Dampak Berantai Kenaikan Harga Elpiji bagi  Rumah Tangga

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Lonjakan harga gas Elpiji nonsubsidi kini menjadi beban tambahan yang signifikan bagi ketahanan ekonomi keluarga di berbagai wilayah Indonesia. Kenaikan ini memicu kekhawatiran meluas karena sifat gas sebagai kebutuhan pokok yang tidak terelakkan, sehingga berdampak langsung pada meningkatnya biaya operasional rumah tangga.

Kondisi tersebut memaksa masyarakat untuk memutar otak dalam mengelola anggaran bulanan, mulai dari memangkas pengeluaran rutin hingga berharap adanya intervensi kebijakan dari pemerintah untuk menstabilkan harga pasar.

Di sisi lain, perubahan harga ini memicu kekhawatiran akan terjadinya pergeseran pola konsumsi yang tidak sehat di tingkat bawah. Masyarakat mengkhawatirkan adanya migrasi besar-besaran pengguna gas nonsubsidi ke gas bersubsidi yang berisiko menyebabkan kelangkaan stok serta lonjakan harga pada varian gas melon.

Dalam situasi yang kian mendesak, sebagian warga bahkan mulai mempertimbangkan opsi ekstrem dengan melirik bahan bakar alternatif manual demi menyiasati pengeluaran yang terus membengkak tanpa diimbangi oleh peningkatan pendapatan.

Kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram (kg) pun dialami oleh keluarga Yohanes Abimanyu (40), warga Cipayung, Jakarta Timur. Bagi keluarganya, kenaikan harga tersebut sangat berpengaruh, terutama terhadap kebutuhan sehari-hari.

”Pastinya akan berdampak kepada kebutuhan sehari-hari yang ikut naik. Kalau semua harga naik, kebutuhan rumah tangga pasti akan naik. Jadi, setiap bulannya kita harus menghemat pengeluaran operasional. Kami berharap pemerintah bisa menurunkan harga gas elpiji lagi,” ujarnya saat dihubungi pada Sabtu (25/4/2026).

Sementara itu, Dewi J Domitila, warga Sintang, Kalimantan Barat menilai kenaikan harga gas tentu akan merepotkan warga. Urusan dapur rumah tangga akan berpengaruh karena gas merupakan kebutuhan pokok.

”Kalau kebutuhan pokok naik pasti sangat memberatkan. Tapi bagaimana pun kondisinya, karena gas sudah jadi kebutuhan pokok, ya, akan tetap dibeli,” katanya.

Ia mengkhawatirkan, jika tabung gas bright dan tabung biru naik, warga akan semakin banyak beralih ke tabung gas melon 3 kg. Akhirnya, stok tabung gas melon menjadi terbatas karena permintaan tinggi sehingga akan ikut naik juga harganya. 

”Saya perlu memikirkan alternatif jika semua jenis tabung gas naik dan susah didapatkan karena langka. Saya mungkin akan beralih ke kompor dari minyak oli bekas. Atau mau enggak mau pakai kayu bakar,” ujar Dewi.

Menurut saya, kenaikan harga Elpiji 12 kg terasa sangat memberatkan, apalagi di tengah naiknya berbagai kebutuhan pokok. Sehingga harga makanan ikut naik dan daya beli menurun.

Dampaknya saya harus lebih berhemat karena pengeluaran meningkat, sementara pendapatan tidak bertambah. Jika biaya hidup terus naik seperti ini, pasti akan makin menyulitkan pengelolaan keuangan rumah tangga

Saya berharap pemerintah segera mengatasi kondisi ini agar tidak terus membebani masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
8 Rumah Terbakar di Jambi, 1 Lansia Meninggal Akibat Terjebak | KOMPAS SIANG
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Peringatan Hari KI, Menkum ajak industri olahraga daftarkan HaKI
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
BMKG prakirakan sebagian besar Jakarta cerah berawan di Minggu pagi
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
SMANEST Got Talent 2026 Jadi Wadah Potensi dan Prestasi Pelajar SMP/MTs
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Layanan Kesehatan Gratis, Warga di Jakarta Barat Padati Vihara Hemadhiro Mettavati
• 24 menit lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.