidak hanya tentang nilai-nilai spiritual, tetapi sangat erat kaitannya dengan ibadah fisik.
Oleh karena itu, BPKH menyarankan masyarakat atau mahasiswa yang baru lulus dari bangku perkuliahan agar segera mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji dengan catatan memiliki kesanggupan dari sisi finansial maupun fisik.
BPKH menilai dengan membangun calon haji muda sejak kini, maka dapat meningkatkan citra positif Indonesia di mata internasional. Apalagi, dalam satu penerbangan juga terdapat beberapa pertimbangan, salah satunya manajemen risiko, di mana kelompok lanjut usia (lansia) tidak boleh terlalu banyak.
Di saat ribuan, bahkan jutaan orang di Indonesia harus menunggu antrean haji, hingga puluhan tahun, ia malah mendapatkan sebuah "keistimewaan". Latifa bukanlah anak pejabat ataupun konglomerat, melainkan lahir dari keluarga sederhana di salah satu sudut Kota Padang. Sehari-hari, ibunya berjualan kerupuk cabai. Sementara ayah Latifa telah meninggal dunia pada 2021.
Tak disangka, kepergian orang tua laki-lakinya menghadap Sang Pencipta, lima tahun silam, ternyata menjadi permulaan dari perjalanan spiritual Latifa.
Kematian sang ayah tercinta yang bernama Zuhrizal sejatinya menjadi pukulan telak bagi Latifa yang masih berusia belia. Padahal, sebelum berpulang, ayahnya tercatat sebagai calon jamaah haji yang dijadwalkan berangkat bersama sang istri pada 2023.
Dua tahun usai kepergian ayahnya, pihak keluarga bermufakat serta memutuskan agar kuota haji atas nama almarhum dialihkan kepada Latifa. Namun, rencana itu buyar, setelah mengetahui salah satu syarat untuk menunaikan ibadah haji, saat itu ialah minimal berusia 18 tahun, sementara Latifa tidak memenuhi persyaratan tersebut.
"Dulu, pada 2023 memang sempat ingin naik haji, tapi waktu itu umur saya belum cukup," kata Lala, sapaan akrabnya.
Panggilan spiritual itu akhirnya tiba pada musim haji 1447 Hijriah, seiring dengan adanya perubahan usia minimum bagi jamaah calon haji dalam aturan yang dikeluarkan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Lala resmi tercatat sebagai calon haji asal Kota Padang yang tergabung pada kelompok terbang (kloter) pertama. Ia sekaligus menjadi calon jamaah haji termuda dari Sumbar yang diberangkatkan pada musim haji 2026 berdasarkan catatan dari Kantor Wilayah Kemenhaj provinsi setempat.
Sebelum bertolak ke Tanah suci, Lala bercerita bahwa ia tidak pernah menyangka akan menunaikan rukun islam kelima itu bersama ibundanya. Ia bahkan telah mengikhlaskan kuota almarhum sang ayah agar diisi oleh saudaranya yang lain, usai gagal berangkat pada 2023.
Menurut dia, terdapat beberapa pertimbangan, sebelum memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji tahun ini. Mulanya, ia mendorong agar kakak keduanya yang berangkat haji. Hal ini dikarenakan saudaranya lebih mengerti tentang sikap dan kepribadian sang ibu.
Akan tetapi, ketiga saudaranya kembali bersepakat bahwa si bungsulah yang lebih tepat untuk berangkat haji bersama orang tuanya. Meskipun ada rasa haru yang tak bisa disembunyikan, Lala tetap menyimpan kesedihan, sebelum bertolak ke tanah suci.
Di lubuk hatinya, Lala masih kerap membayangkan bahwa seharusnya ayahnyalah yang berangkat haji bersama sang ibu. Namun, takdir telah ditetapkan, di mana Tuhan memilihnya untuk mendampingi ibunda menatap Ka'bah.
"Aku bersyukur diberikan kesempatan sebesar ini sama Allah," ucapnya.
Meskipun masih tergolong sangat muda, ia mengaku sudah melakukan sejumlah persiapan, sebelum menunaikan ibadah haji. Selain rutin berolahraga, seperti joging bersama ibunya, ia juga melihat serta mempelajari rangkaian ibadah haji melalui berbagai platform digital.
