DRMA Optimalkan Rantai Pasok, Redam Dampak Perang ke Industri Komponen

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten komponen otomotif milik konglomerat TP Rachmat, PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA) menyiapkan sejumlah strategi menghadapi tekanan pasar domestik serta ketidakpastian geopolitik global terhadap industri komponen otomotif. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan efisiensi operasional.

Presiden Direktur DRMA Irianto Santoso mengatakan, tantangan utama yang membayangi pasar komponen otomotif tahun ini lebih banyak berasal dari perang dan perang dagang melalui kebijakan tarif, yang berpotensi memengaruhi harga serta ketersediaan material dan bahan pendukung lainnya.

"Kenaikan harga-harga tentunya akan berdampak negatif pada daya beli masyarakat. Apabila perang terus berlanjut lama, maka tentunya akan berdampak juga pada rantai pasok, yaitu kelangkaan material dan bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi kendaraan," ujar Irianto kepada Bisnis, dikutip Minggu (26/4/2026).

Alhasil, beberapa langkah mitigasi yang ditempuh DRMA antara lain meningkatkan efisiensi operasional, mengoptimalkan rantai pasok, serta menjaga fleksibilitas produksi agar tetap adaptif terhadap fluktuasi permintaan.

Selain itu, perseroan terus memperkuat diversifikasi portofolio produk, termasuk pengembangan komponen kendaraan listrik, guna mengurangi ketergantungan terhadap segmen tertentu dan menjaga kinerja tetap resilien di tengah dinamika global.

"Tentunya perseroan juga berharap adanya kebijakan pemerintah yang dapat memberikan perlakuan yang adil [fair treatment] bagi seluruh pelaku industri, sehingga dapat menciptakan ekosistem otomotif yang lebih sehat dan berkelanjutan," pungkas Irianto.

Baca Juga

  • Rupiah Dekati Rp17.300 per Dolar AS, Daya Beli Otomotif Berisiko Kian Tertekan
  • Komponen Otomotif Tertekan Krisis Nafta, Pengusaha Putar Otak Jaga Margin
  • Penjualan Otomotif Awal Tahun Dorong Kenaikan Premi Asuransi Kendaraan Bermotor

Ekspor Komponen

Sementara itu, Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmat Basuki mengatakan, sejauh ini, hanya kinerja ekspor yang masih menopang kelangsungan usaha industri komponen otomotif nasional.

Sebagai catatan, total nilai ekspor komponen otomotif pada 2025 tembus US$7,5 miliar atau sekitar Rp125,8 triliun. Nilai itu naik dari tahun lalu yang di kisaran US$7 miliar.

Sejumlah negara yang menjadi pasar ekspor terbesar komponen otomotif buatan Indonesia yaitu Jepang, Amerika Serikat (AS), Malaysia dan Korea Selatan. 

Kendati demikian, saat ini pasar ekspor juga menghadapi tantangan seiring gejolak geopolitik yang mengakibatkan kenaikan harga minyak mentah Brent melampaui US$100 per barel, serta lonjakan harga bahan baku plastik yang dipicu memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Oleh sebab itu, GIAMM berharap pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap industri komponen otomotif, salah satunya yaitu insentif untuk mendongkrak kinerja ekspor.

"Intinya, kalau mengandalkan pertumbuhan pasar domestik susah, karena bertahun-tahun stagnan cenderung turun, mau tidak mau harus ekspor. Nah, agar ekspor bertumbuh, harapan kami pemerintah mau kasih insentif, baik fiskal maupun non-fiskal," ujar Basuki kepada Bisnis, dikutip Minggu (26/4/2026).

Lebih lanjut, dia mengatakan persoalan utama industri komponen saat ini adalah tingkat utilisasi pabrik yang masih berada di kisaran 60%. Hal itu dipicu oleh penurunan permintaan kendaraan di pasar domestik dalam empat tahun terakhir.

Tekanan tersebut semakin berat dengan meningkatnya impor kendaraan listrik utuh (completely built-up/CBU), sehingga ruang pasar bagi produsen komponen dalam negeri menjadi semakin terbatas.

“Untuk menjaga daya saing, karena mayoritas anggota GIAMM memasok ke OEM dan harga jual belum mengalami penyesuaian, pelaku industri melakukan sejumlah efisiensi internal, seperti pengurangan lembur, efisiensi energi, dan langkah lainnya,” pungkas Basuki.

Tekanan Daya Beli Pasar Otomotif

Di lain sisi, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) pun mengakui bahwa sektor otomotif masih menghadapi tantangan permintaan dalam beberapa tahun terakhir, sejalan dengan lemahnya daya beli masyarakat.

"[Pasar] masih tertekan, daya beli masyarakat masih lemah," ujar Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto kepada Bisnis, dikutip Minggu (26/4/2026).

Mengacu data Gaikindo, distribusi mobil secara wholesales sepanjang Januari—Maret 2026 mencatat pertumbuhan terbatas sebesar 1,7% yoy menjadi 209.021 unit, dibandingkan 205.539 unit pada periode sama tahun lalu.

Sementara itu, penjualan ritel pada 3 bulan pertama 2026 mencapai 211.905 unit atau hanya naik 0,5% dibandingkan 210.766 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Terlebih, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian melemah mendekati level Rp17.300 akibat gejolak geopolitik, sehingga dikhawatirkan kian berdampak ke daya beli masyarakat, termasuk sektor otomotif.

Meskipun demikian, Gaikindo menyambut positif keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21–22 April 2026.

Jongkie menuturkan, pelaku industri berharap level suku bunga acuan dapat dipertahankan lebih lama agar penjualan kendaraan bermotor berangsur pulih di tengah kondisi pasar yang masih stagnan pada kuartal I/2026.

"Kami harapkan agar suku bunga acuan bisa bertahan agak lama sehingga suku bunga kredit kendaraan bermotor juga tidak naik," jelasnya. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Atletico Madrid Sudahi Tren Kekalahan Beruntun, Tekuk Bilbao 3-2
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ketua MPR Ahmad Muzani Buka Kontes Sapi di Wonosobo: Peternak Sejahtera, RI Makmur
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Andra Soni Bakal Bantu Suku Baduy Jalani Ritual Menjaga Alam di Ujung Kulon
• 18 jam laludetik.com
thumb
Kolaborasi Lintas Sektor di Riau Dipertegas untuk Lindungi Generasi dari Narkoba
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PLN dukung percepatan PSEL di Bali dan Jabar untuk atasi krisis sampah
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.