FAJAR, PANGKEP— Masyarakat dan pemerhati sejarah di Segeri Kabupaten Pangkep menggelar kegiatan napak tilas leluhur yang berlangsung pada Jumat, 25 April 2026 di Rumah Arajang Segeri Kabupaten Pangkep.
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam menghidupkan kembali ingatan kolektif keluarga besar I Bangkailong Daeng Parani terhadap tokoh-tokoh leluhur.
Kegiatan ini juga dihadiri beberapa tokoh penting seperti; Irjen Pol. Faizal Thayeb, S.I.K., M.H selaku dewan Penasehat Keluarga, Putera Mahkota Kerajaan Gowa Andi Muhammad Imam Daeng Situju Bin Andi Kumala Idjo dan juga Wakil Bupati Abd. Rahman Assagaf dari unsur Pemkab Pangkep.
Rangkaian acara diisi dengan prosesi adat, doa bersama, serta penelusuran simbolik jejak sejarah yang menghubungkan situs makam dengan pusat adat setempat.
Salah satu sorotan utama dalam kegiatan tersebut adalah penampilan para Bissu Segeri yang mempertunjukkan ritual tradisional khas mereka yang dinamakan Ma’girri.
Kehadiran Bissu tidak hanya memperkuat nuansa sakral acara, tetapi juga menjadi representasi keberlanjutan tradisi lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Pangkep hingga saat ini
Para Bissu menampilkan prosesi adat yang sarat makna simbolik, mencerminkan hubungan antara dunia spiritual dan sejarah leluhur.
Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat Segeri, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti dan pengunjung yang ingin memahami warisan budaya Bugis secara lebih mendalam.
Humas Kegiatan Napak Tilas, Andi Patunruang menuturkan jejak sejarah Sulsel kembali mengemuka melalui kisah makam seorang tokoh penting yang memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik dan militer abad ke-18. Ia adalah Bangkailong Daeng Parani, yang juga dikenal sebagai Arung Bulukumba.
Bangkailong menjabat sejak tahun 1780 Masehi atas persetujuan Raja Bone ke 23, I Bangkailong Daeng Parani disebut berada di wilayah Segeri atas perintah Raja Bone pada tahun 1793 Masehi.
Dalam perkembangan kajian sejarah, kata dia, tokoh ini turut dikaitkan erat dengan konflik besar antara Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Bone pada masa pemerintahan Raja Bone La Tenritappu Toappaliweng.
Perang yang melibatkan Addatuang Sidenreng dan Bone ini dikenal sebagai salah satu konflik internal berdarah dalam sejarah kawasan Ajatappareng pada abad ke-18.
Menurutnya, berdasarkan catatan harian Raja Bone ke-23, konflik tersebut digambarkan sebagai perang saudara yang menelan korban jiwa dalam jumlah besar, baik dari pihak Sidenreng maupun Kerajaan Bone itu sendiri.
Situasi ini mencerminkan kerasnya perebutan pengaruh dan rapuhnya aliansi politik antarbangsawan Bugis pada masa itu.
Dalam konteks inilah, disebutkan bahwa I Bangkailong Daeng Parani wafat di tengah berkecamuknya perang tersebut. Kematian tokoh ini menjadi salah satu penanda penting betapa luasnya dampak konflik, yang tidak hanya melibatkan pasukan, tetapi juga menyentuh kalangan elite bangsawan dan pemimpin wilayah kala itu.
“Sejumlah peneliti menilai bahwa wafatnya I Bangkailong Daeng Parani dalam situasi perang saudara memperkuat dugaan bahwa ia memiliki peran aktif, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam dinamika konflik tersebut,” ujarnya.
Namun demikian, detail posisi dan keterlibatannya masih memerlukan kajian lebih lanjut melalui sumber-sumber arsip, termasuk catatan VOC dan tradisi lokal yang berkembang di masyarakat.
“Kami selaku keluarga besar I Bangkailong Daeng Parani menegaskan bahwa penguatan narasi sejarah terkait Daeng Parani tetap memerlukan verifikasi berbasis arsip dan pendekatan ilmiah,” jelas dia.
Namun demikian, kata dia, perpaduan antara catatan sejarah, situs makam, dan praktik budaya seperti tema acara ini menunjukkan bahwa sejarah hidup tidak hanya dalam dokumen, tetapi juga dalam ingatan kolektif masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (*)