Tak hanya itu, ia juga mendapatkan pemahaman dari ibunda terkait kondisi Makkah dan Madinah, sebab, sebelumnya sang ibu pernah menunaikan ibadah umrah.
"Aku juga banyak mencari informasi tentang ibadah haji melalui sosial media. Jadi, lumayan mendapatkan pemahaman sebelum berangkat," ujar dia.
Di sisi lain, terkait kondisi di kawasan Timur Tengah yang kini belum stabil imbas konflik antara Amerika-Israel yang berperang melawan Iran, Lala mengakui terdapat kecemasan tersendiri. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat dan tekadnya untuk memenuhi panggilan Allah.
"Ya, aku sempat khawatir. Tapi menurut aku haji ini kan panggilan dari Allah, jadi aku yakin Allah sudah mengatur semuanya," kata dia.
Ia menganalogikan bahwa setiap orang yang menunaikan ibadah haji ibarat tamu yang diundang untuk datang ke sebuah rumah oleh pemiliknya. Ia meyakini tamu yang diharapkan kehadirannya tentu akan memperoleh perlindungan dalam perjalanannya.
Kendati demikian, apabila dalam menjalankan ibadah haji terjadi perang, ia mempercayai bahwa Tuhan memiliki skenario terbaik terhadap umatnya yang berserah diri. Bagi Lala, situasi yang tengah terjadi di Timur Tengah menjadi ujian bagi manusia untuk terus menyiapkan diri agar menjadi lebih baik.
"Terus terang aku takut, tapi aku serahkan ke Allah karena itu sesuatu yang tidak bisa aku kontrol," ujarnya.
Sebagai calon haji termuda asal Ranah Minang, ia berpesan ibadah haji tidak selalu harus menunggu di usia senja. Adakalanya takdir memilih seseorang untuk berangkat lebih cepat, bahkan di usia yang sangat belia sekalipun.
"Kalau misalnya ada kesempatan untuk berangkat haji selagi muda, manfaatkanlah sebaik mungkin," saran dia.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kemenhaj Sumbar M Rifki mengatakan Latifa Syafvina Putri Zuhrizal merupakan calon haji termuda asal Kota Padang yang bertolak ke tanah suci pada Jumat (24/4) pukul 01.05 WIB.
Rifki menjelaskan Latifa merupakan calon haji yang berangkat karena menggantikan orang tua laki-lakinya yang wafat pada 2021. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Ibadah Haji dan Umrah, membolehkan penggantian keberangkatan calon haji, minimal berusia 13 tahun.
Artinya, ketika seorang calon haji wafat, maka bisa digantikan anggota keluarga dengan syarat berusia minimal 13 tahun. Oleh karena itu, ia menegaskan yang bersangkutan sudah memenuhi ketentuan yang ditetapkan pemerintah.
Terpisah, anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Harry Alexander menjelaskan pentingnya mendaftarkan diri sebagai calon haji sejak muda.
Berdasarkan data BPKH 2024, sekitar 75 persen pendaftar haji Indonesia sudah berada di usia 40 tahun. Artinya, dengan daftar tunggu hingga 26 tahun, saat ini, maka mereka baru bisa menunaikan ibadah haji di usia mendekati 70 tahun. Padahal, ibadah haji tidak hanya tentang nilai-nilai spiritual, tetapi sangat erat kaitannya dengan ibadah fisik.
Oleh karena itu, BPKH menyarankan masyarakat atau mahasiswa yang baru lulus dari bangku perkuliahan agar segera mendaftarkan diri sebagai calon jamaah haji dengan catatan memiliki kesanggupan dari sisi finansial maupun fisik.
BPKH menilai dengan membangun calon haji muda sejak kini, maka dapat meningkatkan citra positif Indonesia di mata internasional. Apalagi, dalam satu penerbangan juga terdapat beberapa pertimbangan, salah satunya manajemen risiko, di mana kelompok lanjut usia (lansia) tidak boleh terlalu banyak.





